Indonesia
Habil Marati, Penyedia Senjata Api Kerusuhan 21-22 Mei
Politikus PPP Habil Marati memiliki peran sebagai penyedia senjata api yang digunakan pada kerusuhan 21-22 Mei 2019.
Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Habil Marati. (Foto: Antara)

Jakarta - Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Habil Marati memiliki peran sebagai penyedia senjata api yang digunakan ada kerusuhan 21-22 Mei 2019. Diduga juga memberikan dana sebesar Rp 150 juta kepada Kivlan Zein untuk membeli senjata api.

Kini, Habil masuk dalam daftar terduga yang terlibat rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Menurut informasi yang dirangkum Tagar dari berbagai sumber, Habil Marati lahir di Raha, Sulawesi Tenggara pada 7 November 1962. Namanya terdaftar di panggung politik sejak usia 20 tahun saat menjadi anggota DPRD Kota Medan periode 1982-1987. 

Kariernya di legislatif, tercatat sebagai anggota Komisi XI DPR dari fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) periode 2004-2009.

Pria berusia 57 tahun itu pernah menjabat ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) Sumatera Utara dan Ketua DPW partai yang mengusungnya yaitu PPP untuk periode 1995-2004. 

Sementara di tingkat nasional, dipercaya menjadi ketua Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPP untuk periode 2003-2007.

Habil Marati pernah menempati posisi jabatan direktur di sejumlah perusahaan yakni, Dirut PT Batavindo Kridanusa (1994), Dirut PT Galaxy Pasific Evalindo (1997), Dirut PT Makassar Perrosal Global (1997), Dirut PT Satomer Asri Fiberindo (1997), Dirut PT Industry Kakao Utama (2000), dan Dirut PT Agra Post Lava (2000).

Sebelum namanya dikenal publik, Habil mengenyam pendidikan di Universitas Syariah IAIN Medan. Aktif dalam organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Habil juga pernah menjadi pengurus Badan Tim Nasional (BTN) PSSI. Sayangnya, kariernya terbilang singkat, karena Timnas Indonesia terhenti di fase penyisihan grup Piala AFF 2012. 

Ia sempat mencoba bergabung lagi saat kepemimpinan Djohar Arifin yang diganti Isran Noor. Namun kembali terlempar, akibat konflik internal di badan PSSI saat itu. Sejak 2013 Habil mulai tidak terlibat lagi dalam kepegurusan Timnas Indonesia, PSSI.

Meski sebelumnya sudah lama hidup di panggung politik, namun, namanya mulai diperkenalkan kepada publik pada 2017 silam yakni, menjadi salah satu tokoh yang membela Anies Baswedan saat menyampaikan pidato kemenangan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Kala itu, ada sejumlah kalangan yang menganggap pidato Anies mengandung muatan SARA, karena memakai istilah pribumi. Habil menilai pidato itu sama sekali tidak mencerminkan rasisme. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Gubernur Sulsel Jelaskan Pemicu Mahasiswa Papua Bentrok
Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah akhirnya angkat bicara terkait pemicu bentrokan mahasiswa Papua.