UNTUK INDONESIA
Cara Melindungi Anak dari Pedofilia
Psikolog Klinis dari Personal Growth Veronica Adesla mengatakan Pedofilia mengalami gangguan kepribadian antisosial.
Pemerkosaan (Foto: Wikipedia).

Jakarta - Akibat pelaku pedofilia yang memperkosa seorang bocah berusia 10 tahun di wilayah Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu, ternyata telah mencuri perhatian Psikolog Klinis dari Personal Growth Veronica Adesla. 

Veronica menyampaikan kepada masyarakat harus berhati terhadap tingkah para pelaku pedofilia itu. Biasanya, mereka yang melakukan asusila kepada bocah memiliki gangguan kepribadian antisosial. 

"Pelaku pedofilia ditunjukkan dengan kriteria, seperti memiliki fantasi seksual, dorongan seksual intens dan perilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak atau praremaja usia 13 tahun atau lebih muda. Pedofil berusia 16 tahun ke atas dan sekurangnya berbeda 5 tahun lebih tua dari usia korban," kata Veronica Adesla kepada Tagar pada Kamis, 5 September 2019. 

Selain ada gangguan sosial, faktor penyebab lainnya seorang pedofilia bisa meluapkan hasrat seksual terhadap bocah, dia menyebutkan pelaku juga memiliki pengalaman traumatik dilecehkan secara seksual pada masa kanak/remaja, ataupun pernah menyaksikan peristiwa pelecehan seksual pada usia belia. 

"(Pedofilia) memiliki kondisi fisiologis tertentu, seperti kelainan pada perkembangan otak," kata dia. 

Sebagai seorang psikolog, Veronica meminta kepada orang tua untuk memberikan edukasi mengenai seks kepada anak dan menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka (anak). 

"Edukasi mengenai seks kepada anak-anak perlu diwujudkan baik oleh orangtua maupun institusi formal (sekolah) dan non-formal (lembaga psikologi)," ujarnya. 

Dia juga mengingatkan aparat kepolisian untuk bertindak seadil-adilnya kepada pelaku pedofilia sesuai aturan hukum yang berlaku. "Tindakan kuratif juga harus dilakukan dalam bentuk penanganan dari tenaga ahli terhadap pelaku, baik secara medis maupun psikologis," katanya. 

Pendidikan seks yang diberikan tentunya harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak.

Senada hal itu, Psikolog anak dan remaja Kantiana Taslim beranggapan pendidikan seks sejak dini sangat penting. Sehingga, dari kejadian yang belum lama terjadi di Bogor ini, Dia sangat berharap orang tua memberikan luang untuk memberi pengajaran mengenai hal itu, agar anak terhindar dari perilaku bejat pedofilia yang masih terus mengintai. 

"Mengapa orangtua? Orang tua merupakan tempat pertama dan utama yang merawat, membesarkan, dan mendidik anak. Kunci dari berbagai nilai kehidupan yang dimiliki oleh anak berasal dari orang tua," kata Kantiana Taslim kepada Tagar, Kamis, 5 September 2019. 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan berbagai pengetahuan, mendampingi, menanamkan rasa aman kepada anak, salah satunya dengan pendidikan seks. 

"Pendidikan seks yang diberikan tentunya harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Orang tua perlu menyadari bahwa anak berusia dini, anak berusia sekolah, dan remaja, tentu memiliki tahap perkembangan yang berbeda, sehingga hal-hal yang diajarkan pun harus disesuaikan dengan kapabilitas anak," tutur Kantiana. 

Dia mengungkapkan pendidikan seks yang dapat diberikan pada usia dini 3 hingga 7 tahun, yaitu berupa pengenalan bagian-bagian tubuh, termasuk bagian tubuh privat (seperti bagian dada, perut, kemaluan, dan lainnya) yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.

"Orang tua sendiri juga perlu menyadari bahwa untuk membantu anak mandi, sebaiknya orang tua sendiri, terutama orang tua dengan jenis kelamin sama, yang membantu memandikan anak. Jika harus dibantu oleh pengasuh, anak juga harus diajarkan untuk menyampaikan ketidaknyamanan mereka kepada orang tua jika ada," ucapnya. 

Namun, untuk anak berusia sekolah dan pra-remaja di usia sekitar 8 hingga 13 tahun, orang tua dapat mengajarkan pendidikan seks, seperti perubahan hormon dan kondisi fisik yang dialami ketika pubertas.  

"Isu higienitas juga penting untuk dibahas, misalnya mandi dan membersihkan diri secara teratur, apa yang harus dilakukan ketika menstruasi dan mengalami mimpi basah," kata dia. 

Kata Kantiana, Anak juga perlu diberi pemahaman soal menjaga bagian tubuh yang privat, serta pertolongan pertama ketika mereka mengalami kejadian yang membuatnya tidak nyaman. Salah satunya, berteriak dan langsung mencari bantuan kepada orang yang dipercaya anak. 

"Pada masa ini, pemahaman mengenai perbedaan gender dan jenis kelamin juga dapat diberikan kepada anak," tuturnya. 

Begitu juga pada usia remaja 14 hingga 17 tahun, pendidikan seks yang dapat diberikan kepada mereka adalah mengenai ketertarikan terhadap lawan jenis, hubungan romantis yang terjalin, serta batasan-batasan yang diperlukan ketika menjalin hubungan romantis.   

"Orang tua perlu memupuk kedekatan dan kenyamanan emosional dengan anak sejak dini, sehingga pada tahap ini orang tua dapat menjadi teman bicara yang nyaman untuk anak," ujarnya. 

Menurut dia, pada masa ini gejolak emosional pada anak terkait perubahan hormon dan perubahan-perubahan situasi lain pada kehidupan mereka juga menjadi isu yang besar. 

Oleh karena itu, penting bagi anak untuk merasa nyaman terhadap orang tua. Sehingga, keterbukaan dapat terjalin dan orang tua mengetahui, memahami, serta dapat membantu mengatasi berbagai hal yang dihadapi anak.  

Dari kejadian pemerkosaan bocah di Bogor ini, perlu juga adanya tindakan tegas dari kepolisian untuk bisa memberikan efek jera kepada pedofil. Dengan mengacu pada UU Perlindungan Anak No 23 tahun 2002 Pasal 82, pedofil terancam hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun, dan denda maksimal 5 miliar rupiah dan Pasal 81 dengan dijerat tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan chip.

Sebelumnya, Polres Bogor telah menangkap pelaku pemerkosaan terhadap bocah berusia 10 tahun di Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pelaku ternyata remaja berusia 17 tahun.[]

Baca juga:

Berita terkait
Komnas HAM Kritik Vonis Kebiri Pemerkosa di Mojokerto
Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Choirul Anam mengkritik putusan vonis kebiri kimia terhadap pelaku pemerkosaan anak.
Pelajar di Sulsel Rekayasa Pemerkosaan Dirinya
Laporan pemerkosaan dan pencurian yang diduga dilakukan kondektur terbongkar. Polisi Makassar sebut itu ternyata hanyalah rekayasa.
Apa Kabar Kasus Pemerkosaan Mahasiswi UGM?
Pimpinan UGM mengaku lamban merespons kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa salah satu mahasiswinya.
0
Di Kabupaten Tangerang Dibangun Sekolah Perempuan
Menekan angka kekerasan terhadap perempuan juga perceraian, Sekolah Perempuan segera dibangun di Kabupaten Tangerang, Banten