UNTUK INDONESIA
Dua Aksi Teror Dini Hari di Medan
Irvan menegaskan, jika kasus ini tidak terungkap, akan menjadi preseden buruk bagi kepolisian.
Literacy Coffee di Jalan Jati II No 1, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota yang diteror orang tak dikenal. (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Medan - Pukul 02.30 WIB, Amanda Lubis, 23 tahun, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di bilangan Padang Bulan, Medan, tiba di Literacy Coffee.

Kafe sudah tutup. Kafe itu menjadi lokasi nongkrong para aktivis. Sering menggelar acara diskusi dengan berbagai isu hangat di seputaran Medan dan Sumatera Utara.

Di kafe itu, ditemukan ratusan buku yang bejejer rapi di rak-rak di bagian dalam ruangan. Buku-buku itu bebas dibaca pengunjung, itu sebabnya pengelola kafe menyebutnya Literacy Coffee.

Amanda mencoba berteriak memanggil pengelola kafe, Jhon Fawer Siahaan, yang dipastikan sudah tertidur. Selain tempat usaha, Jhon juga tinggal di kafe tersebut. Ada tiga orang tinggal di sana, selain Jhon dan Amanda, ada juga Arif, juga seorang mahasiswa.

"Bang Jhon...!" teriak Amanda sesaat tiba di depan pintu kafe. Suasana sangat lengang karena memang sudah dini hari. Karena tak ada jawaban dari dalam, Amanda mengintip lubang rumah kunci. Tak ada kunci tergantung seperti biasanya.

Dia melihat ada sebuah sepeda motor di dalam. Dia bergumam, berarti Jhon sudah tidur di dalam kamar. Dia telat pulang karena kebetulan ada kegiatan ekstra di kampusnya.

"Aku teriak bang Jhon sebanyak dua kali, tapi tidak juga bangun, kemudian aku bermaksud komunikasi dengan Arif, sambil duduk di depan pintu dan di depan jendela," katanya.

Saat Amanda membuka ponsel dan menelpon ke nomor ponsel Arif, dia melihat satu orang naik sepeda motor metik jenis Scoopy muncul di bagian depan kafe. Menyusul dari belakang dua orang masing-masing naik sepeda motor metik juga.

Mereka kemudian turun dari sepeda motor masing-masing dan bersiap melempar sesuatu ke arah kafe. Amanda yang kaget melihat aksi ketiganya, meneriakinya.

Diduga kaget ada teriakan dari arah kafe, ketiganya menyurutkan aksi melempar. Berhenti dari arah depan, ternyata dari sisi kanan kafe yang terbilang gelap, sejumlah orang melakukan lemparan. 

Amanda LubisAmanda Lubis, mahasiswa yang menjadi saksi aksi teror di Literacy Coffee. (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

"Jadi jarak mereka bertiga gak jauh dari tempat aku duduk. Aku teriaki mereka, sehingga mereka tidak jadi melempar. Kemudian datanglah serangan atau teror dari samping, mereka melempar batu," tutur Amanda.

Lemparan batu hingga tiga kali membuat empat kaca samping kafe pecah. Tak hanya batu, ternyata para pelaku melempar plastik berisi bensin dan botol berisi minyak tanah dan bersumbu, seperti bom molotov.

Saat itu Amanda terkejut dan heran berbaur menjadi satu. Sadar dalam kondisi berbahaya, dia kembali berteriak sekuat tenaga agar didengar warga dan juga Jhon yang sedang tertidur pulas di dalam kafe.

Teriakan itu membuat pelaku terkejut dan kabur setelah melihat warga mulai ramai datang ke lokasi. Salah seorang pelaku sampai terlupa membawa helm miliknya, yang belakangan diamankan polisi sebagai barang bukti.

"Aku teriak kuat. Sehingga didengar oleh warga setempat. Kemudian bang Jhon Fawer juga terbangun dan Arif juga baru pulang. Kami lihat ada tiga plastik berisi bensin yang sudah dilemparkan pelaku, kemudian ada botol bersumbu dan berisi minyak tanah," tutur Amanda.

Amanda berkeyakinan para pelaku berniat membakar Literacy Coffee. Modusnya, memecahkan kaca dengan batu, menyiram dengan bensin dan membakar dengan botol bersumbu yang berisi minyak tanah.

"Setelah kaca pecah, mereka melempar bensin pakai plastik dan tumpah ke dalam rumah, kemudian mereka melempar botol bersumbu yang berisi minyak tanah, kalau botol bersumbu itu ada apinya, pasti terbakarlah rumah dan tempat usaha ini," katanya.

Jhon memutuskan untuk melaporkan aksi teror itu ke polisi. Dia mengajak Amanda dan Arif ke Polsek Medan Kota. Tidak berselang lama, sejumlah petugas kepolisian turun ke lokasi.

Dari sana polisi mengamankan barang bukti berupa helm, batu, botol berisi minyak tanah dan bersumbu. Polisi juga sudah memintai keterangan Jhon, Amanda dan Arif untuk menyelidiki aksi teror itu.

"Kami semua berharap agar polisi segera menangkap pelaku. Kami menjadi waswas dan takut. Kami juga takut adanya aksi teror yang selanjutnya. Sampai saat ini pelaku teror belum ada yang ditangkap," kata Amanda, Sabtu 19 Oktober 2019.

Bukan Persaingan Usaha

Jhon Fawer Siahaan, pengelola Literacy Coffee di Jalan Jati II No 1, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Medan, Sumatera Utara, merasa cemas.

Polisi belum juga berhasil mengungkap dalang dan pelaku yang dia sebut sebagai teror pada 12 Oktober 2019 dini hari itu.

Jhon menyebut polisi sudah memeriksanya dan dua rekannya, mengamankan sejumlah barang bukti dan melihat rekaman CCTV yang berada di seputaran lokasi kafe.

Jhon Fawer SiahaanJhon Fawer Siahaan, pengelola Literacy Coffee Medan. (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

"Setelah kejadian teror saya langsung mengadukan ke Mapolsek Medan Kota. Kepolisian juga sudah melakukan cek ke lokasi, tapi sampai saat ini belum ada keterangan dari petugas kepolisian, menangkap pelakunya, padahal mereka sudah melakukan interogasi," kata Jhon, Sabtu 19 Oktober 2019 malam.

Jhon berkeyakinan kasus ini tidak ada kaitan dengan persaingan usaha atau bisnis dengan kafe lainnya. Dia juga merasa warga sekitar kafe cenderung mendukung aktivitas kafe.

Kafenya memang sering menggelar kegiatan diskusi, mengundang berbagai piahk untuk membahas ragam isu di Medan dan Sumatera Utara.

"Kenapa saya bilang ngak ada persaingan bisnis, karena segmen kita juga berbeda, ini juga bukan usaha atau bisnis murni. Ada juga anak-anak warga di sini untuk diskusi dan tempat berkumpul pemuda. Di sini juga tidak ada narkoba dan perbuatan yang aneh, sejauh ini warga tidak ada yang protes, mereka cenderung mendukung," tutur dia.

Jhon mengaku sangat trauma dengan aksi teror tersebut. Dia takut ada serangan susulan. Dia meminta kepolisian bisa membuka kasus ini agar terang-benderang.

"Ini menurut saya adalah target pembunuhan, karena saya beruntung ada Amanda di lokasi saat kejadian. Kalau tidak ada dia, pasti tempat usaha ini sudah terbakar dan kami yang di dalam pasti akan kena dampaknya, jadi harapan saya agar kasus ini bisa terungkap," ujar Jhon.

Lalu apa respons polisi? Kapolsek Medan Kota AKP Rikki menyebut pihaknya sudah menangani kasus ini dan masih tahap penyelidikan. "Masih tahap penyelidikan, mohon bersabar ya," ujarnya.

Kantor LBH Medan Dilempar Bom Molotov

Sepekan pasca aksi teror di Literacy Coffee, teror kembali menyerang kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, di Jalan Hindu, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara, Sabtu 19 Oktober 2019 pukul 02.30 WIB.

Kantor LBH MedanKantor LBH Medan yang dilempar molotov oleh orang tak dikenal. (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Pelaku melemparkan bom molotov ke bagian atap kantor tersebut. Dua titik api menyala di atas genteng akibat lemparan bom molotov tersebut.

Beruntung warga dan petugas jaga di kantor tersebut cepat mengetahui sehingga langsung melakukan pemadaman. Kantor itu selamat dari amukan api.

Siang harinya, Wakil Direktur LBH Medan Irvan Saputra dan Koordinator Divisi Buruh dan Miskin Kota, Maswan Tambak, langsung menggelar konferensi pers di kantornya.

Mereka menyebut pelemparan bom molotov itu adalah perbuatan keji dan tidak bisa ditolerir. Mereka meminta kepolisian mengusut tuntas kasus aksi teror itu.

Irvan menegaskan, jika kasus ini tidak terungkap, akan menjadi preseden buruk bagi kepolisian. Apalagi, bentuk teror telah banyak diterima oleh mereka yang selalu mengabdi kepada masyarakat yang membutuhkan pendampingan hukum. Irvan mengungkap, teror juga kerap mereka terima melalui telepon.

"Kasus teror ini tidak akan bisa membuat kami menyerah, keberanian kami untuk memperjuangkan masalah hukum masyarakat tidak akan pernah surut, masih banyak masyarakat miskin yang membutuhkan keadilan dalam bidang hukum," kata Irvan.

Pasca kejadian, kepolisian sudah meminta keterangan sejumlah saksi, mengamankan barang bukti berupa bom molotov, melakukan cek lokasi, dan mengamankan rekaman CCTV. Terduga pelaku sudah terdeteksi.

LBH MedanPengurus LBH Medan ketika menggelar konferensi pers, Sabtu 19 Oktober 2019 di kantor LBH Medan, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartanto membenarkan, setelah mengamankan rekaman CCTV, pihaknya sudah melihat terduga pelaku.

"Rekaman CCTV yang ada di seputaran lokasi telah kita amankan. Terlihat terduga pelaku sebanyak dua orang yang berboncengan naik sepeda motor. Jadi kasus ini masih dalam penyelidikan, mohon doanya semoga cepat terungkap," kata Kompol Eko Hartanto.[]

Berita terkait
Aksi Teror di Kafe Tempat Aktivis Medan Nongkrong
Polisi dalam kasus ini sudah memeriksa sejumlah saksi, mengamankan sejumlah barang bukti dan melihat rekaman CCTV.
Dua Terduga Pelaku Pelempar Bom Molotov di LBH Medan
Hasilnya kepolisian telah mengetahui ciri-ciri terduga pelaku yang melemparkan bom molotov.
Kantor LBH Medan Dilempar Bom Molotov
LBH Medan yang beralamat di Jalan Hindu, Kota Medan, Sumatera Utara, dilempar bom molotov.
0
Pengakuan Kompol Sarponi Korban Bom Medan
Dua perwira yang bertugas di Polrestabes Medan, menjadi korban ledakan bom bunuh diri. Salah satunya, sempat tak sadar dirinya kena percikan bom.