UNTUK INDONESIA
Dishub Surabaya Temukan Enam Bus Tak Layak Jalan
Dishub Surabaya mengatakan enam bus tidak layak jalan ini lantaran ada kaca pecah atau retak setelah dilakukan Ramp Check.
Dishub Surabaya memeriksa surat-surat dan kondisi bus di Terminal Purabaya, Surabaya, Selasa 17 Desember 2019. (Foto: Tagar/Haris D Susanto)

Surabaya - Guna menciptakan rasa nyaman dan aman saat menjalani libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2020, Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya melakukan Ramp Check untuk angkutan bus di Terminal Purabaya, Selasa 17 Desember 2019.

Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Angkutan, Budi Basuki mengatakan, Ramp Check ini sebetulnya sudah dilakukan sejak awal Desember. Hasilnya ada enam bus yang tak layak jalan untuk angkutan Nataru.

"Ini kita lakukan menjelang nataru, dan sudah kita mulai pada 9 Desember kemarin. Hasilnya ada enam yang tidak layak jalan," kata Budi saat melakukan inspeksi di Terminal Purabaya, pagi tadi.

Budi menjelaskan, tidak layaknya jalan ke enam bus ini lantaran ada kaca pecah atau retak. Hingga kedalaman ban bus tak sampai satu milimeter.

Ini kita lakukan menjelang nataru, dan sudah kita mulai pada 9 Desember kemarin.

"Kurang lebih ada enam kendaraan yang tidak layak, kebanyakan kaca pecah sama kondisi ban kedalaman kurang satu millimeter," imbuh Budi.

Dengan adanya enam bus yang tidak layak, Budi menyebut pihaknya melakukan penilangan. Supaya pengemudi memperbaiki kerusakan bus, sebelum nantinya beroperasi kembali.

"Kalau sementara ini masih kita tilang. Kalau membahayakn kita keluarkan," tambah Budi.

Sementara itu, Budi menceritakan ada sopir bus yang tidak mau ditilang, karena kedapatan bus tak layak jalan dan ada kaca depan yang pecah.

"Tadi itu ada bus yang mau kita tilang, tapi drivernya bilang saya pulang aja. Ya silakan," ujar Budi.

Hal seperti ini menurut Budi sangat bagus, karena sopir bus mengerti kondisi kendaraannya yang tidak layak jalan. Apalagi menyangkut nyawa orang kalau misal dipaksakan beroperasi.

"Kalau semacam ini bagus, karena mereka itu peduli akan kesepamatan," papar dia.

Budi berharap ke depan Perusahaa Otobus (PO) bisa lebih peduli akan kendaraan yang dimiliki. Ia mencontohkan seperti pengecekan dan perawatan berkala terhadap bus.

"Kami berharap kepada pengusaha bus, mengerti hak dan kewajiban mereka. Bahwa mereka harus menjaga bus tersebut agar tetap layak jalan. Karena tiap perusahaan sebetulnya punya bengkel dan mekanik," ucap Budi.

Selain itu, menurut Budi pihaknya kini juga melakukan kerja sama dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya. Hal ini dilakukan supaya momen liburan anak sekolah bisa aman.

Terlebih kata Budi, setiap sekolah pasti mengadakan liburan dan menyewa angkutan pariwisata seperti bus. Dishub Surabaya menurutnya siap melakukan ramp ceck sebelum keberangkatan.

"Kita sosialisasi ke Dinas Pendidikan, kita sampaikan bahwa dalam rangka memilih bus yang digunakan untuk angkutan pariwisata untuk lebih selektif memilih," ujar dia.

"Dinas perhubungan siap datang membantu baik administrasi dan teknis, kalau pihak sekolah membutuhkan kami," imbuh Budi.

Sementara itu, untuk bisa mendatangkan pihak Dishub agar bisa melakukam ramp ceck terhadap bus yang akan mengantarkan siswa berlibur saat Nataru, Budi menyebut pihak sekolahan bisa berkirim surat ke pihaknya atau melalui Dinas Pendidikan.

"Misalnya berkirim surat kalau besok mau berangkat, kami akan lakukan ramp ceck pagi sebelum keberangkatan. Kalau tidak layak kami pulangkan," ucap Budi. []

Berita terkait
Peredaran Narkoba di Jatim Dikendalikan dari Lapas
Selama 2019, BNNP Jatim mengungkap 60 kasus peredaran narkoba dan rata-rata berkaitan dengan jaringan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
Alasan Polda Jatim Ambil Alih Kasus Lamborghini
Polda Jatim mengambil alih kasus Lamborghini yang terbakar di Surabaya karena bersamaan Polda Jatim menangani mobil mewah bodong.
BNNP Jatim Siapkan Tes Narkoba Bagi Calon Pengantin
BNNP Jatim bersama Kemenag telah menjalin kerja sama untuk melakukan tes narkoba terhadap calon pengantin.
0
Riwayat Kesehatan Bayi Suspek Covid-19 di RSUP Medan
Bayi berusia 40 tahun, suspek Covid-19 di RSUP Haji Adam Malik Medan, sejak lahir ternyata mengalami gangguan pernapasan.