UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Investasi Bodong Kebun Kurma
Kenapa investasi kebun kurma? Bukan durian atau pepaya? Ini lagi-lagi berkaitan agama. Kurma buah yang disukai Nabi katanya. Opini Denny Siregar.
Ilustrasi - Pohon Kurma. (Foto: Pixabay/Simon)

Saya ingat sekali sekitar tahun 2000-an, seorang bapak menangis.

Uang pensiunnya seluruhnya diinvestasikan ke peternakan bebek. Investasi yang menjanjikan keuntungan sampai 30 persen sebulan itu bangkrut karena seluruh uang investor dibawa kabur oleh pemiliknya.

Memang siapa yang tidak percaya dengan investasi itu pada waktu itu? Banyak artis yang berbicara tentang bagusnya investasi itu dan pengembalian keuntungan yang dipercaya. Dan ketika si pemilik kabur, artis-artis itupun terdiam seribu bahasa, mungkin karena malu karena dia juga berinvestasi di sana.

Kenapa kurma? Kenapa bukan durian atau pepaya?

KurmaIlustrasi buah kurma kering. (Foto: Pixabay/jackmac34)

Heboh investasi kebun kurma ini mirip dengan situasi seperti itu. Hanya investasi ini mengikuti perkembangan tren, tidak lagi memakai artis sebagai promotornya, tetapi ustaz.

Ya, ada embel-embel syariah dan tanpa riba dengan semua ayat keluar sebagai pemanis jualan. Dan "ustaz" Ali Jaber juga almarhum Arifin Ilham sempat menjadi saksi kesuksesan untuk meningkatkan kepercayaan.

Kenapa kurma? Kenapa bukan durian atau pepaya? Ya, ini lagi-lagi berkaitan dengan agama, karena kurma adalah buah yang disukai Nabi katanya.

Dengan semua rayuan passive income, atau cukup duduk saja uang nanti masuk rekening sendiri, orangpun berduyun-duyun masukkan duitnya ke sana. Enak. Gak perlu kerja, gak perlu keringat, tinggal menunggu duit datang secepat setan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebenarnya sudah memperingatkan bahayanya investasi kebun kurma ini, tapi tindakan mereka kurang cepat, keburu banyak yang rugi. Entah kenapa, di negara ini selalu suka menjadi pemadam kebakaran. Baru bertindak kalau api sudah membesar.

Saya belum dapat data berapa kerugian total, tetapi biasanya jumlahnya sudah mencapai puluhan bahkan ratusan miliar. Meski tidak akan sebesar penipuan berbaju agama terbesar lewat umrah oleh Abu Tour and travel sejumlah 1,6 triliun rupiah.

Apakah masyarakat akan kapok dengan model investasi seperti ini?

Kayaknya tidak. Sekarang boleh saja syok, tetapi beberapa tahun kemudian mereka lupa. Dan model investasi yang sama, yang menawarkan cara mudah dan uang datang begitu saja, akan muncul lagi. Entah bungkusnya apa, sesuai tren yang terjadi nanti.

Kalau untuk investasi, belajarlah pada Bapak Surya Paloh. Dia pintar berinvestasi dengan membuat partai sendiri, yang nanti akan melantik dirinya sendiri, membuat stasiun televisi yang membicarakan dirinya sendiri, dan memilih dirinya sendiri.

Setidaknya tidak ada yang menipunya, karena semua tentang dirinya sendiri.

Seruput kopi.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca tulisan lain:

Berita terkait
Kebijakan Ekonomi Belum Efektif Tingkatkan Investasi
Paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintahan Kabinet Kerja I belum efektif dalam mendorong peningkatan investasi
2 Negara Tertarik Investasi di Ibu Kota Baru Indonesia
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan Cina dan Rusia berminat investasi di wilayah ibu kota baru di Provinsi Kalimantan Timur.
Jokowi Bandingkan Izin Investasi di Indonesia dan Arab
Jokowi membandingkan proses perizinan investasi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dengan di Indonesia.
0
Haedar Nashir dan Strategi Menghadapi Radikalisme
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir memaparkan strategi menghadapi radikalisme dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar UMY ke-14.