UNTUK INDONESIA
Gereja di Jerman Kehilangan 430.000 Jemaatnya
Gereja Katolik dan Gereja Protestan di Jerman semakin resah. Keanggotaan mereka berkurang sekitar 430.000 jemaat.
Sumber: Deutsche Welle (dw.com)

Jakarta - Gereja-gereja di Jerman semakin resah. Data terbaru, Gereja Katolik dan Gereja Protestan kehilangan 430.000 jemaatnya yang terdaftar. 

Sama seperti di beberapa gereja di Indonesia, jemaat mendaftar secara resmi sebagai anggota gereja. Bedanya, di Jerman setiap anggota jemaat terdaftar wajib membayar pajak sebesar 9% dari penghasilan kena pajak mereka sebagai pajak gereja. 

Penting bagi kita hari ini untuk membuat lebih jelas mengapa pesan Kristen yang menjadi dasar kuat untuk kehidupan mulai ditinggalkan

Pajak ini dibayar ke negara, bukan ke gereja. Nantinya, negara akan mengembalikan pajak ini ke gereja untuk pengembangan dan operasional gereja. Setiap tahun, gereja mendapat miliaran euro dari pajak ini. 

Setiap anggota jemaat yang telah membayar pajak 9% tersebut, maka negara akan mengurangi pajak gaji atau asuransi sosial mereka. 

Mengutip media Deutsche Welle (dw.com) yang berbasis di Bonn, Jerman, kehilangan 430.000 jemaat itu memberi kerugian karena itu berarti mengurangi pajak yang mereka terima dari negara.

Gereja JermanSumber: Deutsche Welle (dw.com)

Gereja Katolik Jerman kehilangan 216.078 anggota dan gereja-gereja Protestan kehilangan sekitar 220.000 pada 2018, menurut data yang diterbitkan oleh Deutsche Bischofskonferenz (DBK) atau Konferensi Wali Gereja Jerman dan Evangelische Kirche in Deutschland (EKD) atau Gereja Evangelis di Jerman (EKD).

Jumlah orang terdaftar di Gereja Katolik dan Protestan akan turun setengahnya pada tahun 2060

Secara total, masih ada sekitar 23 juta warga Jerman menjadi anggota Gereja Katolik dan 21,14 juta adalah anggota gereja-gereja Protestan. Kedua kelompok ini menyumbang 53,2% dari total populasi negara itu lebih dari 83 juta.

Hans Langendörfer, sekretaris Konferensi Wali Gereja Jerman, menggambarkan angka tersebut sebagai statistik yang "mengkhawatirkan".

Sementara Heinrich Bedford-Strohm, presiden EKD, menyebut statistik tersebut sangat menyakitkan. 

"Karena orang hari ini, tidak seperti di masa lalu, memutuskan keluar dari kebebasan apakah mereka ingin menjadi anggota gereja. Penting bagi kita hari ini untuk membuat lebih jelas mengapa pesan Kristen yang menjadi dasar kuat untuk kehidupan mulai ditinggalkan," kata Heinrich.

Di Jerman, setiap anggota gereja yang terdaftar dapat secara resmi keluar dari keanggotaan dengan membuat deklarasi sendiri di lembaga pemerintah setempat atau kadang-kadang di pengadilan distrik. Tidak perlu memberikan alasan apa pun.

Secara umum, keanggotaan gereja di Jerman telah menurun selama bertahun-tahun. 

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Universitas Freiburg pada bulan Mei 2019 lalu menyimpulkan bahwa jumlah orang terdaftar di Gereja Katolik dan Protestan akan turun setengahnya pada tahun 2060.

Alasan utama menurunnya keanggotaan gereja di Jerman karena lebih sedikit baptisan dan populasi yang menua, kata para peneliti.

Studi itu memperkirakan bahwa keanggotaan gabungan di kedua gereja ini akan turun dari sekitar 45 juta sekarang menjadi 34,8 juta pada 2035 dan 22,7 juta pada 2060. []


Berita terkait
Tanggapi Ridwan Kamil, GMKI Buat Posko Pengaduan Gereja
Perkembangan terkini permintaan Ridwan Kamil ke GMKI untuk membuat daftar gereja yang sulit mendapat izin mendirikan rumah ibadah di Jabar.
Penantian 21 Tahun, Gereja di Bekasi Resmi Berdiri
Gereja Katolik Santa Clara diresmikan oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Efendi, Minggu, 11 Agustus 2019.
Polemik Pembangunan Gereja di Semarang Berakhir Sejuk
Polemik pembangunan Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Semarang, Jawa Tengah akhirnya selesai dengan sejuk.
0
PAN Sulsel Usung Adik Mentan di Pilkada Makassar
PAN Sulsel menyerahkan dukungan kepada Imran Yasin Limpo sebagai calon wali kota di Pilkada Makassar tahun 2020