UNTUK INDONESIA
HUT RI di Mata Mantan Napi Bom Bali Asal Yogyakarta
Jack Harun, mantan napi teroris Bom Bali I, asal Kulon Progo, Yogyakarta, berbagi kisah saat HUT RI ke-75 ini. Berikut kisahnya.
Joko Triharmanto alias Jack Harun (memegang microphone) saat memberikan ceramah di sebuah masjid di Kotagede Kota Jogja, beberapa waktu lalu. (Foto: Tagar/Gading Persada)

Yogyakarta - Nama aslinya Joko Tri Harmanto, tapi lebih dikenal dengan panggilan Jack Harun. Dia merupakan bekas narapidana teroris yang sempat menjalani hukuman penjara karena terkait kasus Bom Bali I.

Dalam Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 ini, pria kelahiran Pedukuhan Wonogiri, Kalurahan Jatirejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, 44 silam itu memaknainya sebagai momen memperteguh diri untuk selalu menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Kemerdekaan bagi kami yaitu saat kami bisa kembali ke NKRI lagi," kata Joko pada Tagar, Senin, 17 Agustus 2020.

Menurut dia, ketika sudah 'merdeka' dan kembali ke pangkuan NKRI maka menjadi momentum juga baginya untuk berkarya. Kebetulan juga Joko mendirikan yayasan yang beranggotakan sekitar 40 orang yang mayoritas adalah eks napi-napi teroris. Yayasan Gema Salam namanya, berkedudukan di Sukoharjo, di mana menjadi tempat tinggal Joko dan keluarganya saat ini.

"Dengan kemerdekaan saat ini kami bisa berkarya untuk Indonesia. Pengalaman masa lalu biarlah sebagai 'batu-batu' untuk kami bisa jadikan pijakan agar berdiri kokoh menyeberangi kehidupan ini untuk menggapai masa depan yang lebih sukses," papar Joko.

Baca Juga:

Salah satu karyanya, melalui Yayasan Gema Salam tengah membangun tempat pelatihan berbagai jenis usaha bagi para anggota. "Kami ini baru membangun tempat pelatihan untuk segala jenis usaha. Selain itu kerap mengadakan acara pembenahan mindet teman-teman terhadap Indonesia," jelas pria yang juga direktur di yayasan tersebut.

Dengan kemerdekaan saat ini kami bisa berkarya untuk Indonesia.

Meski begitu, diakui Joko, hal-hal berkarya tadi bisa dianggap tidak semudah membalikkan telapak tangan karena memang butuh perjuangan yang tak ringan. Apalagi ketika menghadapi teman-teman di yayasan yang patah semangat.

"Butuh perjuangan pastinya. Apalagi menghadapi teman-teman yang kecewa karena menganggap negara kurang memperhatikan atau memperhatikan tapi kurang tepat. Apalagi saat ini program pemerintah lewat BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) terkesan monoton dan kurang variatif," jelasnya.

Joko Triharmanto alias Jack HarunMantan narapidana teroris Joko Triharmanto alias Jack Harun saat diwawancarai awak media beberapa waktu lalu. (Foto: Tagar/Gading Persada)

Joko pun menyarankan agar pemerintah terus mengintensifkan komunikasi ke para eks napiter ini. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini.

"Kami tidak banyak yang bisa kami perbuat dengan adanya wabah ini. Kami hanya bisa sedikit menjaga agar ‘suhu’ tidak naik yaitu dengan cara pengurus mencarikan dan memberikan kebutuhan sembako ke teman-teman. Target kami terpenting kalau dirumah masing-masing anggota kebutuhan sembako terpenuhi bisa sedikit melegakan mereka sehingga 'suhu' tetap terjaga. Ya kalau saya yang penting itu ada komunikasi yang harmonis dahulu, setelah itu baru kita mikir program-program," pintanya.

Kilas Balik Jack Harun

Sedikit menoleh kebelakang. Joko pun sempat bercerita soal gerakan terorisnya dahulu yang membuat dia dihukum empat tahun penjara. Dia menyebut dirinya bagian dari para pelaku dibalik kasus Bom Bali I. Bahkan memiliki keahlian merakit bom, dia mengklaim sebagai tangan kanan gembong teroris almarhum Noordin M Top.

"Sejak SMA saya sudah ikut pengajian-pengajian yang mengarah ke gerakan radikal. Lalu makin mengenal lebih jauh saat kuliah di Solo sekitar tahun 1997. Saat ada kerusuhan Ambon 1999 saya ke sana lalu berlanjut ke Poso. Nah, di dua tempat itu saya mulai mengenal gerakan teroris karena banyak bergaul dengan orang Indonesia yang baru pulang dari Afganistan. Mulai saya belajar merakit bom," cerita Joko.

Joko Triharmanto alias Jack HarunJoko Triharmanto alias Jack Harun (memegang microphone) saat memberikan ceramah di sebuah masjid di Kotagede Kota Jogja, beberapa waktu lalu. (Foto: Tagar/Gading Persada)

Selepas konflik Ambon dan Poso, Joko pun kembali ke Pulau Jawa. Dia tak sendirian karena datang pula rombongan tokoh-tokoh Bom Bali seperti Imam Samudra dan Amrozi.

"Nah di Jawa kami bingung ilmu yang sudah dimiliki saat di Poso mau dikemanakan. Akhirnya muncul ide membuat bom dan mempraktekkan di Bali," imbuh dia.

Bom Bali I pun terjadi dan Joko pun melarikan diri dari kejaran polisi. Sekitar dua tahun dia melarikan diri bersembunyi di Yogyakarta sampai Purwokerto dan akhirnya tertangkap usai Bom Kuningan terjadi. "Saya divonis enam tahun tapi baru menjalani empat tahun akhirnya dibebaskan karena mendapatkan remisi besar-besaran," ungkap dia.

Nah di Jawa kami bingung ilmu yang sudah dimiliki saat di Poso mau dikemanakan. Akhirnya muncul ide membuat bom dan mempraktekkan di Bali.

Tak ingin terjatuh lagi dalam lubang keburukan, Joko mulai sadar apa yang dijalaninya selama ini adalah salah. Bersama istrinya yang warga Solo, dia pun mulai memperbaiki dan menata hidup baru lagi. "Akhirnya saya beralih ke profesi lain yakni membuka warung soto dan bengkel pembuatan blangkon,” imbuh Joko yang saat ini tinggal bersama sang istri di Manang, Sukoharjo.

Baca Juga:

Dalam setiap ceramahnya, Joko pun mewanti-wanti kepada para orang tua untuk benar-benar memperhatikan pergaulan dari putra-putrinya. Sebab, saat ini perkembangan media sosial sangatlah masif dimana para anak-anak muda bisa mendapatkan dengan mudah informasi termasuk informasi gerakan radikal.

"Dulu gerakan radikal biasanya muncul lewat pengajian pengajian lalu mulai dikenal sejak SMA. Tapi saat ini eranya berubah. Pengaruh gerakan radikal sudah bisa dialami oleh anak SMP, ya lewat medsos tadi," kata Jack Harun.[]

Berita terkait
Kisah Perakit Bom Bali Kelahiran Kulon Progo
Berbagi kisah tentang sosok peracik Bom Bali I. Dia adalah Jack Harun, pria kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta. Bagaimana kisahnya?
Mantan Napi Terorisme Mencurigai Motif WNI Eks ISIS
Mantan narapidana (napi) terorisme Muhammad Sofyan Tsauri curiga terhadap motif eks kombatan ISIS yang meminta pulang ke Indonesia.
16 Eks Napi Teroris di Aceh Dapat Bantuan
Sebanyak 16 orang bekas warga binaan pemasyarakatan atau eks Nara Pidana Teroris (Napiter) mendapat bantuan sosia dari kementrian Sosial RI
0
Venue Tenis PON Papua Dipalang Warga, Ini Alasannya
Sekelompok warga Port Numbay dari Suku Hamadi memalang akses jalan masuk venue tenis PON XX. Ini penyebabnya