Jakarta - Perempuan muda bertubuh ramping dengan rambut panjang tergerai di balik kotak kaca berisi deretan makanan itu seketika menyita perhatian. Dia adalah Citra pemilik Warteg (Warung Tegal) Jaya Bahari di kawasan Condet, Jakarta Timur.  

Senyum manisnya akrab menyapa para tamu, untuk kemudian menanyakan makanan dan minuman yang diinginkan. Lalu dengan gesit dia akan mengambilkan permintaan kita, Setelah siap, dia menyodorkan dengan ramah.

Perempuan belum genap 30 tahun itu menjalankan usaha warteg bersama suaminya sejak 2 tahun lalu. “Saya ikut merantau ke Jakarta nge-bantu suami menjalankan usaha warteg. Kebetulan suami saya orang Tegal asli. Kalo Saya asli Banten,” ujar Citra. 

Meskipun memiliki paras yang membuat pelanggan selalu ingin datang dan datang lagi ke wartegnya, Citra tidak merasa rendah diri. Bahkan dia ikut bahu membahu dengan suaminya merasakan manis pahitnya usaha itu.

Dia mengaku menjalankan usaha warteg saat ini tidak mudah. “Tidak mudah sekarang ini menjalankan usaha warteg, harus lebih pintar. Apalagi, usaha ini masih terbilang cukup muda dan saingan banyak,” ujar perempuan yang mempekerjakan 5 orang dan melayani rata-rata 40 orang setiap hari. “Kalo sekarang ini, sebenarnya lagi agak susah. Sekarang ini lagi nggak terlalu rame orang makan disini. Paling banyak biasanya saat sarapan sampai jam makan siang. Kalo udah sore sampai malam udah jauh lebih sepi.” 

Penurunan jumlah pengunjung itu berimbas pada penurunan omzet penjualan. “Pas musim sepi kayak gini, paling kuat omzet kita rata-rata sekitar Rp 1,2 sampai Rp 1,5 juta per hari. Sementara kalo dihitung laba bersihnya tiap hari sekitar Rp 300-400 ribu per hari. Pendapatan jadi agak kecil karena omzet itu diputar untuk biaya belanja bahan makanan dan biaya masak setiap hari. Modal seperti itu yang sulit dihindari dan biayanya lumayan besar. Sementara, kalo dulu mampu dapat omzet rata-rata 2 - 3 juta tiap hari,” tutur Citra.

Namun Citra tidak patah semangat. Dia yakin kalau usahanya tetap bertahan. Ke depan, dia akan menerapkan strategi-strategi jitu agar wartegnya bisa bersaing dengan yang lain.

Strategi Bersaing Warteg

Sebagaimana ide Citra, layaknya sebuah usaha, warteg juga perlu menerapkan strategi jitu. Beberapa strategi atas usaha yang sudah dirintis sejak tahun 1960-an itu adalah buka 24 jam, menjadi tempat nongkrong untuk ngopi, dan bahkan, memperkerjakan para wanita menarik.    

Windy Nurjannah, 25 tahun, perempuan asal Brebes, Jawa Tengah, melakoni profesi sebagai pelayan Warteg sejak Februari 2019 lalu. 

“Awalnya sih Saya pengen kerja di kampung karena dekat sama orang tua. Tapi karena nyari kerja di kampung susah sementara Saya pengen membantu ekonomi keluarga, akhirnya Saya memutuskan untuk ikut saudara yang punya usaha warteg di Jakarta,” ujar Windy saat ditanya mengenai alasannya memilih pekerjaan sebagai pelayan warteg. 

Pemilik Warteg Latifah merekrut Windy karena pertimbangan ketiga, yaitu mempekerjakan wanita cantik. Warteg yang sudah buka sejak sekitar tahun 2010 itu mempekerjakan 2 orang dan buka 24 jam setiap hari. 

WindyWindy (kanan) di tempat kerjanya, Warteg Latifah. (Foto: Tagar/Dedi Hutapea)

Warteg Latifah memang cukup sederhana, namun cukup ramai didatangi pengunjung terutama pada jam tertentu. "Warteg ini juga mampu meraup omzet sekitar 700 ribu sampai 1 juta rupiah setiap hari," ujar Windy. "Setiap hari itu pasti ramai, apalagi waktu sarapan dan jam makan siang.”

Bekerja di warteg bukan suatu hal yang mudah karena warteg-nya harus buka 24 jam setiap hari. "Kita sih nyiasati-nya dengan shift. Pagi sampai malam biasanya kami berdua saja, tapi kalau udah agak larut malam biasanya bos. Kami sesekali aja kalo bos lagi nggak di tempat. Jadi kalau pas lagi jam kosong harus kami maksimalin untuk istirahat di lantai 2,” ujar Windy sembari menunjuk temannya.

Selain itu, Windy juga menghadapi tantangan lain di tempat usaha yang biasanya dijalankan secara turun temurun itu, yaitu proses beradaptasi dengan lingkungan sosial, belajar bahasa masyarakat Jakarta, hingga perasaan rindu pada keluarga. Namun, Windy tetap bersyukur dengan pekerjaan yang dia miliki. Meskipun menjadi pelayan warteg tapi cukup membantu perekonomian keluarga. []