BRI, Bank Pelat Merah Pertama di Indonesia

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah bank tertua di Indonesia. Beridir pada 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah, oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja
Ilustrasi Bank BRI. (Foto: Wikipedia)

Jakarta - Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank pelat merah dan tertua di Indonesia. Dalam sejarahnya, BRI memberikan catatan panjang dalam perjalanan bangsa yang telah berdiri sebelum Indonesia merdeka.

BRI ditetapkan berdiri pada tahun 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah, yang diinisiasi oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja. 

Purwokerto merupakan penerus ibu kota Karesidenan Banyumas, dan kemudian pendopo Si Panji beralih tempat dari Kota Banyumas ke Kota Purwokerto.

Raden Bei Aria Wirjaatmadja merupakan putra asli kota Banyumas yang saat itu mengabdi dan menjadi kepercayaan kolonial Belanda

Awalnya, BRI bernama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”. Lembaga keuangan ini mulanya berfungsi untuk melayani masyarakat Indonesia atau orang-orang pribumi.

Secara resmi, BRI berdiri pada tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI hingga sekarang.

BRI Pasca Kemerdekaan

Pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, BRI kemudian disahkan menjadi bank pertama RI yang tertuang pada peraturan pemerintah No.1 tahun 1946 Pasal 1. 

Namun, BRI sempat menghentikan operasinya ketika Indonesia sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan pada 1948.

Setahun kemudian, BRI beroperasi kembali setelah adanya Perjanjian Renville antara Republik Indonesia dan Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia.

Saat itu juga, nama bank yang sebelumnya memakai bahasa Belanda diganti dengan nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. BRI juga mengalami peleburan berdasarkan peraturan pemerintah No. 41 Tahun 1960 dengan membentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN).

BKTN juga kemudian diintegrasikan ke Bank Indonesia dan berganti nama menjadi Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani Nelayan (BIUKTN) berdasarkan Penetapan Presiden No. 9 Tahun 1965. 

Tidak hanya itu, bank lain yang juga merupakan bank peleburan BRI adalah Nederlandsche Maatschappij (NHM), yang menjadi Bank Exim, dan Bank Tani Nelayan (BTN).

Pada 1968, BRI juga sempat menjadi bank sentral melalui peraturan UU No. 13 tahun 1968, dan kemudian dikembalika untuk menjalankan tugasnya lagi sebagai bank umum pada UU No. 21 tahun 1968. 

BRI Sekarang

Pada 1992, BRI kembali mengalami perubahannya menjadi PT (perseroan terbatas), kepemilikan BRI dikuasai oleh Pemerintah Indonesia 100 persen. Perubahan menjadi PT melalui UU Perbankan No. 7 Tahun 1992. 

Namun, hingga tahun 2003, Pemerintah Indonesia menjual kepemilikan saham sebanyak 30 persen dan nama resmi BRI, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 

Saat ini, pemerintah memiliki saham sebesar 56,75 persen dan 43,25 persen dimiliki oleh swasta.

Sementara itu, BRI memiliki empat anak perusahaan, yaitu Bank BRI Syariah, Bank BRI Agroniaga, BRI Life, dan BRI Remittance. []

Berita terkait
Formanensy Siahaan, Korban Bank BRI Syariah Yogyakarta
Formanensy Siahaan, seorang ibu rumah tangga di Yogyakarta, diduga menjadi korban kejahatan perbankan yang dilakukan Bank BRI Syariah.
Ahok Tidak Cocok Jadi Direksi BUMN
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama populer dengan panggilan Ahok dinilai tidak cocok jadi direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Tanggapan Airlangga Hartarto Soal Ahok Kelola BUMN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tidak mempermasalahkan Ahok gabung di BUMN.
0
Pengamat: Laksamana Yudo Margono Layak jadi Panglima TNI
Pengamat Intelejen Pertahanan dan Keamanan Ngasiman Djoyonegoro mengatakan Yudo Margono layak menjadi Panglima TNI gantikan Hadi Tjahjanto.