Cerita Perajin Sandal Berbahan Limbah Kulit di Tangerang

Perajin sandal rumahan yang menggunakan limbah kulit pabrik sepatu di Tangerang tetap bertahan di tengah badai pandemi Covid-19.
Dua karyawan Faisal menunjukkan sandal-sandal hasil produksi mereka, Sabtu, 28 November 2020. (Foto: Tagar/ Danti Aulia Ardianti)

Tangerang – Berbagai jenis bahan pembuat sandal terdapat dalam ruangan berukuran tidak terlalu besar. Sebagian terikat rapi, sebagian lainnya tergeletak di lantai. Mulai dari busa hingga lembaran karet untuk alas atau sol sandal.

Sejumlah peralatan juga ada di tempat itu, mulai dari gunting hingga mesin jahit. Sementara, di ruangan sebelahnya, beberapa rak terpasang di tembok yang sebagian catnya sudah terkelupas. Tiga kaleng berisi lem tergeletak di tengah ruangan, tidak jauh dari dua pria yang sedang memroduksi sandal. Sejumlah mal atau pola berbentuk telapak kaki tertumpuk beberapa puluh sentimeter dari mereka.

Tempat itu terletak di Jl Raya Moch Toha Km 4, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, berada satu tempat dengan rumah tinggal pemilik usaha pembuatan sandal, yakni Faisal Muhammad, 45 tahun.

Cerita Perajin Sandal Tangerang (2)Faisal, perajin sandal di Tangerang, sedang memilih spon atau busa yang akan digunakan dalam pembuatan sandal, Sabtu, 28 November 2020. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

Siang itu, Sabtu, 28 November 2020, Faisal terlihat sibuk memilah dan memilih bahan busa yang akan dibuatnya menjadi sandal. Setidaknya ada dua ikat busa berwarna merah dan hitam tergeletak di samping pria yang saat itu mengenakan peci. Gelang di pergelangan tangan kirinya bergoyang mengikuti gerakan tangannya.

Memanfaatkan Limbah

Dalam memroduksi sandal, pria yang sudah memulai usahanya sebagai perajin sejak tahun 200 ini memanfaatkan limbah kulit dari pabrik sepatu. Meski menggunakan kulit limbah sebagai bahan, namun kualitasnya bisa dibilang cukup bagus. Sebab kulit-kulit itu merupakan kulit asli.

Selain limbah kulit, Faisal juga menggunakan limbah spons epa atau busa sebagai bahan baku sandal buatannya.

Faisal mengatakan, sandal-sandal buatannya cukup banyak diminati, sebab hasil produksinya awet dan mampu bertahan cukup lama saat digunakan. Dalam sehari dia bisa menjual sekitar 50 pasang sandal.

Ada juga, Neng, yang ngambilnya 25 kodi atau 500 pcs (12 karung) ngambilnya per minggu karena itu partai besar tapi kalau partai kecil ngambilnya perhari.

Pelanggan yang datang untuk membeli sandal buatannya bukan hanya berasal dari sekitar tempat tinggalnya, tetapi ada juga yang dari Karang Tengah dan Bogor. Biasanya mereka membeli sandal setiap dua pekan sekali. Untuk pengiriman terjauh, Faisal menyebut Tasikmalaya sebagai daerah terjauh.

Dalam mengirimkan sandal pesanan pelanggan, Faisal tidak menggunakan jasa perusahaan pegiriman terkenal, sebab pihaknya sudah mempunyi langganan khusus perusahaan jasa pengiriman.

“Soalnya suka gak tanggung jawab, kalau paketan yang kita kirim rapi tapi nanti pas sampai ke lokasi pengiriman malah rusak jadi saya yang sering kena keluhannya,” ujar Faisal sedikit mengeluh.

Awalnya, lanjut Faisal, dirinya hanya menjual sandal-sandal produksinya melalui sistem luar jaringan (luring) atau offline. Namun sejak beberapa waktu terakhir, dia mulai menjual produknya secara daring atau online. Sehingga usaha produksi sandal dari bahan limbah ini bisa bertahan meski dalam masa pandemi Covid-19.

“Saya diajari anak saya untuk mempromosikan sosial media di Facebook. Alhamdulillah omzet saya malah naik dibanding sebelumnya yang cuma langganan saja yang ngambil itu juga kadang per minggu tidak per hari ngambilnya,” ucap Faisal menambahkan.

Cerita Perajin Sandal Tangerang (3)Tumpukan alas sandal di dekat mesin jahit yang digunakan untuk memroduksi sandal, Sabtu, 28 November 2020. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

Bahkan saat ini Faisal sudah memiliki reseller (pedagang yang menjualkan produknya) dari beberapa toko daring atau online shop. Syarat untuk menjadi reseller sandal produksi Faisal tidak sulit. Para reseller hanya wajib membeli sebanyak minimal lima kodi atau 100 pasang sandal.

Faisal membanderol sandal-sandal buatannya dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp 40 ribu untuk sepasang sandal wanita dan Rp 60 ribu per pasang untuk sandal pria. Harga itu dipatok berdasarkan jumlah penggunaan baahan dan biaya produksi.

Pandemi Covid-19, lanjut Faisal, tidak membuat pihaknya menaikkan harga sandal, agar omzet penjualannya tetap stabil. Selain harga yang tidak naik, omzetnya pun tidak terpengaruh oleh pandemi ini.

“Sebelum dijual ke partai besar, kita pastikan dulu sandal ini layak dijual atau tidak. Jadi sudah kita coba kuat atau enggaknya,” kata Faisal sambil melanjutkan aktivitasnya.

Faisal juga menjamin kekuatan dan keawetan sandal buatannya, karena dalam memroduksi sandal dia menggunakan lem khusus tanpa campuran. “Per kaleng lem yang digunakan seharga Rp 600 ribu,”kata dia.

Membuat Pola Jadi Proses Tersulit

Kini usaha pembuatan sandal milik Faisal yang digelutinya sejak 20 tahun lalu, sudah memiliki 11 karyawan. Namun sebagian mereka bekerja di tempat produksi sandal milik Faisal yang lain, letaknya tidak jauh dari rumahnya.

Faisal mengaku mencintai usahanya yang dikerjakan secara turun temurun dari almarhumah ibunya.

“Saya lebih suka buka usaha di rumah, hitung-hitung saya membantu yang belum punya pekerjaan. Saya sudah punya 11 karyawan, tapi di sini cuma setengahnya, sisanya di tempat saya satunya lagi, gak begitu jauh si dari sini,“ kata Faisal menegaskan.

Cerita Perajin Sandal Tangerang (4)Seorang karyawan Faisal sedang membuat sandal di ruang kerjanya, Sabtu, 28 November 2020. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

Dalam membuka usaha di rumah, Faisal bukan hanya mengalami suka, tetapi juga duka. Awalnya para tetangganya menolak keberadaan usaha pembuatan sandal miliknya. Alasannya mereka merasa resah dan khawatir akan terganggu dengan proses pembuatan. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kini tidak ada lagi pihak yang komplain.

Selama 20 tahun membuka usaha pembuatan sandal, Faisal mengaku tidak pernah memiliki niat untuk beralih pada usaha lain, meskipun dia pernah mengalami penjualan yang menurun karena kurangnya pembeli

Saat ini, jika penjualannya menurun, dia akan lebih gencar berpromosi di media sosialnya. Saat ditanya rencana bekerja sama dengan pabrikan besar, Faisal mengatakan niat itu belum pernah ada, dan dia tidak berminat. Sebab menurutnya akan lebih ribet dalam pembagian hasilnya.

Dari pengalamannya selama puluhan tahun memroduksi sandal, Faisal cukup paham tahapan yang paling rumit dalam proses produksi, yakni pada tahap pembuatan pola atau desain. Salah satu penyebabnya adalah perubahan minat pembeli.

Menurutnya, setiap pekan dirinya selalu melakukan upgrade untuk sandal yang akan dibuat agar diminati oleh banyak orang. Untuk membuat 30 pasang sandal, dia dan karyawannya membutuhkan waktu selama dua hari, dengan estimasi waktu satu jam untuk membuat sepasang sandal.

Meski usahanya termasuk dalam sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Faisal mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah. Padahal, kata dia, dirinya sudah didata sebanyak empat kali oleh salah satu petugas dari kelurahan tempatnya tinggal. Tapi sampai saat ini tidak ada bantuan yang diterima.

“Tapi nyatanya sampai saat ini gak turun uangnya ke saya. Jadi saya kalau ada orang kelurahan mau tanya ke saya tentang UMKM saya gak akan nerima lagi,” ujar Faisal dengan nada sedikit kesal.

Berdasarkan data yang dihimpun, sektor UMKM memiliki kontribusi sebesar 60,3% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Apalagi dengan jumlah UMKM yang kini mencapai 64,2 juta unit, sendi utama perekonomian nasional itu mampu menyerap 97% dari total tenaga kerja dan 99% dari total lapangan kerja.

“Kami berharap program pemberdayaan UMKM seperti ini terus berjalan dan berkelanjutan dalam mendukung sendi perekonomian nasional,” ungkap Faisal. []

(Danti Aulia Ardianti)

Berita terkait
Buaya Putih Jejadian Penjaga Danau Cibeureum Bekasi
Warga di sekitar Danau Cibeureum di Bekasi meyakini bahwa danau itu angker dan mempunyai penunggu berwujud buaya putih. Begini cerita warga.
Sepinya Air Terjun Giriwangi Cilacap dan Cerita Sosok Hitam
Curug atau air terjun Giriwangi di Cilacap sempat populer beberapa tahun lalu, namun perlahan pamornya meredup. Ini cerita warga soal penunggunya.
Pedagang Sosis Pedas di Bekasi Beromzet Jutaan Rupiah
Pedagang sosis pedas lezat (Sopel) di Bekasi bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah setiap pekan. Uniknya, para pedagang berkumpul di satu gang.
0
Kemendag Teken Kerja Sama Pemberdayaan UMKM dengan Accor, BNI, dan Pemprov DKI
Kemendag kembali menandatangani perjanjian kerja sama untuk mendorong pemberdayaan UMKM dengan grup perhotelan Accor, BNI & Pemprov DKI.