UNTUK INDONESIA
Festival Danau Toba Ditiadakan, Begini Reaksi Publik
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi menyebut akan menghapus Festival Danau Toba (FDT) 2020. Ragam reaksi muncul.
Gubsu Edy Rahmayadi saat membuka FDT ke 7 di Parapat, Senin 9 Desember 2019. (Foto: Tagar/Jonatan Nainggolan).

Medan - Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan Kepala Dinas Pariwisata dr Ria Telaumbanua menyebut akan menghapus pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) 2020.

Rencana itu kemudian mendapat ragam tanggapan dari sejumlah pihak, termasuk dua anggota DPRD Sumatera Utara periode 2014-2019, Sarma Hutajulu dan Richrad Sidabutar.

Dalam pernyataannya, Richard yang membagikan pendapatnya melalui media sosial Facebook menyebut prihatin dengan pelaksanaan FDT 2020.

Dia menyebut, Danau Toba telah menjadi destinasi super prioritas. Ada Rp 4 triliun digelontorkan tahun 2020 ditambah 200 juta dollar bantuan hibah Bank Dunia.

"Dana triliunan rupiah, investasi besar dan mahal proyek Danau Toba tidak mampu mendatangkan wisatawan asing?" katanya, Sabtu 11 Januari 2020.

Kemudian tahun 2019, target kunjungan wisatawan asing di Sumatera Utara satu juta orang. Proyeksi ini meleset. Tahun 2020, rilis berita Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Utara pasang target kunjungan wisatawan asing sebanyak 300.000 orang.

Menurut dia, data BPS tahun 2019, tanda-tanda rendahnya kunjungan wisatawan asing sudah terlihat pada kuartal kedua, lebih kurang 144 ribu orang. Sampai akhir tahun wisatawan asing hanya capai 250.000 orang.

Disebutkan Richrad, tidak tercapainya jumlah wisatawan asing melancong ke Sumatera Utara tidak terlepas dari gagalnya pemerintah merampungkan sejumlah pekerjaan rumah antara lain soal kebersihan dan kesehatan, SDM, kelestarian lingkungan, insfrastruktur, destinasi baru. Buruknya sistem sanitasi dan air minum masih menjadi kendala di sejumlah destinasi wisata.

"Di tengah gencarnya pemerintah pusat membangun dan mengembangkan kawasan Danau Toba, Pemprov Sumatera Utara melalui Dinas Pariwisata meniadakan FDT tahun depan. Mengapa? Bukankah FDT sudah menjadi kalender pariwisata Kemenpar? Apa evaluasi pemerintah atas FDT tahun 2019 lalu?" katanya.

Sekadar saran, kata Richrad, untuk setiap FDT, pemerintah jangan memperantarai event di daerah itu. Di mana setiap partisipasi diputuskan oleh birokrasi. Bila terus seperti ini, di masa mendatang setiap pelaksanaan FDT merasa terasing bagi masyarakat lokal dan sekitar.

"FDT perlu pendekatan berbeda. Tidak top down, tidak sama sekali birokratis, tidak orientasi proyek. FDT perlu mengakarkan diri pada lokalitas kultur, mental, dan sosial daerah itu," tegasnya.

Dia menyebut, sektor pariwisata masih berpeluang tumbuh. Mesti fokus menyelesaikan pekerjaan rumah yang masih terbengkalai, termasuk menyiapkan SDM penduduk lokal agar siap berkompetisi dan dapat menyediakan jasa bagi turis asing.

Saya yakin masyarakat siap membantu pelaksanaan supaya berhasil, kenapa harus ditiadakan?

Tantangan lain, visi dan pengetahuan kepariwisataan para pengambil kebijakan yang masih kurang. Kesiapan daerah tujuan pariwisata yang belum optimal karena pembangunan pariwisata yang belum merata.

"Pemasaran pariwisata yang belum optimal karena belum memanfaatkan barbagai saluran media secara maksimal. Kerja sama antara pelaku ekonomi, sosial budaya dengan pelaku pariwisata yang belum optimal. Koordinasi antara lembaga, pusat dan daerah dalam pengembangan daerah tujuan wisata yang belum maksimal," terang Richrad.

Sedangkan Sarma Hutajulu, menyebut, Danau Toba sebagai kawasan strategis nasional diharapkan menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan sebagaimana target 10 destinasi wisata yang sedang digenjot pemerintah pusat.

Program tersebut harusnya didukung oleh Pemprov Sumatera Utara maupun pemda se-kawasan Danau Toba lewat berbagai event wisata maupun budaya.

Menurut politikus PDIP Sumatera Utara itu, Festival Danau Toba menjadi salah satu acara rutin yang dilakukan sejak dulu dalam rangka memperkenalkan Danau Toba ke penjuru dunia. "Sayangnya event FDT tersebut akan ditiadakan di tahun ini karena setiap tahun Pemprovsu gagal mengemas acara tersebut menjadi acara yang menarik wisatawan," terangnya, Jumat 10 Januari 2020 juga melalui media sosial Facebook.

Selama ini acara FDT kata dia, hanya dijadikan proyek semata karena tidak menjadikan masyarakat dan pemkab se kawasan Danau Toba menjadi subjek atau pemilik event tersebut dan hanya dijadikan penonton.

Padahal faktor pendukung kesuksesan event tersebut salah satunya lewat partisipasi masyarakat dengan keragaman budaya, kuliner, produk khas yang mereka miliki untuk disuguhkan kepada para wisatawan. "Ini ibarat pepatah, tak pandai menari maka lantai yang disalahkan," katanya.

Salah satu alasan penghapusan FDT katanya juga soal waktu yang sangat minim persiapan yakni enam bulan. Padahal kata Sarma, jika diikuti pemberitaan pelaksanan FDT yang dilaksanakan bulan Desember lalu, tender proyek tersebut dilakukan pada November 2019 dan hanya diberikan waktu tak sampai satu bulan mempersiapkannya.

"Apakah waktu enam bulan tak cukup mempersiapkan sebuah event agar bisa terselenggara dengan baik?" katanya. "Seingat saya dalam pengesahan APBD 2020 yang disahkan oleh DPRD Provinsi Sumut pada September 2019, program FDT dan peringatan hari Ulos menjadi program yang sudah disahkan dalam rapat banggar dan rapat Paripurna DPRD Sumut. Apakah anggaran yang sudah disahkan bersama tersebut bisa dianulir secara sepihak oleh eksekutif?" katanya.

Sarma menegaskan, pencoretan ini menunjukkan minimnya komitmen Pemprov Sumatera Utara dalam upaya percepatan pembangunan kawasan wisata di kawasan Danau Toba.

Dia menyebut, saatnya rakyat di kawasan Danau Toba meminta pertanggungjawaban Pemprov Sumatera Utara lewat Dinas Pariwisata. "Saya yakin masyarakat siap membantu pelaksanaan supaya berhasil, kenapa harus ditiadakan?" tukasnya.

Berita terkait
Demo di Poldasu, Dugaan Korupsi Festival Danau Toba
Mahasiswa demo ke Polda Sumatera Utara, ungkap dugaan korupsi di Pemprovsu termasuk pelaksanaan Festival Danau Toba 2019.
Festival Danau Toba Sepi
Festival Danau Toba (FDT) 2019 di Parapat, Kabupaten Simalungun yang dibuka Gubsu Edy Rahmayadi, sepi pengunjung.
Festival Danau Toba Sepi, Lebih Seru Festival Babi
Festival Danau Toba (FDT) di Parapat dan dibuka Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi sepi pengunjung.
0
Mahasiswa Terduga Makar Jalani Sidang Perdana Sorong
Empat mahasiswa terdakwa tindak pidakan perkara makar menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Sorong.