Oleh: Denny Siregar*

Mendadak gempar dunia persilatan ketika terdengar kabar ada surat tercoblos di Selangor, Malaysia.

Situasinya aneh. Tiba-tiba pendukung Prabowo di sana memvideokan penemuan orang sedang mencoblos kertas suara. Video ini langsung viral dengan narasi "pendukung Jokowi curang!"

Langsung saja situasi itu menjadi perdebatan.

Partai Nasdem langsung mengadakan konferensi pers bahwa ini "permainan kotor". Bagaimana mungkin surat suara yang dalam pengawasan ketat, bisa lolos dalam jumlah besar dan dibawa ke ruko kosong. Bagaimana pendukung Prabowo bisa menemukan ruko itu dan langsung memvideokannya?

Ganjil memang, seganjil kondom bergerigi Andi Arief yang tidak terpakai.

Banyak yang curiga, kasus ini akan menguatkan narasi dari pendukung Prabowo bahwa ini bukti pemilu curang. Sebelumnya narasi itu sudah dibangun, bahkan Amien Rais sampai bicara people power segala

Ini bukan kasus pertama. Sebelumnya ada kasus oplas Ratna Sarumpaet, 7 kontainer kotak suara dan terakhir isu server KPU sudah disetting untuk kemenangan Jokowi. Untuk yang terakhir sudah ditangkap polisi. Dan kabarnya, itu pendukung Prabowo. Semua kasus hoaks itu berasal dari pendukung Prabowo.

Pertanyaannya, kenapa dilakukan di Malaysia, bukan di Indonesia? Ada yang menjawab, kalau di Indonesia, polisi akan beraksi dan aksi cepat ketahuan. Polisi kita sekarang beda dari tahun 2014 lalu. Mereka lebih siap dalam menangani hoaks sebelum membakar. Karena itulah aksi dilakukan di luar negeri.

Ini bukan kasus pertama. Sebelumnya ada kasus oplas Ratna, 7 kontainer kotak suara dan terakhir isu server KPU sudah disetting untuk kemenangan Jokowi.

Saya sendiri curiga, permainan ini adalah edisi lanjutan dari skenario gagal sebelumnya. Tujuannya bukan lagi mengambil suara Jokowi, karena perbedaan suara di antara mereka besar sekali.

Tetapi tujuan sebenarnya membangun chaos di dalam negeri. Sesudah kasus-kasus itu, kabarnya akan dikerahkan demo di dalam negeri untuk membuat situasi keruh dan menggagalkan Pemilu.

Semoga cepat tertangkap pelakunya dan ada kejelasan dari kasus ini.

Tapi satu hal yang bisa kita catat, betapa kotornya permainan kubu sebelah. Mereka mengandalkan hoaks sebagai jalan kemenangan, bukan program yang diterima masyarakat.

Rekam jejak kasus hoaks sebelumnya bisa dijadikan catatan, bahwa semua itu berasal dari kubu 02. Dan cara-cara menjijikkan seperti ini melukai pesta demokrasi kita yag seharusnya ceria.

Model-model curang inilah yang menguatkan saya bahwa Jokowi harus menang. Saya tidak bisa membayangkan seandainya Prabowo yang menang, pendukungnya akan melakukan banyak hoaks untuk tetap berkuasa. Karena hoaks menjadi makanan sehari-hari mereka.

Tidak bisa tidak. Pendukung Jokowi harus bekerja keras untuk memenangkan Pemilu ini. Karena ini bukan lagi sekadar pemilu, tetapi sudah berupa "perang" apakah kelak Indonesia akan maju dan menjadi negara dengan ekonomi keempat terbesar di dunia, atau malah hancur berantakan karena fitnah dijadikan alat untuk mengontrol kekuasaan.

Seruput kopinya....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: