Indonesia
Depok dan Bekasi Tiru Polisi Jadi Emak-emak Tangkap Begal?
Kepolisian di wilayah Depok, Bekasi dan Jakarta didorong meniru aksi polisi menyamar sebagai emak-emak berkerudung di wilayah Medan Timur itu.
Anggota Tim Pegasus Polsek Medan Timur melakukan penyamaran sebagai emak-emak dengan menggunakan daster dan kerudung guna menangkap para begal di Medan, Sumatera Utara. (Foto: Facebook/Yuni Rusmini)

Jakarta - Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan aksi Tim Pegasus Polsek Medan Timur yang menangkap tiga pelaku pencurian kekerasan atau begal dengan cara menyamar sebagai emak-emak berkerudung. Kriminolog dari Universitas Indonesia Mintarsih A Latief mendorong kepolisian di wilayah Depok, Bekasi dan Jakarta meniru aksi serupa yang dilakukan di wilayah Medan Timur tersebut.

Namun, Mintarsih menggarisbawahi yang harus ditiru adalah inisiatif untuk menangkap begal. Begitu juga, tindakan untuk memancing pelaku dengan meniru ciri-ciri yang kerap menjadi target begal. 

"Kebetulan ini salah satu inisiatif. Bisa saja dilakukan untuk memancing begal keluar. Kalau tidak dipancing akan lebih susah ditangkap orang-orangnya (begal). Itu memang perlu dilakukan untuk memancing, agar tidak sulit untuk menangkapnya," kata dia kepada Tagar, Sabtu 20 Juli 2019.

Hingga saat ini, Mintarsih beranggapan kepolisian di wilayah Jakarta, Depok dan Bekasi masih kurang untuk berinisiatif membekuk begal. Menurutnya, bila tindakan mencegah begal dengan menggunakan seragam lewat patroli, tentu begal enggan keluar dari "markas"nya.

"Kalau kita lihat dari faktanya memang kurang ya. Kenapa kurang? Apakah masalah di sini (Jakarta, Depok dan Bekasi) lebih besar? Atau terlalu banyak masalah politik, kita kan gak tahu," ujar dia.

Upaya patroli berseragam lengkap tiap malam seperti yang dijalani Tim Jaguar Polres Depok juga patut diapresiasi. Namun, sebaiknya ada tim lain tanpa seragam lengkap untuk menciduk begal dan menekan angka kriminalitas di wilayah masing-masing. 

"Patroli juga bagus, tetapi dilakukan dengan macam-macam variasi. Karena jika menangkap dengan cara patroli hanya akan menangkap salah satu kelompok tertentu," ujar dia.

Melihat kuantitas anggota kepolisian di wilayah Jakarta, Depok dan Bekasi, Mintarsih mempertanyakan prioritas utama aparat keamanan di wilayah tersebut. "Walaupun seandainya ini merupakan bukan prioritas utama, tetap harus ada bagiannya. Jangan terus ditinggal begitu saja. Ditinggal karena bukan prioritas, lama-lama akan menjadi tambah banyak," kata dia.

Tak jauh berbeda diungkapkan Pakar Hukum Pidana Akhyar Salim. Berbagai cara harus dilakukan untuk meringkus kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat, terlebih ketika malam tiba. 

Bila upaya Tim Pegasus Polsek Medan Timur menyamar menjadi emak-emak berkerudung dianggap tepat sasaran, maka sepanjang tidak ada surat edaran dari Mabes Polri maka metode meringkus begal akan selalu berbeda-beda di tiap wilayah kepolisian.

"Setiap ini (kepolisian) memang mempunyai cara masing-masing. Kecuali ada cara yang seragam dikeluarkan oleh Mabes Polri. Seperti adanya surat edaran. Sepanjang tidak adanya edaran, tentu akan berbeda-beda (cara menangkap begal) dengan yang lain. Sepanjang tidak melanggar aturan," ujar dia.

Menurut Akhyar, tindakan mencegah begal yang dilakukan kepolisan tidak akan serupa. Ditinjau dari apa yang telah dilakukan kepolisian saat ini di wilayah masing-masing. Musababnya belum tentu cara penyamaran di suatu tempat, cocok dengan di lokasi rawan kriminal lain. 

Komando untuk proses menekan kriminalisiasi berikut model tindakannya, kata Akhyar, dimulai dari Kapolres bersama jajarannya, dalam hal ini kapolsek. "Nanti mereka berkoordinasi dalam rapat. Apa yang harus mereka lakukan untuk pemberantasan (begal) itu tadi. Jadi kembali kepada kebijakan polres masing-masing. Kecuali ada tindakan umum dari Mabes Polri," ujar Akhyar.

Baca juga: 

Berita terkait
0
Tewas Sebelum Skripsi, Orang Tua Gantikan Anaknya Wisuda di UNS Solo
Dwi Yan Merbaningrum tak kuasa menahan tangis saat menerima ijazah anaknya Irza Laila Nur Trisna saat upacara wisuda UNS Solo.