UNTUK INDONESIA
Daya Beli Rendah Biang Kerok Laba Bank BTN Anjlok
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perseroan, laba BTN pada 2019 diketahui amblas 92,5 persen menjadi Rp 209 miliar.
Ilustrasi - Gedung Bank BTN. (Foto: Moneter)

Jakarta - Anjloknya perolehan laba PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) pada sepanjang tahun lalu memberikan gambaran tersendiri pada sektor perumahan di Tanah Air. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perseroan, laba BTN pada 2019 diketahui amblas 92,5 persen menjadi Rp 209 miliar. Padahal pada sepanjang 2018, bank spesialis perumahan ini berhasil mencetak cuan Rp 2,8 triliun.

Direktur Riset Socio-Economic & Educational Business Institute Haryo Kuncoro mengatakan tertekannya kinerja BTN pada sepanjang tahun lalu disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, dia juga menilai bahwa ketidakpastian yang tinggi selama 2019 menyebabkan ekspansi perseroan tidak berjalan maksimal.

"Faktor lain yang mempengaruhi adalah maraknya kredit subsidi pemerintah dari FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan)," katanya kepada Tagar di Jakarta, Senin, 17 Februari 2020.

Menurut Haryo, sejumlah pelaku industri perbankan juga tengah melakukan penyesuaian terhadap skema Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 yang mulai awal tahun lalu digulirkan pemerintah. Selain soal klasifikasi aset keuangan, salah satu poin penting PSAK 71 adalah soal pencadangan atas penurunan nilai aset keuangan yang berupa piutang, pinjaman, atau kredit.

BTNBTN. (Foto: Tagar/Nurul Yaqin)

Hal ini diduga Haryo menjadi salah satu aspek lain yang membebani BTN untuk menambal kredit bermasalahnya. "Pengetatan likuiditas juga berperan karena Bank Indonesia terus memangkas suku bunga acuan," ucap dia.

Adapun untuk proyeksi sepanjang 2020, Haryo melihat industri perbankan, khususnya sektor kredit perumahan masih belum banyak berubah. Salah satu yang mungkin bisa jadi pemicu ekspansi adalah pengesahan draft Omnibus Law yang kini tengah dibahas oleh pemerintah dan DPR.

"Walapun masih membutukan waktu yang lama untuk aturan turunannya, setidaknya omnibus law ini bisa memberikan arah perkembangan industri perbankan kedepannya," kata Haryo.

Untuk diketahui, BTN menjalani tahun yang berat pada sepanjang tahun lalu dengan pertumbuhan laba negatif 92,5 persen dari Rp 2,8 triliun pada 2018 menjadi Rp 209 miliar di 2019. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tagar, penurunan tersebut disebabkan oleh aksi bersih-bersih perseoran untuk menambal tersendatnya pembayaran kredit dari debitur.

Langkah ini sekaligus upaya BTN untuk menjaga rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap sehat. Secara keseluruhan, NPL gross bank dengan kode saham BBTN ini terpantau berada pada level 4,8 persen atau masih di bawah ambang batas 5 persen. Meskipun demikian, catatan NPL BTN tersebut telah masuk dalam kategori lampu kuning untuk sebuah penyaluaran kredit yang sehat. Sementara, NPL pada 2018 sendiri diketahui hanya sebesar 2,8 persen.

Untuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), bank plat merah ini menyediakan dana hingga Rp 6,1 triliun akibat penerapan PSAK 71. Angka tersebut melonjak dibandingkan dengan periode yang sama 2018 dengan Rp 3,3 triliun.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Bunga Murah, BTN Optimistis Raup Rp 3 Triliun
BTN membidik penyaluran kredit pemilikan rumah senilai Rp 3 triliun pada perhelatan Indonesia Property Expo (Ipex) 2020.
Buruh Sulindafin Minta Penangguhan Kredit Bank BTN
Buruh PT Sulindafin yang belum menerima upah selama tiga bulan terakhir, terpaksa ajukan permohonan penangguhan pembayaran Kredit KPR
Suprajarto, Selesai di BRI Enggan ke BTN
Bekas Dirut Bank BRI Suprajarto menolak penunjukannya menjadi Dirut BTN karena merasa hanya sepihak. Ini profil sang bankir.
0
KKP Sebut 59 Warga Papua Terpantau Corona
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Jayapura, Harold Pical menyebutkan sebanyak 59 warga Papua berstatus terpantau virus corona