UNTUK INDONESIA
Fakta-fakta Film G30S/PKI
Film G30S/PKI digarap Perum Produksi Film Negara (PPFN) tahun 1984 ini disutradari dan ditulis oleh Arifin C Noer.
Salah satu adegan dalam film G30S/PKI. (Foto: Tangkapan layar dari Youtube)

Jakarta - Film legendaris yang saban tahun wajib diputar di TVRI pada akhir bulan September atau menjelang tanggal 1 Oktober adalah film berjudul Penumpasan Pengkhiatan G30S/PKI.

Film G30S/PKI digarap Perum Produksi Film Negara (PPFN) tahun 1984 ini disutradari dan ditulis oleh Arifin C Noer. Kala itu, dia menghabiskan waktu dua tahun untuk memproduksi film yang menghabiskan anggaran Rp 800 juta tersebut. Film itu menjadi tontonan wajib selama rezim Soeharto berkuasa.

Film berdurasi 3 jam itu ditayangkan dan diputar secara terus menerus menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober selama 13 tahun.

Sejak pemerintahan Soeharto tumbang berganti era reformasi, film G30S/PKI tidak lagi menjadi tontonan wajib. Stasiun televisi pun tidak lagi memutar film tersebut.

Setelah empat bulan jatuhnya Soeharto, Departemen Penerangan memutuskan tidak lagi memutar film ini karena tidak sesuai lagi dengan dinamika reformasi.

Waktu itu, Menteri Penerangan Muhammad Yunus Yosfiah berpendapat, pemutaran film yang bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar tidak sesuai lagi dengan dinamika reformasi.

Atas keputusan itu, TVRI dan TV swasta tidak lagi menayangkan film G30S/PKI. Kalangan seniman dan pengamat film juga kompak. Misalnya, sutradara film Eros Djarot menolak pemutaran film propaganda Orde Baru tersebut.

Ketuam Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (PB PARFI) periode 1993-1998, Ratno Timoer juga menolak film tersebut. Menurutnya, film itu menyimpan rasa dendam yang tidak menguntungkan. 

Sebagai gantinya, Departemen Penerangan bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) menyiapkan telesinema berjudul Bukan Sekedar Kenangan. Film Pengkhianatan G30S/PKI pun akhirnya tak lagi wajib diputar.

Pemutaran film tahunan yang menjadi agenda wajib itu pun dibatalkan. Menurut Dirjen Kebudayaan Depdikbud, Edi Sedyawati, film Bukan Sekedar Kenangan pada awalnya disiapkan sebagai tayangan penunjang yang juga disiarkan pada tanggal 30 September. 

Sehingga sebagai gantinya, tayangan ini yang awalnya disiapkan sebagai film beralih menjadi sajian utama. Film berdurasi 72 menit ini adalah episode pertama dari trilogi yang ditayangkan pada waktu berbeda. 

Film Bukan Sekedar Kenangan berkisah mengenai trauma seorang kepala keluarga akan peristiwa G30S yang diperankan oleh Dina Lorenza, Atalarik Syach, dan Derry Drajat. 

Tokoh utama yang diperankan Dina Lorenza (Fitria) akhirnya berusaha mencari tahu soal trauma itu. 

Keingintahuannya kemudian membawa Fitria sampai ke Yogyakarta. Di sini dia bertemu dengan Prapti, adik kandung ayahnya. Wanita setengah baya tersebut terganggu jiwanya akibat melihat langsung suaminya disiksa pada 33 tahun lalu.

Tayangan arahan Jonggi Sihombing ini merupakan proyek Dirjen Kebudayaan Depdikbud dan menghabiskan biaya hingga Rp 100 juta. 

G30S PKIG30S PKI (Foto: Mamikos).

Tiga Tokoh di Balik Penyetopan Film G30S/PKI

Setidaknya ada tiga tokoh penting yang berperan dalam penyetopan pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI. Mereka adalah Marsekal Udara Saleh Basarah, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah, dan Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono.

Kala itu, Mantan Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono saat itu mendapat telepon dari Saleh Basarah sekitar bulan Juni-Juli 1998. Saleh keberatan karena film itu mengulang-ulang keterlibatan perwira AURI pada peristiwa dalam gerakan 30 September 1965.

Juwono menjabat sebagai menteri pendidikan sejak 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Sebagai menteri pendidikan kala itu, Juwono meminta kepada para ahli sejarah untuk meninjau kembali kurikulum pelajaran sejarah tingkat SMP dan SMA, khususnya yang memuat peristiwa-peristiwa penting. []

Berita terkait
Ade Irma Suryani Nasution, Korban Keganasan G30S/PKI
Pasukan penculik Cakrabirawa G30S/PKI memberondong senjata laras panjang menewaskan Ade Irma Suryani Nasution.
Tujuh Perwira Sasaran Keganasan G30S/PKI
Tujuh perwira korban keganasan G30S/PKI diberi gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional yang ditetapkan pada 5 Oktober 1965.
Mengenal G30S/PKI di Museum AH Nasution
Bila Anda berada di wilayah Jabodetabek, jejak peninggalan sejarah G30S/PKI dapat ditelusuri di Museum AH Nasution.
0
Slamet Maarif Beberkan Penyuplai Dana Aksi PA 212
Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif mengungkapkan penyuplai dana dari aksi bela Islam yang melibatkan FPI dan GNPF Ulama.