Oleh: Denny Siregar*

"Den, cariin yang bisa pegang rumah gua dulu dong. Gua butuh biaya untuk nyaleg nih."

Ada pesan masuk pagi ini dari seorang teman yang bergabung ke partai oposisi. Dia selama ini tidak pernah bicara politik, terlibat kegiatan politik, apalagi menjadi kader sebuah partai yang penuh kompetisi. Tiba-tiba aja dia nyaleg dengan penuh keyakinan bahwa dia bisa menang.

Setahuku dia memang lagi susah. Bisnisnya gak jalan dan dia gak kerja. Sehari-hari kerjanya keliling dan nelpon orang dengan gaya banyak usaha. Dia berpandangan, "Kita harus tampil meyakinkan supaya orang percaya kalau kita ngomong bisnis besar."

Dan begitulah dia, ngobrol dari kafe ke kafe bermimpi tentang usaha "satu pukulan" yang bisa menutup semua utang.

Mendadak doi muncul kembali dan menjadi caleg. Sibuk bagi-bagikan brosur dengan foto terbaiknya yang sudah diedit sampai tahap maksimal supaya kulitnya putih cemerlang dan senyum dengan mulut lebar supaya deretan giginya yang sudah digosok pake arang sebelum pemotretan, bisa tampak bersinar.

Itu temanku. Dan sekarang dia mau gadaikan rumah satu-satunya ke rentenir untuk mendapat modal supaya bisa bergerak mencetak spanduk, traktir calon pemilih, sampai membeli sembako untuk serangan fajar.

Sebuah strategi gaya lama yang juga dilakukan ratusan caleg lainnya dari partai berbeda di tempat sama.

Bagi banyak orang, menjadi anggota Dewan itu adalah peluang. Mereka menempatkan posisi anggota Dewan itu sebagai "usaha" dimana mereka harus mengeluarkan "modal" sebagai bagian dari "investasi".

Mereka tidak berpikir bahwa posisi anggota Dewan itu sebenarnya adalah "amanah" yang berat pikulannya karena dipercaya sebagai "wakil Tuhan" dalam menyampaikan aspirasi rakyatnya.

Saya sendiri setiap lewat di sebuah perempatan jalan, sudah sulit melihat apalagi menghapal caleg mana, dari partai apa, nomor dia berapa, saking banyaknya wajah-wajah polesan nangkring mulai dari tiang listrik, pohon pohon, sampe pagar rumah orang.

Dengan banyaknya muke muke badak berjejeran yang sulit dihapal seperti itu, gimana cara orang mengingat dan memilihnya?? Rekam jejaknya dia apa? Masak cuman setor muka doang mendekati pencoblosan?

Sebenarnya aku kasian ma temanku ini. Tapi dia sedang jatuh cinta dengan mimpinya pake jas di ruang dewan, dengan gaya "datang, duduk dan diam" lalu tiap bulan terima uang, trus bisa dipanggil orang, "pagi anggota dewan".

Orang sedang jatuh cinta pada mimpi seperti itu, bisa marah kalau diingatkan, "Bro, bangun deh. Lu itu siapa? Selama ini ke mana aja? Kok tiba-tiba nyaleg dengan semangat membaja? Kalau gak jadi, habis rumah lu disita. Entar lu ma keluarga tinggal dimana?"

Ah, kuabaikan saja pesan itu. Caleg kaleng kaleng. Dipukul ribut soalnya isinya rombeng.

Mending kuteruskan menulis sambil minum secangkir kopi menyederhanakan keinginan sambil menikmati kemerdekaan ini.

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: