UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Polisi Amerika Vs Polisi Indonesia
Di Amerika, pendemo diinjak, dikeroyok, ditabrak. Di Indonesia, pendemo diajak salawatan. Polisi Amerika versus polisi Indonesia. Denny Siregar.
Terrence Floyd mengunjungi lokasi dekat saudara lelakinya George ditahan oleh polisi Minneapolis dan kemudian meninggal dunia, di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, Senin, 1 Juni 2020. (Foto: Antara/REUTERS/Eric Miller)

Pada waktu demo besar di Indonesia bulan November tahun 2016, atau kita kenal dengan 411, saya sempat ngeri melihat situasi di Indonesia. Bukan ngeri melihat pendemonya yang jumlahnya dibesar-besarkan itu, tetapi ngeri ketika negara salah menangani situasinya.

Belajar dari negara-negara Timur Tengah waktu ramai-ramainya Arab Spring, di sana aparat selalu melakukan kekerasan dalam menghadapi pendemo. Kekerasan oleh aparat itu memang dinantikan pendemo yang punya strategi hit and run itu.

Mereka sengaja menciptakan korban jiwa untuk membesarkan skala kerusuhannya. Dan ketika ada korban jiwa, mereka menggunakannya sebagai simbol perlawanan untuk menarik simpati yang lebih besar lagi.

Itu seperti mengguyur bensin di pusat api. Bahkan para pendemo memainkan strategi playing victim. Ketika ada korban luka karena kekerasan aparat, mereka kemudian memfotonya dan menyebarkan dengan caption yang menyentuh dan membuat geram. Kalau kurang seram, mereka bisa ambil foto-foto kekejaman dari negara lain dan mengunggahnya di media sosial seolah-olah itu terjadi di dalam negeri.

Ruang media sosial kita memang memungkinkan untuk itu, beda dengan saat arus informasi hanya dikuasai rezim yang berkuasa, seperti dulu waktu zaman orde baru mengontrol semua media. Dan kita lihat akhirnya. Beberapa negara pun jatuh, mulai Tunisia sampai Mesir. Hanya Suriah yang selamat dan bertahan, karena presidennya didukung rakyatnya yang mulai sadar bahwa perang mereka bukan saja dengan ISIS, tetapi juga melawan hoaks yang merajalela.

Tetapi waktu 4 November 2016 atau 411 lalu, aparat kita bukan lagi aparat yang menangani kerusuhan 1998. Dipimpin Kapolri Tito Karnavian waktu itu, yang sangat berpengalaman menghadapi terorisme, negeri ini selamat dari kerusuhan besar karena kepolisian menerapkan konsep persuasif.

Dan banyak dari kita yang masih belum mendapat pencerahan betapa hebatnya aparat kita dalam menangani demo-demo anarkis sekarang, sampai mereka melihat sendiri betapa brutalnya polisi di Amerika dalam menangani demo anarkis di negaranya.

George FloydSeorang warga lokal berdiri di depan memorial penghormatan sementara kepada George Floyd, di lokasi dimana ia ditahan oleh polisi, di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, Senin, 1 Juni 2020. (Foto: Antara/REUTERS/Carlos Barria)

Saya kaget juga pada waktu itu melihat aparat kita tiba-tiba memakai peci, sorban, dan bersalawat bersama para pendemo. Buat saya, ini strategi sangat jenius. Ibarat ketika berada di tengah serigala, kita jangan berlaku seperti kambing karena pasti dimangsa. Berlakulah seperti serigala juga dan membaurlah di tengah mereka.

Ketika sudah berada di tengah pendemo dan membaur, tanpa disadari kelompok itu, aparat meredam semua gerakan mereka dari dalam, memecah mereka menjadi beberapa barisan, dan menggiring mereka keluar perlahan-lahan.

Saya menamakan strategi ini dulu sebagai strategi keran air. Ketika saluran mampat, keran harus dibuka pelan-pelan dan alirkan ke tempat yang lebih aman. Kalau saluran itu tidak dibuka, meledaklah selangnya dan air akan meluber ke mana-mana.

Saya harus angkat topi buat Pak Tito dan jajaran keamanan pada waktu itu yang disiplin menjaga barisan dan strateginya. Dan saya tahu Pak Tito menjaga perintah Pak Jokowi untuk mengamankan situasi tanpa menimbulkan keributan. 1-0 untuk Polri melawan pendemo.

Begitu juga waktu aksi 212, aparat kembali membuat gol cantik dengan menjadikan demo itu demo damai. Bagaiamana enggak damai? Pagi-pagi pentolan-pentolan pembuat ribut itu dijemput di rumah mereka masing-masing. Tidak ditahan memang, tapi dengkul mereka langsung pada gemetar dan pada waktu aksi sudah enggak berani berkoar-koar.

George FloydDeLois Gilliam-Day mengatup tangannya saat berdoa dalam perkumpulan komunitas mengingat George Floyd, Breonna Taylor dan Ahmaud Arbery di First African Methodist Episcopal Church di Seattle, Washington, Amerika Serikat, Senin, 1 Juni 2020. (Foto: Antara/REUTERS/Lindsey Wasson)

Dan gol penutup yang cantik dari Polri adalah waktu demo pasca-Pilpres 2019. Berbekal laporan intelijen yang kuat kalau demo itu sengaja dibuat untuk membakar Indonesia dan akan ada beberapa korban jiwa yang dikorbankan oleh mereka supaya polisi terkena fitnah, kepolisian pun bergerak lebih cerdik lagi.

Polisi bahkan dihadap-hadapkan dengan pelajar, supaya kalau ada pelajar itu yang mati, maka teriakan HAM dari seluruh dunia akan menyalahkan aparat, dan pendemo akan mendapat simpati dari masyarakat, lalu kerusuhan pun akan meluas.

Tetapi yang dihadapi pendemo itu bukan besi, aparat mengubah dirinya menjadi spons, meredam gelombang demo yang seperti bah sehingga mereka frutasi dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing dengan kecewa.

Skor 3-0 untuk aparat keamanan, gabungan TNI, dan polisi melawan pendemo nasi bungkus. Kemenangan ini menghantarkan rasa simpati dan hormat masyarakat kepada aparat, sehingga kondisipun berbalik. Kalau pada tahun 1998, masyarakat benci kepada aparat, tahun 2019 pendemo itulah yang dibenci rakyat dan aparat mendapatkan tepuk tangan panjang dan ciuman mesra dari penduduk Indonesia.

George FloydKembang api terlihat di belakang Polisi Ferguson saat protes atas kematian pria Afrika-Amerika George Floyd saat ditahan oleh polisi Minneapolis, di Ferguson, Missouri, Amerika Serikat, Minggu, 31 Mei 2020. (Foto: Antara/REUTERS/Lawrence Bryant)

Foto-foto dan video humanis bagaimana kerja keras aparat menghadang mereka adalah gambaran dari dukungan masyarakat luas kepada polisi dan TNI di lapangan.

Dan banyak dari kita yang masih belum mendapat pencerahan betapa hebatnya aparat kita dalam menangani demo-demo anarkis sekarang, sampai mereka melihat sendiri betapa brutalnya polisi di Amerika dalam menangani demo anarkis di negaranya.

Kita melihat di sana ada pendemo yang diinjak, dikeroyok, bahkan ada yang ditabrak pakai mobil polisi segala. Bayangkan, kalau polisi kita kemarin berlaku seperti polisi di Amerika, sudah selesai negeri kita ini dan belum tentu kita bisa ngopi di rumah dengan nikmat seperti sekarang ini.

Jadi, tidak berlebihan kita memberi penghargaan kepada pihak keamanan seperti polisi, TNI, pihak intelijen di lapangan, dan pihak-pihak yang ingin negeri ini tetap tenang. Terima kasih juga kepada Bapak Tito Karnavian, mantan Kapolri yang sudah menetapkan standar paling tinggi dalam kariernya. Juga Bapak Jokowi, Presiden Republik Indonesia yang sudah memerintahkan supaya tidak menghadapi pendemo dengan senjata di tangan, tetapi dengan komunikasi yang matang.

Saya tidak tahan untuk menghadiahkan secangkir kopi untuk aparat kita yang semakin profesional dalam tugasnya.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: 

Berita terkait
Covid-19 Amerika Serikat Tembus Angka 1,5 Juta
Kasus Covid-19 di Amerika Serikat terus bergejolak sementara warganya menolak protokol kesehatan WHO, kini kasus di negeri itu mencapai 1.504.881
George Floyd Meninggal Buat Justin Bieber Anti Rasis
George Floyd meninggal di tangan polisi, sehingga hal itu turut mengundang empati Justin Bieber yang menyuarakan anti rasis secara vokal.
George Floyd Meninggal, Lady Gaga: DonaldTrump Gagal
Lady Gaga menyebut Donald Trump gagal memimpin AS terkait meninggalnya George Floyd ditangan polisi.
0
Martinez Sudah Oke, Tapi Barca Tunggu Tahun Depan
Striker Inter Milan Lautaro Martinez sepakat dengan kontrak 5 tahun dari Barcelona. Namun Barca harus menunggu tahun depan untuk merekrut Martinez.