Oleh: Eko Kuntadhi*

Debat kali ini rasanya berbeda. Prabowo tampil agresif. Semua disalahkan. Seolah dalam semua hal, cuma dia saja yang benar.

Dia menyalahkan TNI. Mencela para petinggi militer, yang katanya hanya  memberi laporan yang menyenangkan Presiden saja. Bahkan mencurigai bahwa laporan-laporan itu cenderung palsu.

Di kepala Prabowo, Indonesia seperti sedang darurat perang. Serba kritis. Oleh sebab itu, menurutnya militer kita harus siap-siap angkat senjata. Entah, kita bakal perang sama siapa.

Nuansa kemarahan tampak dari bicaranya. Dia menuding elit membawa lari kekayaan Indonesia ke luar negeri. Jokowi hanya tersenyum menanggapi omongan itu. Wong, nama perusahaan Prabowo dan Sandiaga yang tercantum di Paradise Papers, kok malah menuding orang lain yang membawa kekayaan kita ke luar.

Sebagai informasi, Paradise Papers adalah semacam catatan berisi daftar orang-orang kaya di Indonesia yang menempatkan hartanya di negara surga pajak. Biasanya dilakukan untuk menyembunyikan hartanya dan untuk menghindari membayar pajak kekayaan.

Prabowo mencela alutsista kita yang menurutnya memble. Dia gak tahu, kini PT Pindad didorong untuk mampu memproduksi alat-alat tempur. Dia hanya mementingkan bagaimana penambahan anggaran beli senjata. Dari mana uangnya? Mbuh!

Bagi Jokowi, bukan itu masalahnya. Kita membutuhkan alat perang yang memadai, memang iya. Tapi dunia saat ini, bukan lagi dunia di mana Prabowo dulu jadi tentara. Dunia sudah berubah jauh.

Perang bukan melulu harus berhadapan senjata dan alat tempur. Tetapi kini perang cyber lebih mengkhawatirkan. Bagi Jokowi, soal alat tempur bisa dibeli sesuai kemampuan keuangan negara. Gak harus maksain.

Di sisi lain, Jokowi ingin fokus mengembangkan kemampuan militer dalam dunia cyber. Dunia dimana sebagian besar serangan kepada satu negara bisa dimulai dari jaringan internet. Di situlah Jokowi memfokuskan biaya, untuk memperkuat basis pertahanan Indonesia.

Sebagai informasi, Paradise Papers adalah semacam catatan berisi daftar orang-orang kaya di Indonesia yang menempatkan hartanya di negara surga pajak. Biasanya dilakukan untuk menyembunyikan hartanya dan untuk menghindari membayar pajak kekayaan.

Prabowo merasa di atas angin. Merasa pamer kebolehan dengan terus-menerus menyerang Jokowi. Caranya dengan melecehkan hampir semua institusi. TNI dicela. Aparatur pemerintah disepelekan. Sampai penonton juga ikut dimarahi. "Kenapa sih, ketawa? Lucu, ya. Kamu pikir lucu?" bentaknya kepada penonton.

Penonton tambah ngakak. Mungkin mereka merasa lucu, lihat Capres mirip cewek PMS. Bawaannya marah-marah melulu.

Pada debat tadi, energi negatif Prabowo tersalurkan semua. Dia menyerang ke segala penjuru. Sedangkan Jokowi lebih bertindak seperti negarawan. Melihat persoalan lebih bijak. Lalu mencari jalan keluar yang rasional.

Kalau kita lihat sekarang, Jokowi lebih memilih santai. Ia tidak menggunakan forum debat untuk menyentil Prabowo.

Jokowi lebih membiarkan Prabowo memainkan sikap agresifnya. Orang yang marah, biasanya sering keseleo lidah.

Jokowi tahu, Prabowo paling gampang lidahnya kepleset karena ngaco. Jadi Jokowi memilih tidak memukul lawan sama sekali. Ia biarkan saja lawannya tampil agresif. Ia biarkan saja lawannya marah-marah di panggung. Dengan kata lain, Jokowi sedang membiarkan Prabowo mengumbar amarahnya biar ditonton jutaan pasang mata.

Waktu pencoblosan tinggal sebentar lagi. Mungkin saja pemilih sudah menetapkan pilihannya. Suara yang masih mengambang juga sedikit. Jadi buat apa Jokowi terlalu ngotot atau agresif. Gak banyak gunanya.

Tampilan Jokowi yang kalem, lembut dan membawa informasi detail sangat kontras dengan Prabowo yang temperamental dan lompat-lompat cara mikir-nya. Jokowi jauh lebih bisa menguasai lapangan. Menguasai emosi dalam dirinya. Memiliki kemampuan menahan diri yang luar biasa.

Inilah yang tidak dimiliki Prabowo: kemampuan menjaga emosi. Jadi debat keempat ini kita seperti disuguhkan orang yang ngamukan. Berhadapan dengan seorang negarawan sejati. Yang tenang dan adem.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga: