UNTUK INDONESIA
Fakhri Tolak Jadi Asisten Pelatih Shin Tae-Yong
Fakhri Husaini, pelatih tim nasional U-16 dan U-19 dari 2017 sampai 2019, menolak menjadi asisten pelatih timnas Shin Tae-Yong.
Fakhri Husaini, pelatih tim nasional U-16 dan U-19 dari 2017 sampai 2019, menolak menjadi asisten pelatih timnas Shin Tae-Yong. Meski sudah ditawari PSSI, namun Fakhri tegas menolak tawaran itu. (Foto: ANTARA/Nova Wahyudi)

Jakarta - Fakhri Husaini, pelatih tim nasional U-16 dan U-19 dari 2017 sampai 2019, menolak menjadi asisten pelatih timnas Shin Tae-Yong. Fakhri juga meminta PSSI tidak lagi memaksanya mengisi posisi itu. 

PSSI memang terus membujuk Fakhri agar mau membantu pelatih asal Korea Selatan ini dengan menjadi asisten pelatih. Bahkan jauh sebelumnya, Direktur Teknik PSSI Danurwindo sudah menemui Fakhri. Namun mantan kapten tim nasional ini tegas menolak tawaran tersebut. 

"Bang Danur memang sudah menemui saya di Jakarta. Tetapi saya sudah mengatakan tidak mau menjadi asisten pelatih. Jawaban saya sudah final,” kata Fakhri kepada Antara di Jakarta.

Kalau misalnya saya dianggap tak mampu tangani tim, saya menganggap mereka (PSSI) melecehkan saya sebagai pelatih lokal

Hanya, PSSI menolak menyerah. Kali ini, Wakil Ketua Umum PSSI Mayjen TNI Cucu Somantri merencanakan langsung menjumpai Fakhri, Jumat 10 Januari 2020. Namun tempat pertemuan masih dirahasiakan. Namun pelatih yang membawa Indonesia juara Piala AFF U-16 2018 tersebut kurang tertarik dengan pertemuan itu.

"Untuk apa petinggi PSSI menemui saya lagi? Bukankah Bang Danur sudah mewakili PSSI? Sudahlah, mereka sudah temukan pelatih yang cocok, tinggal cari asisten pelatih lain saja," kata Fakhri.

Menurut pria berusia 54 tahun itu, ada beberapa alasan dia menolak menjadi asisten Shin Tae-Yong. Termasuk alasan yang memuaskan terkait penunjukan dirinya sebagai asisten pelatih. Fakhri menilai PSSI menawarkan posisi asisten hanya karena statusnya sebagai pelatih lokal.

"Kalau misalnya saya dianggap tak mampu tangani tim, saya menganggap mereka (PSSI) melecehkan saya sebagai pelatih lokal. Kecuali bila kami gagal di kualifikasi Piala Asia U-19 atau lolos ke putaran final sebagai runner up terbaik, misalnya. Atau lolos tetapi tersandung. Namun saya tidak melihat alasan seperti itu," ujar Fakhri memaparkan.

Selain itu, Fakhri tidak ingin meninggalkan jajaran asisten, kit man dan ofisial timnas U-19 yang membantu dia sepanjang 2019. Pelatih asal Aceh ini tidak ingin terkesan menyelamatkan diri sendiri. Dia juga menilai posisi asisten pelatih tidak memberikan tantangan dalam kariernya.

"Kalau saya hanya ingin berpikir enak dan nyaman, saya akan menerima jabatan itu. Bagaimana tidak, jabatan asisten pelatih itu paling enak. Tim gagal, dia tidak bakal diapa-apakan orang, ngumpet di balik ketiak pelatih kepala. Saya tidak akan melakukan itu meski dari awal siap menerima resiko apa pun itu,” tutur Fakhri.

Fakhri yang juga karyawan PT Pupuk Kaltim, Bontang ini memang mencatat prestasi apik sebagai pelatih timnas U-16 dan U-19 Indonesia dalam rentang tahun 2017-2019. Selain membawa skuatnya menjuarai Piala AFF U-16 2018 dan lolos ke Piala AFF U-19 2020 sebagai juara grup fase kualifikasi, Fakhri juga mengantarkan timnya ke perempat final Piala Asia U-16 2018.

PSSI sendiri telah menunjuk dua pelatih lokal yaitu Indra Sjafri dan Nova Arianto untuk membantu Shin Tae-Yong. []

Berita terkait
Bukan Seto, Tapi Nova Arianto Asisten Shin Tae-Yong
Asisten pelatih tim nasional U-22 Nova Arianto dan bukan Seto Nurdiyantoro yang ditunjuk sebagai asisten pelatih timnas senior Shin Tae-Yong.
Menpora Dukung Shin Tae-yong Latih Timnas Indonesia
Menpora Zainudin Amali berharap penunjukkan Shin Tae-yong melatih Timnas Indonesia bisa membawa prestasi bagi Indonesia.
Tugas Negara Selesai, Fakhri Tinggalkan Timnas U-19
Pelatih Fakhri Husaini meninggalkan timnas U-19 karena tugasnya berakhir setelah kualifikasi Piala Asia U-19. Tim pun sudah lolos ke putaran final.
0
Jokowi Bagikan 41 SK Pengelolaan Lahan Hutan di Riau
Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan 41 Surat Keputusan (SK) pengelolaan Perhutanan Sosial bagi 20.890 kepala keluarga di Provinsi Riau.