UNTUK INDONESIA
BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Papua Mulai Membaik
Pertumbuhan ekonomi Papua mengalami kontraksi sebesar -15,11 persen pada triwulan III 2019.
Pertemuan tahunan Bank Indonesia dengan mitra bisnisnya yang digelar di Kota Jayapura, Kamis 5 Desember 2019. (Foto: Tagar/Paul Manahara Tambunan)

Jayapura - Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi Papua mengalami kontraksi sebesar -15,11 persen pada triwulan III 2019. Ini lebih baik dibanding triwulan II yang mencapai kedalaman -23,98 persen.

Kontraksi tersebut disebabkan penurunan kinerja lapangan usaha pertambangan, pertanian, kehutanan dan perikanan. Pertumbuhan ekonomi Papua ini pun lebih rendah dibandingkan skala nasional sebesar 5,02 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Naek Tigor Sinaga menyebut tekanan inflasi Papua pada triwulan III menurun 1,90 persen, jika dibandingkan dengan triwulan II sebesar 2,92 persen.

Secara spasial, Kota Jayapura mengalami penurunan inflasi menjadi 2,56 persen dari sebelumnya 4,03 persen. Sementara inflasi di Merauke pada triwulan III mencapai 0,07 persen, lebih tinggi dari sebelumnya hingga mengalami deflasi -0,14 persen.

Pelaku ekonomi Papua dalam meningkatkan modal kerja, investasi, maupun konsumsi.

"Dari sisi pengeluaran, peningkatan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi ditengah penurunan ekspor luar negeri Papua yang terkontraksi dalam," ungkap Sinaga usai acara temu tahunan Bank Indonesia di Jayapura, Kamis 5 Desember 2019.

Meski demikian, Sinaga mengatakan jika stabilitas sistem keuangan di Papua masih relatif aman dan terjaga. Indikatornya, melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 5,35 persen dan percepatan pertumbuhan kredit menjadi 12,94 persen.

“Dua indikator ini menunjukkan sinyal positif dari pelaku ekonomi Papua dalam meningkatkan modal kerja, investasi, maupun konsumsi,” jelasnya.

Menurut Bank Indonesia, ekonomi global sepanjang 2019 semakin tidak ramah. Penyebabnya utamanya yaitu perang dagang yang meluas antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, dan sejumlah negara lainnya. Ditambah lagi kebijakan yang mencirikan anti globalisasi yang membuat masing-masing negara mendahulukan kepentingan ekonomi dalam negeri.

Di saat yang sama, digitalisasi ekonomi dan keuangan semakin semarak. Hal itu pun membuat kompetisi antara kelompok perusahaan besar dunia. “Fenomena ini kemungkinan besar akan berlanjut pada 2020 dan tahun berikutnya,” kata Sinaga.

Mengantisipasi hal itu, Bank Indonesia akan lebih mendorong sinergitas sistem keuangan pemerintah dengan otoritas jasa keuangan (OJK), meningkatkan transformasi ekonomi demi pertumbuhan sektor keuangan, dan mengembangkan perekonomian lewat inovasi keuangan digital. Misalnya, menghubungkan produsen dengan konsumen melalui digital seperti start up, baik dari konsumen individual hingga korporasi besar.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Papua menilai kondisi inflasi di Papua masih terkendali, sebagaimana yang catatan Bank Indonesia. Secara umum, penyumbang inflasi di Merauke dan Kota Jayapura didominasi oleh kelompok bahan makanan.

“Pemerintah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) perlu mengantisipasi gejolak harga pasar khususnya menjelang Natal 25 Desember 2019 dan Tahun Baru 2020. Begitu juga ketersediaan stok bahan makanan pokok di pasaran agar potensi gejolak harga dapat dikendalikan sejak dini,” kata Bambang Wahyu Ponco Aji selaku Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Papua, Senin 2 Desember 2019 lalu. []

Baca juga: 

Berita terkait
Dampak Tumpahan Merkuri di Teluk Basamuk ke Jayapura
Limbah merkuri tumpah di perairan teluk Basamuk, Papua New Guinea. KBRI Port Moresby memantau dampaknya ke wilayah perbatasan di Jayapura.
Proses Panjang Pemberian Nama Jembatan Youtefa Jayapura
Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano menyebutkan, ada lima nama yang diusulkan sejumlah pemangku kepentingan sebelumnya.
Pembangunan Daerah Rawan di Papua Berlanjut
Gangguan keamanan tak lantas menghentikan proses pembangunan infrastruktur di wilayah pegunungan tengah Papua.
0
Alasan Bupati Rembang Tak Cabut Status KLB Covid-19
Saat ini, Kabupaten Rembang mencatatkan zero kasus Covid-19 setelah satu warga Desa Waru dinyatakan sembuh.