UNTUK INDONESIA
Hidup Firman Tak Selucu Balon Jualannya di Bantaeng
Seorang remaja yang masih bersekolah di salah satu madrasah di Bantaeng, mencari uang dengan berjualan balon di kawasan Pantai Seruni.
Seorang remaja penjual balon duduk, beristirahat sejenak usai berkeliling menawarkan balonnya di lapangan Pantai Seruni, Bantaeng, Minggu, 6 September 2020. (Foto: Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng – Balon-balon lucu berbentuk berbagai karakter tokoh kartun anak, melayang-layang di sekitar Pantai Seruni, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, sore itu, Minggu, 6 September 2020.

Sinar matahari sore menerpa belasan bahkan mungkin puluhan balon yang masing-masing diikat dengan itu. Ada model pesawat, beruang, karakter kartun Upin Ipin, Doraemon, Spiderman dan Power Ranger. Semuanya melayang-layang dan bergoyang tertiup angin sore.

Balon-balon itu merupakan barang dagangan beberapa remaja setempat. Beberapa pengunjung Pantai Seruni terlihat mengelilingi balon-balon itu. Sepertinya mereka sedang memilih balon yang akan dibeli.

Dari kejauhan tampak seorang anak kecil merengek sambil menunjuk-nunjuk balon-balon beraneka warna tersebut. Rupanya dia meminta agar dibelikan balon.

Firman, 14 tahun, remaja laki-laki berkaos hitam yang merupakan salah satu penjual balon di situ, mengaku dirinya berjualan balon untuk membantu perekonomian keluarganya.

Putra dari pasangan Yahya Kurnianto, seorang kuli bangunan dan Asniah seorang ibu rumah tangga itu merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara.

Saat ini Firman berstatus sebagai pelajar Madrasah Aliyah Muhammadiyah Bantaeng kelas 1.

Tapi waktu luangnya dia gunakan untuk membantu orang tua mencari nafkah, sekaligus untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya.

Firman mengatakan, dirinya menjalani profesi sebagai penjual balon di Pantai Seruni sejak duduk di kelas 2 SMP.

Bukan Bahan Tertawaan

Remaja dengan rambut sedikit pirang akibat sengatan terik matahari itu mengaku tak pernah merasa gengsi berjualan balon.

Menurutnya menjual balon bukanlah hal yang layak dijadikan bahan tertawaan. Justru ia senang jika banyak anak terhibur dengan balon-balon cantik yang dijualnya.

Cerita Anak Penjual Balon di Bantaeng (2)Firman, remaja penjual balon di Lapangan Pantai Seruni, Bantaeng, sedang mengatur balon jualannya, Minggu, 6 September 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

"Tiap hari raya saya menjual, lebaran, natal, tahun baru, kalau di pantai tiap Sabtu Minggu sore juga, waktu-waktu di mana banyak keramaian dan pengunjung," katanya sembari membenahi letak balon-balonnya usai diobok-obok banyak pembeli.

Firman menawarkan harga balon antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu rupiah saja. Setiap kali menjual ia biasa membawa belasan hingga puluhan balon.

Sore itu setelah beberapa menit berkeliling di area Pantai Seruni, Firman mengatakan sudah menjual balon dalam jumlah yang cukup lumayan. Firman sudah mengantongi uang sebanyak Rp 70 ribu rupiah.

Tapi jumlah itu bukan menjadi miliknya secara keseluruhan, sebab dia balon-balon yang dijualnya merupakan milik orang lain. Firman diberi upah sebesar Rp 20 ribu dari total penjualan sebesar Rp 100 ribu, atau 20 persen dari total penjualan.

Kebetulan sore itu lapangan di kawasan Pantai Seruni Bantaeng cukup padat oleh pengunjung, sebab ada pameran yang digelar di tribun pantai Seruni. Hal itu membuat pembelinya pun meningkat.

Pokoknya di mana saja dan kapan saja saya tahu ada keramaian, saya datang ke situ untuk jualan balon.

Seluruh uang hasil menjual balon yang diterimanya diserahkan kepada ibunya. Untuk dibelanjakan beras, sayur, ikan dan susu untuk adik bungsunya.

"Saya kasihkan saja semua sama mama kalau pulang menjual," ucapnya polos.

Saat ditanya tentang prestasi dan kegiatan sekolahnya, Firman dengan polos menyebut bahwa dia bukan siswa berprestasi di sekolah. Bahkan bisa naik kelas saja dia mengaku sudah bersyukur. Sejauh ini ia menjalani sekolah untuk menggenapkan ijazahnya. Bahkan berbicara cita-cita pun ia hanya mampu tersenyum. Cita-cita adalah cerita dongeng dan bayang semu baginya.

Tapi bukan berarti ia tak memiliki harapan hidup. Saat ini ia hanya berfokus pada apa yang dijalaninya setiap saat.

"Saya mau nantinya bisa punya pekerjaan dengan penghasilan yang bisa menghidupi orang tua dan saudara-saudara. Pekerjaan yang halal dan bisa kulakukan tapi sekarang ya seperti ini saja dulu," katanya, lalu tertawa.

Terbiasa Hidup Susah

Menjadi penjual balon bukan merupakan hal yang berat untuk Firman. Dia telah merasakan kerasnya hidup sejak dirinya masih kecil. Hidup susah akibat perekonomian keluarga yang jauh dari kaya raya, membuat kesusahan hidup seperti bukan lagi musuh untuknya. Dia telah berdamai sejak lama.

Cerita Anak Penjual Balon di Bantaeng (3)Beberapa anak penjual balon di sekitar lapangan Pantai Seruni, Kabupaten Bantaeng, Minggu, 6 September 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Kesulitan-kesulitan yang dialaminya sejak kecil secara tidak langsung membentuk mentalnya membaja. Firman tumbuh dengan karakter remaja yang optimis, sabar dan bertanggung jawab.

Ia sama sekali tak pernah mengeluhkan nasibnya. Ia bersyukur memiliki keluarga besar yang selalu mengisi hari-harinya. Rumah sederhana yang tak pernah sepi, selalu penuh canda tawa.

Kehidupan sederhana seperti itu membuat Firman memahami, bahwa hidup bukan sekadar soal uang. Nasib orang memang berbeda-beda. Ada anak yang terlahir di keluarga kaya, hidup dengan serba fasilitas yang tersedia. Namun bukan berarti ia tak punya hal yang dikeluhkan setiap hari.

"Mamak dan bapakku mengajarkan untuk selalu bersyukur, kalau kita bisa terima nasib dengan lapang dada maka tidak akan ada kesulitan," katanya terbata-bata.

Entah dari mana kalimat bijak itu terlontar. Tapi senyum yang senantiasa dilemparkan dan jawaban yang malu-malu menggambarkan betapa ia bukanlah remaja yang kehilangan masa remajanya karena harus berjualan mencari nafkah. Lagipula ia tak sendiri, beberapa remaja lain seusianya melakukan hal yang sama.

Sandi, salah satu pembeli balon yang dijual Firman, mengatakan pada Tagar, bahwa kehadiran remaja produktif seperti Firman adalah satu hal positif. Terlebih jika dibandingkan dengan beberapa remaja lain seusianya yang mengotori masa muda dengan mengonsumsi narkoba.

"Tentu saja saya pribadi senang dengan hal seperti ini, mereka berani, tidak gengsi dan bekerja secara halal. Banyak yang usianya lebih tua tapi hanya menghabiskan waktunya sia-sia, tidak tahu cari uang, remaja ini jauh lebih berharga dibanding orang-orang seperti itu," kata pria 25 tahun tersebut.

Senja mulai merangkak. Jingganya perlahan menenggelamkan matahari yang bersembunyi di garis batas lautan pantai Seruni. Waktu Magrib hampir menjelang, Firman mengemasi barang dagangannya dan pamit pulang. Sebab sebelum Magrib dia harus sampai di rumahnya. Ada orang tua dan banyak saudara yang menanti kepulangannya. []

Berita terkait
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.
Cerita HUT Ke-91, "Bali Ning Omah Bali Ning PSIM"
Tim sepakbola kebanggaan warga Yogyakarta merayakan ulang tahun yang ke-91. Salah satu rangkaian acara adalah pameran memorabilia di Museum PSSI.
Jantan, Betina, dan Mandulnya Pohon Kurma di Sleman
Seorang petani kurma di Kabupaten Sleman mengisahkan awal ketertarikannya terhadap kurma, serta jenis pohon kurma jantan, betina, dan mandul.
0
Hidup Firman Tak Selucu Balon Jualannya di Bantaeng
Seorang remaja yang masih bersekolah di salah satu madrasah di Bantaeng, mencari uang dengan berjualan balon di kawasan Pantai Seruni.