Jakarta - Terik mentari masih setia mengiringi perjalanan Tagar menuju Jalan Swadaya I Manggarai. Setelah menyusuri jalan yang dipadati lalu lintas ibu kota, akhirnya sampai di gang kecil bernama Gang Bedeng. Pemukiman padat penduduk belum lama ini tertimpa musibah kebakaran.

Di depan gang terlihat sejumlah posko, didirikan untuk memberi bantuan. Ada posko dapur umum, pakaian bekas layak pakai, setiap orang bebas memilih pakaian yang sesuai dengan ukurannya.

Gang yang berliku Tagar susuri dengan perlahan, korban kebakaran menghiasi pemandangan sekitar. Tampak raut wajah tertekuk lesu, menyesali kejamnya si jago merah yang melahap rumah-rumah tempat tinggal. Beberapa di antara mereka ada yang menceritakan kronologi terjadinya kebakaran, seolah meringankan beban dalam hati.

Laki-laki, perempuan, kecil, dewasa seakan kompak menyisiri seluruh bagian rumah yang hangus dan rata dengan tanah. Mereka mencoba mengumpulkan sesuatu, berharap yang ditemukan mungkin masih berharga. Kenyataannya, hanya tumpukan tembok dan atap yang roboh, meleleh oleh panas api.

Kebakaran ManggaraiPosko dapur umum, pakaian bekas layak pakai. (Foto: Tagar/Ainul Yaqin)

Terlihat para warga sedang berkumpul dan berbincang, saling menguatkan. Tampak pula petugas PLN penuh hitam arang di tangannya, memutuskan beberapa kabel bekas terbakar.

Beberapa warga berinisiatif untuk memotong pipa aliran PDAM untuk membasuh muka, tangan dan menyirami asap yang berhembus akibat api yang masih membakar kayu di reruntuhan.

Kebakaran ini melahap sekitar 200 rumah warga di 6 RT. RT 5, 7, 10, 11, 12, dan 13. Semua rumah yang terbakar habis tanpa sisa. Kayu-kayu habis, motor ludes, peralatan dapur dan semuanya. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah, masih swadaya dari masyarakat dan sejumlah ormas.

Secara letak, pemukiman warga yang terbakar ini tepat di sebelah Gudang gudang Infinia Park milik PT Wahana Bhakti Utama yang seluruhnya dikelilingi pagar tembok setinggi 2 meter.

Hanya Bisa Menyelamatkan Nyawa

Sugik, 45 tahun, salah satu korban menceritakan kebakaran yang melalap rumah beserta isinya. Ia mengaku tidak sempat menyelamatkan barang berharga apapun dari dalam rumah. 

Menurut dia, api muncul karena terjadi percikan konslet listrik dari rumah salah seorang janda penduduk RT 13 RW 7. Dari percikan itu, janda itu ketakutan karena tinggal seorang diri.

Bukannya melapor ke warga untuk meminta bantuan, janda itu memutuskan lari keluar rumah begitu saja. Percikan api itu semakin membesar dan kemudian menjalar ke dinding pembatas rumah yang berbahan baku triplek. Kemudian api membesar diiringi hembusan angin musim kemarau.

Kebakaran ManggaraiKorban memunguti puing sisa kebakaran. (Foto: Tagar/Ainul Yaqin)

Sugik yang rumahnya hanya berjarak lima rumah dari sumber api sontak terkaget-kaget ketika mendengar teriakan warga. "Kebakaran.. Kebakaran," teriak warga.

Kondisi sugik saat itu sedang sakit migrain sehingga tidak masuk kerja dan istirahat di rumah, ditemani sang ibu. Ia yang sedang berbaring, dengan sekonyong-konyong langsung keluar untuk menyelamatkan diri. 

Baru keluar rumah, Sugik mendengar anak kecil yang sedang menangis di tengah Gang. Seketika ia menyelamatkan anak tetangganya itu untuk menjauh dari api.

"Saya lari cuma bawa baju yang menempel saja. Ijazah, surat-surat semua habis," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada diungkapkan Suminta, 37 tahun, ia langsung lari tanpa membawa barang berharga apapun. Karena panik mendengar terikan kebakaran warga.

"Yang penting mah nyawa saya selamat mas, baju aja tingga satu yang saya pakai ini," ujarnya.

Berharap Bantuan Bangun Rumah

Seorang ibu paruh baya terlihat memercikkan air saluran PDAM yang bocor ke wajah dan tangannya untuk menghilangkan panasnya terik matahari. Terlihat rona wajahnya meratapi rumah yang biasa digunakan melepas penat, kini tinggal puing-puing.

Matanya terlihat ingin mengeluarkan air mata ketika berbicara, namun seolah tertahan, mengering, seperti sudah banyak tertumpah. Berkali-kali ia menunjukkan rumah petak 4x4 meter, tempat ia tinggal bersama ketiga anaknya yang sudah beristri dan beranak.

Dalam hitungannya, ada tujuh orang cucu yang ikut tinggal bersamanya, sedangkan suaminya sudah meninggal. Ketiga anaknya belum mampu untuk membeli rumah sendiri. Terpaksa semua anak, menantu dan cucu berkumpul bersama. Kini kebersamaan itu hilang, seiring mengamuknya si jago merah.

Anak saya bekerja tukang sapu jalanan, yang satunya baru masuk kerja bagian teknisi benerin AC, satu lagi penjaga toko obat (apotek) di Jatinegara.

Tak banyak yang diharapkan Rumini, ia hanya berharap semoga ada bantuan untuk membangun lagi rumahnya. Dia sendiri sekarang sudah tidak bekerja, sehari-hari hanya di rumah menjaga cucu-cucunya. Kini, harus mengungsi di Lapangan Merah yang disediakan untuk pengungsian. Sedangkan dua anak dan keluarganya numpang di rumah keluarga yang tinggal masih di sekitar Manggarai.

Bagi Rumini, rumahnya menjadi penting, karena satu-satunya warisan berharga dari sang suami. Kalaupun pulang ke kampung ia takut menyusahkan keluarga yang ditumpangi nantinya.

"Saya nggak punya apa-apa. Semoga ada bantuan untuk bangun-bangun," harap nenek asal Cirebon, Jawa Barat itu.

Pulang Kerja, Rumah Sudah Rata

Perasaan kacau menyelimuti hati Rahmad, 24 tahun, dengan mata agak memerah tanda kurang tidur, ia mulai menceritakan sempat syok, begitu pulang kerja rumahnya sudah hangus terbakar. Ia tidak tahu persis kapan kejadiannya, namun merasakan betul kehilangan rumah yang sejak lahir telah ditempati.

Rahmad yang bekerja sebagai karyawan PT Smartfren Telecom ini berkali-kali mengambil gambar rumahnya, tersisa bangunan tembok saja. Ia menyesali tidak bisa menyelamatkan surat-surat berharga miliknya. Namun bersyukur seluruh keluarga selamat dari musibah.

Kebakaran ManggaraiSeorang bocah mengambil sisa selang alumunium bekas Elpiji untuk dijual. (Foto: Tagar/Ainul Yaqin)

Terlihat, bekas rumah Rahmad telah dibersihkan, bisa digunakan untuk beristirahat dengan tikar sebagai atapnya. Anggota keluarga yang lain, mengungsi di rumah saudara untuk sementara waktu.

"Sedih, ya beginilah keadaannya," katanya penuh arang ,bekas membersihkan reruntuhan rumah.

Kebakaran Serupa Pernah Terjadi Pada 1974

Kebakaran yang melanda pemukiman itu pernah terjadi 45 tahun silam. Kejadian dan lokasinya hampir sama persis dengan kebakaran kemarin. Yang membedakan, kebakaran kemarin hanya melahap 6 RT. Sedangkan pada 1974, kebakaran menghancurkan pemukiman warga dua kali lipat.

Pada 1974 kebakaran dipicu karena petromak salah satu warga yang terjatuh mengenai motor, kemudian api menyambar dan meluas di terpa angin. Sekarang, karena konsleting listrik.

"Suasananya sama persis seperti sekarang, waktu itu saya masih SMA," ungkap Endang yang sedang beristirahat usai membersihkan puing tembok.

Menurut Endang, pada 1974 tidak ada sama sekali bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali rumah yang terbakar. Ia berharap kali ini bisa berbeda.

"Dulu zaman masih sulit. Sekarang baju, makanan langsung ada," katanya lagi.

Lambatnya Damkar Sebabkan Luasnya Rumah Terbakar

Petugas Pemadam Kebakaran dinilai lambat dalam mengusir si jago merah. Hal tersebut dikarenakan karena susah dijangkaunya pemukiman yang terbakar karena berda di gang sempit.

Ruslan, 60 tahun, mengatakan rumah yang terbakar dapat diminimalisir jika petugas kebakaran bergerak cepat. Sesuai perjanjian antar warga dan PT Wahana Bhakti Utama, jika terjadi kebakaran, tembok pagar yang mengelilingi pabrik harus dijebol tanpa izin, untuk masuknya pemadam kebakaran.

Tetapi yang terjadi, ketika Damkar datang masih harus meminta izin untuk menjebol pagar. Hasilnya hanya ada lima lubang, untuk masuknya pipa Damkar ke daerah pemukiman warga.

Mestinya gausah izin, sudah ada perjanjian tertulis kok dari dulu. Karena izin ini itu akhirnya seperti sekarang ini.

Ruslan menyesali kejadian itu, sehingga tak heran jika ketika Damkar datang banyak warga memaki-maki karena lambatnya dalam menjinakkan api.

Pemicu Kebakaran Menyerahkan Diri ke Polisi

Seorang janda yang belum diketahui namanya yang arus listrik rumahnya menjadi pemicu kebakaran menyerahkan diri ke pihak Kepolisian karena takut diamuk massa. Sang janda tersebut telah mengakui kesalahannya karena melarikan diri saat muncul percikan di rumahnya.

"Dia langsung menyerhakan diri ke Polisi, takut dihakimi massa," ungkap Ricky yang rumahnya juga menjadi kobaran kebakaran. []