UNTUK INDONESIA
Enam Tokoh Diberi Gelar Pahlawan oleh Jokowi
Presiden Joko Widodo memberikan gelar pahlawan nasional pada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa bagi Indonesia di Istana Negara, Jakarta.
Alexander Andries Maramis. (Foto: kemenkeu.go.id)

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan gelar pahlawan nasional pada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa bagi Indonesia. Acara yang dihadiri oleh jajaran Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 itu digelar di Istana Negara, Jakarta, pada 13.00, Jumat, 8 November 2019. 

"Ada enam orang," ucap Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Negara Jimly Asshiddiqie, kepada Tagar, Jumat, 8 November 2019.

Keenam tokoh yang diberi gelar nasional yakni sebagai berikut.

Abdul Kahar MudzakkirProf. KH. Abdul Kahar Mudzakkir. (Foto: Istimewa)

1. Kahar Muzakkar

Abdul Kahar Muzakkar atau Abdul Qahhar Mudzakkar  adalah pendiri Tentara Islam Indonesia di Sulawesi. Ia lahir di Lanipa, Ponrang Selatan, Luwu, Sulawesi Selatan, Hindia Belanda, 24 Maret 1921.

Pada awal 1950-an, Kahar memimpin bekas gerilyawan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang kemudian mendirikan Tentara Islam Indonesia (TII). TII bergabung dengan Darul Islam (DI) yang dikenal dengan DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Kahar Muzakkar dinyatakan tertembak mati dalam pertempuran antara pasukan TNI dari satuan Divisi Siliwangi Kujang I 330 dan anggota pengawal Kahar Muzakkar di Lasolo saat ada Operasi Tumpas yang dipimpin langsung oleh Jenderal M. Jusuf, pada 3 Februari 1965.

Alexander Andries MaramisAlexander Andries Maramis. (Foto: kemenkeu.go.id)

2. Alexander Andries (AA) Maramis

Alexander Andries Maramis pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan  Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). 

Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Juni 1897 dan meninggal di Jakarta, 31 Juli 1977. Alexander pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama.

KH MasykurKH Masykur. (Foto: nu.or.id)

3. Kiai Masykur

Kiai Masykur adalah salah satu dari sekian kader santri yang ikut membantu mengawal kemerdekan dan berjuang dalam pemerintahan Indonesia. Saat berjuang untuk kemerdekaan ia menjadi komando Laskar Sabilillah yang dalam catatan militer dan perjuangan bangsa memiliki sumbangsih besar untuk Indonesia.

Seperti dilansir dari nu.or.id, Kiai yang lahir 30 Desember 1902 di Singosari, Malang, Jawa Timur diberi amanah oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Agama, pada akhir Kabinet Amir Syarifuddin ke-2 November 1947.

Ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.Pada Kabinet Hatta II dan terbentuk Kabinet Peralihan pada 1949,  Kiai Masykur juga diberi jabatan sebagai Menteri Agama. Ia juga pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Sebelum meninggal pada 19 Desember 1992, Kiai Masykur menggagas dan mendirikan Universitas Islam Malang (Unisma).

Prof Dr SardjitoProf Dr Sardjito, Rektor Pertama UGM Yogyakarta. (Foto: Dok. arsip UGM)

4. Prof. Dr. M. Sardjito

Prof. Dr. M. Sardjito merupakan dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Lahir di Magetan, Jawa Timur, 13 Agustus 1889 saat masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. 

Ia menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961. Meninggal pada 5 Mei 1970,namanya diabadikan sebagai nama sebuah rumah sakit daerah di Yogyakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.

Rohana KudusRohana Kudus, jurnalis perempuan jadi pahlawan. (Foto: istimewa)

5. Rohana Kudus

Rohana Kudus adalah wartawan Indonesia yang berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu yakni salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Ia menghabiskan waktu dengan beragam kegiatan yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. 

Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, Rohana memberikan bantuan melalui pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 itu menerima sejumlah pengharagaan, salah satunya sebagai Wartawati Pertama Indonesia.

Sultan HimayatuddinSultan Himayatuddin. (Foto: Istimewa)

6. Sultan Himayatuddin

Sultan Himayatuddin atau La Karambau atau menjadi satu-satunya Sultan Buton yang konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda hingga menghembuskan nafas terakhir. Ia diketahui berjuang selama 24 tahun yakni 1752-1776 melawan penjajah. []










Berita terkait
Ruhana Kuddus Jadi Pahlawan Nasional
Ruhana Kuddus ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi. Ruhana dikenal sebagai wartawati pertama di Indonesia.
Sejarah Taman Makam Pahlawan Kalibata
Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata sebelumnya berlokasi di Ancol, Jakarta Utara.
Nurtanio, Pahlawan Sekelas BJ Habibie Pencipta Pesawat
Nama BJ Habibie bersinar di dunia dirgantara nasional. Reputasi pencipta pesawat serupa juga ditorehkan sosok bernama Nurtanio Pringgoadisuryo.
0
Verifikasi MBR, Alasan Risma Belum Salurkan Bansos
Saat ini sudah 65.925 KK yang sudah diverifikasi oleh Pemkot Surabaya untuk nantinya mendapatkan Bansos dari Kemensos.