UNTUK INDONESIA
Hafiz Muda Jeneponto, Setahun Hafal 30 Juz
Bukan seorang santri, namun Muhammad Saldi berhasil menghafal 30 juz alquran dalam waktu satu tahun.
Saldi (tengah berbaju hitam) bersama anak-anak yang belajar mengaji dengannya di Masjid Nurul Iman Desa Jombe, Jeneponto. (Foto: Tagar/Fitrani Aulia Rizka)

Jeneponto - Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci alquran. Suara merdu yang membawa langkah Tagar ke sebuah taman di depan kantor DPRD Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sul-Sel), Rabu 27 November 2019.

Suara tersebut ternyata datang dari seorang remaja yang sedang duduk-duduk di bangku taman poros Jalan Andi Mannappiang, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng. Dia mengaji seperti orang bergumam, namun suara merdunya membuat suasasan di bawah pepohonan rindang kian teduh.

Orang tua bercerai saat saya masih berusia 9 bulan. Saya dititipkan kepada keluarga bapak.

Gaduh bunyi kendaraan hilir-mudik di jalanan seakan tak hilang ditelan suara pemuda mengenakan jumper hitam yang telah memudar itu.

Namanya Muhammad Saldi. Dia seorang pelajar kelas 2 Madrasah Aliyah (MA) Baburrahman di Desa Jombe, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sul-Sel. Katanya, dia sedang menunggu kawan yang sedang berurusan di DPRD Bantaeng.

Usia Saldi masih 18 tahun. Namun sosok dewasa sudah terpancar jelas dari rautnya. Sehari-hari selepas sekolah, dia menjadi guru mengaji di Jeneponto, aktivitas yang sudah tiga tahun digelutinya.

Sore itu, Saldi tak malu berbagi kisah hidup hingga menjalani hari-hari sebagai guru mengaji. Di usia belia, dia telah memikul beban berat yang tak seharusnya dirasakan anak-anak seusianya.

Pemuda kelahiran Makassar 19 September 2001 itu, sudah cukup lama tak menatap dekat wajah ayahnya Amar dan ibunya Adaria.

"Orang tua bercerai saat saya masih berusia 9 bulan. Saya dititipkan kepada keluarga bapak. Sekarang saya tinggal bersama nenek Zaenab (ibu dari ayah)," katanya.

Dulu saya cukup nakal, pergaulan tidak terkontrol, sering keluar malam dan melakukan hal-hal yang tidak berguna.

Semula, pemuda berbintang Virgo itu menjalani pendidikan di Makassar atau tak jauh dari keberadaan ayah dan ibunya. Meksi begitu, dia tak banyak tahu tentang ayah dan ibunya. Ayahnya Amar berprofesi sebagai sopir angkutan kota (angkot), sedangkan ibunya menetap di Makassar namun tak jelas kabar.

Saldi hijrah ke Jeneponto sejak kelas 2 SMP dan tinggal bersama nenek. Dia pun menjalani kehidupan baru dengan suasa yang lebih tenang karena jauh dari hiruk perkotaan. Berangsur-angsur Saldi mulai menemukan jati diri dan menjadi pemuda santun.

"Dulu saya cukup nakal, pergaulan tidak terkontrol, sering keluar malam dan melakukan hal-hal yang tidak berguna," katanya.

Dari nada bicara, tampak guratan kenangan kelam dan sisi kehidupan yang terasa kosong pernah ia jalani dulu. Sinar matanya yang teduh meredup dan seulas senyum simpul yang sedikit ragu tersungging di bibirnya. Mungkin, dalam hati ia menertawakan kenangan kelam itu.

Mengajar Mengaji Tanpa Pamrih

Sejak menjalani hari-hari di Jeneponto mulai tahun 2015, Saldi disuguhkan bertumpuk petuah hidup dari sang nenek. Kampung yang terpencil seakan menjadi wadah Saldi untuk mengeksplorasi diri.

Hafiz MudaMuhammad Saldi, hafiz muda asal Jeneponto yang mengajarkan alquran tanpa pamrih. (Foto: Tagar/Fitrani Aulia Rizka)

Meski bukan seorang santri, Saldi memiliki potensi agama yang cukup baik. Suaranya yang bagus dalam melantunkan ayat suci alquran menjadi modal besar baginya memulai hidup baru. Dia pun mulai menghafal alquran tanpa disuruh dan diperintah siapa pun. Hari-harinya mulai dihabiskan dengan belajar dan menghafal alquran.

"Saya fokuskan menghafal bacaan satu-persatu. Misalnya saya berniat menghafal satu surat, nah surat itu yang akan saya baca berulang-ulang terus menerus sebelum pindah ke surat berikutnya," bebernya.

Untuk mengukur kecepatan waktu menghafal, Saldi juga menggunakan bantuan stopwatch dari handphone. Biasanya 10 atau 15 ayat akan tuntas dihafalnya dalam waktu 15-20 menit. Jika tidak sedang sibuk dan benar-benar fokus menghafal, maka ia bisa menyelesaikan 3 surat dalam satu hari satu malam.

"Setelah sekitar setahun lamanya, saya insyaallah kini hafal 30 juz," katanya.

Saat ini, Saldi menjalani hari-hari sebagai seorang guru mengaji bagi anak-anak dilingkungan tempat tinggalnya. Aktivitas itu dijalaninya setiap hari mulai pukul 17.00 hingga pukul 20.00 Wita.

Di sana kebetulan belum ada Tempat Pendidikan Agama (TPA). Lantas Saldi pun berinisiatif menjadikan Masjid Nurul Iman Desa Jombe sebagai tempat belajar mengaji.

"Sore mengajarkan bacaan iqrak dan mengenalkan anak-anak dengan huruf hijaiyah. Malamya dari magrib sampai isya mengajarkan membaca alquran. Sekarang murid saya mencapai 20 orang," katanya.

Saldi mengajar mengaji ikhlas tanpa pamrih. Dia mengaku tidak berani mengambil sepeser pun rupiah dari orang tua murid mengaji. Dia mengganggap ilmu alquran yang didapatkan harus diajarkan untuk generasi Islam selanjutnya.

Dia sendiri mengaku ingin menjadi seorang Imam Besar. Di kampung neneknya selain mengajar mengaji, Saldi juga kerap dipercaya memimpin salat berjamaah.

"Alasannya ingin jadi imam dan mengajar mengaji hanya karena saya seorang muslim," tuturnya.

Di luar kesibukannya mengajar mengaji, Saldi kini juga tengah fokus untuk menghadapi ujian nasional. Dia tidak ingin hasil UN-nya jelek dan harus belajar sungguh-sungguh.

"Selesai mengajar ngaji, saya di rumah saja belajar persiapan UN," tuturnya. []

Berita terkait
Memandang Denpasar Bali dari Puncak Bajra Sandhi
Monumen Bajra Sandhi di Denpasar Bali tak hanya menawarkan wisata edukasi sejarah. Tapi juga pemandangan Denpasar berpagar pantai.
Jumat Soren, Ngepit Wanci Longgar di Yogyakarta
Komunitas pecinta sepeda ontel, Jumat Soren, kegiatannya tidak sekedar bersepeda. Di komunitas ini juga menjadi ajang paseduluran antar anggota.
Jejak Sunan Kalijaga di Legenda Kera Desa Ngujang
Nama Desa Ngujang berawal saat Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam dan singgah di Desa Ngujang, Tulungagung, Jawa Timur.
0
Penghapusan UN Tak Pengaruhi Siswa SMAN 4 Bantaeng
Wacana penghapusan Ujian Nasional oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim tidak berpengaruh terhadap SMAN 4 Bantaeng.