UNTUK INDONESIA

Pedagang Sosis Pedas di Bekasi Beromzet Jutaan Rupiah

Pedagang sosis pedas lezat (Sopel) di Bekasi bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah setiap pekan. Uniknya, para pedagang berkumpul di satu gang.
Mirsa, 52 tahun, yang akrab disapa Emak, sedang menata sosis di warungnya, di kawasan Kampung Trenggilis, Kelurahan Tambun Selatan, Bekasi Timur. (Foto: Tagar/ Anita Nur Ayu)

Bekasi – Seorang perempuan paruh baya berkaus merah terlihat serius di depan wajan berisi minyak panas. Jemari tangan kanannya menggenggam penjepit makanan yang terbuat dari logam. Perlahan dia memasukkan satu per satu sosis ke dalam minyak panas.

Jepitan logam di jemari tangan kanannya kemudian bergerak lincah di dalam minyak panas, membolak-balik sosi agar matang sempurna. Beberapa saat kemudian, setelah sosis-sosis itu matang dan berubah warna, Emak Mirsa, perempuan yang menggoreng itu, menjepit dan meniriskannya dengan semacam penyaring di tangan kirinya.

Perempuan berusia 52 tahun tersebut kemudian mengatur sosis-sosis yang sudah matang pada semacam nampan plastik berbentuk kotak sebelum mengolahnya menjadi Sosis Pedas Lezat atau biasa disebut Sopel.

Tidak terlalu jauh dari tempat Emak menjual Sopel di gang kecil di kawasan Kampung Trenggilis, Kelurahan Tambun Selatan, Bekasi Timur itu, puluhan kendaraan terparkir di depan gang. Mereka adalah para pelanggan Sopel yang banyak dijual di gang itu, termasuk pelanggan Warung Sopel Emak Galak milik Mirsa.

Hanya Ada di Kampung Trenggilis

Sosis Pedas Lezat, atau biasa disebut Sopel seperti menjadi makanan khas yang hanya dapat ditemukan di Kampung Tenggilis. Warung Sopel Emak Galak adalah salah satu Warung Sopel yang cukup ramai didatangi pengunjung.

Sejak beberapa waktu belakangan, Sopel menjadi salah satu kuliner yang sedang naik daun di Bekasi. Awalnya hanya ada satu warung yang menjual Sopel di kawasan itu. Warung yang hanya satu-satunya itu sangat laris oleh pembeli, yang kemudian viral di media sosial.

Melihat antusiasme pembeli Sopel, sejumlah warga lain pun beralih usaha dengan menjual Sopel, sehingga kampung itu dikenal sebagai satu-satunya lokasi penjualan Sopel.

Ngeliat kanan kiri rame resep ah, jadi iseng pengen ikut juga.

Kata Emak, untuk membuat Sopel tidak terlalu sulit. Bahan-bahan yang dibutuhkan hanya sosis, otak-otak, bakso, dan kornet serta diberi cocolan kecap dengan gilingan cabai.

Meski pembelinya cukup banyak, Emak dan para penjual Sopel di kawasan itu hanya membanderol seporsi Sopel dengan harga Rp 1.250. Walaupun harganya cukup murah, pemilik warung sederhana ini mampu meraup omzet hingga jutaan rupiah setiap bulan.

Emak yang merupakan warga asli Kampung Trenggilis ini rupanya tidak segalak nama warungnya. Emak bahkan sangat ramah dan bersahabat. Tidak jarang dia mengobrol santai dengan pembeli Sopel buatannya.

Keramahan dan pelayanannya yang ramah pada para pembeli, ditambah dengan rasa Sopel buatannya yang enak menjadi daya tarik tersendiri untuk pembeli. Mereka sering kali kembali membeli Sopel di situ dan menjadi pelanggan Warung Sopel Emak Galak. Terlebih dia juga sering memberi bonus beberapa tusuk Sopel kepada para pelanggannya.

Novi, seorang pelanggan Sopel buatan Emak mengatakan, dulunya dia bukan pelanggan Warung Sopel Emak Galak. Awalnya dia membeli Sopel dari seorang penjual lain, tapi pelayanan penjual itu sangat tidak memuaskan.

“Dulu pernah coba ke Sopel ujung, tapi bapak yang jual judes banget. Kita juga mau ngobrol berisik dikit sungkan,” ucap perempuan yang mengaku sering nongkrong di Warung Sopel Emak Galak ini menjelaskan alasannya menjadi pelanggan Emak.

Beralih Profesi

Sambil melanjutkan kesibukannya menggoreng sosis dan melayani pembeli, Emak menceritakan awal dirinya membuka warung Sopel tersebut.

Dulu, kata Emak, dirinya menjual nasi uduk di kios kecil di depan rumahnya tersebut. Saat itu omzet penjualan nasi uduk tidak pernah di atas Rp 100 ribu per hari.

Cerita Penjual Sosis (2)Warung Sopel Emak Galak Milik Mirsa, 52 tahu, di di kawasan Kampung Trenggilis, Kelurahan Tambun Selatan, Bekasi Timur. (Foto: Tagar/Anita Nur Ayu)

Saat memulai menjual Sopel, Emak memanfaatkan beberapa peralatan lamanya yang digunakan untuk menjual nasi uduk, sehingga dia tidak harus memulai menata warung dari nol.

Sedangkan modal awal yang digunakan Emak untuk membuka warung Sopel hanya sebesar Rp 4 juta. Uang sebesar Rp 4 juta itu digunakannya untuk membeli bahan dan membeli alat-alat tambahan yang dibutuhkan, termasuk membuat balai-balai kecil di warungnya.

Saat ini balai-balai itu sudah bertambah jumlahnya, disesuaikan dengan jumlah pengunjung yang semakin membludak.

Walaupun pembelinya terkadang datang dari luar daerah dan membuka warungnya mulai jam 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, Emak mengaku tidak pernah kerepotan. Sebab dia dibantu oleh anak, menantu, dan cucunya. Bahkan saat akhir pekan, Emak membuka warungnya hingga tengah malam.

Saat hari kerja, Emak bisa menghabiskan satu dus sosis, otak-otak, bakso, dan kornet. Sementara cabai yang digunakan sebagai bumbu pedas, bisa habis sekitar dua kilogram per hari.

Sedangkan pada hari libur atau akhir pekan, bahan-bahan yang digunakan oleh Emak bisa mencapai tiga kali lipat dari hari-hari biasa.

Meskipun modal awalnya bisa dikatakan tidak terlalu besar, tapi sekarang warung Sopel yang sudah berdiri sekitar dua tahun ini mampu meraup keuntungan hingga Rp 5 juta pada akhir pekan. Padahal saat awal dibuka, dia hanya mendapatkan sekitar Rp 200 ribu per hari.

"Dulu sehari dapet Rp 200 ribu seneng banget, sekarang sudah banyak langganan, banyak yang tahu juga, paling kecil sehari dapet Rp 1.500.000, malem Minggu bisa dapet empat sampai lima juta," ujarnya.

Emak tidak menghentikan ceritanya saat kembali menggoreng sosis di wajan berisi minyak goring sekitar enam liter. Dengan tubuh yang cukup gemuk, Emak tetap terlihat bersemangat mengaduk dagangannya di penggorengan, panasnya hawa dapur tidak membuat semangatnya menurun, bahkan menurutnya, saat pembeli cukup banyak, dia bisa berdiri di depan tungku hingga dua atau tiga jam nonstop.

Emak menambahkan, selain menggoreng sosis dan meracik bahan lain, dirinya juga merangkap sebagai kasir di warungnya. Sedangkan anak dan menantunya hanya bertugas membantu mengupas dan menusuk bahan-bahan.

Bahan-bahan yang sudah ditusuk tampak seperti sate. Bahan-bahan itu juga ditempatkan pada semacam nampan berbahan plastik.

Cerita Penjual Sosis (3)Mirsa, 52 tahun, sedang menggoreng sosis di warungnya, di kawasan Kampung Trenggilis, Kelurahan Tambun Selatan, Bekasi Timur. (Foto: Tagar/Anita Nur Ayu)

Ayu, anak kedua Emak yang sudah berkeluarga, mengaku sangat senang dan bersyukur warung Sopel emaknya cukup laris. Hasil dari penjualan Sopel itu, kata dia, dapat membantu perekonomian keluarganya.

Dukungan Ayu pada sang ibu, lanjutnya, bukan hanya diberikan setelah warung Sopel itu berdiri. Dia bahkan mengaku sudah mendukung Emaknya saat merencanakan untuk beralih usaha dari menjual naasi uduk menjadi pedagang Sopel.

Saat awal menjual, Ayu yang sering mengantarkan Emak berbelanja bahan di pasar. Sebab waktu itu Emak belum mempunyai suplayer seperti penjual lain yang sudah lebih dahulu memulai usaha.

"Dulu saya yang anterin ke pasar, karena kan kita gak punya supplier kayak yang lain, modal juga seadanya, jadi nyari yang harga murah dan rasa enak, alhamdulilah pada suka" ujarnya dengan cukup bersemangat.

Walaupun ada beberapa warung sopel yang lebih ramai dan besar dibanding dengan warung sopel milik emaknya, ia tetap bersyukur karena warung sederhananya ini telah cukup membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. []

(Anita Nur Ayu)

Berita terkait
Cerita Pengayuh Becak di Tangerang Ingin Jadi Ojek Online
Sejumlah pengayuh becak di Tangerang menceritakan suka duka mereka dalam bertahan hidup, termasuk di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.
Nyali Berbalut Asa Pemanjat Pohon Kelapa di Cilacap
Seorang pemetik kelapa di Cilacap, Jawa Tengah, Sudarno mengisahkan pengalaman memanjat pohon setinggi puluhan meter. Ada asa dan nyali di sana.
Melihat Desa Para Perajin Sangkar Burung di Yogyakarta
Dusun Jaten, Desa Rejosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan sentra pembuatan sangkar burung. Ini bahan pembuatannya.
0
Motor Listrik NIU Garapan Eropa Resmi Mengaspal di Tanah Air
Perbedaan NIU dengan pesaingnya adalah semua sepeda motor listrik NIU dilengkapi konektivitas IoT yang ditingkatkan untuk pengalaman pengguna.