Belajar Toleransi di Taman Wisata Iman Sitinjo Dairi
Berkunjung ke TWI Sitinjo, pengunjung diharapkan semakin memahami dan mengagumi alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Gerbang masuk TWI Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/ Robert Panggabean)

Dairi – Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Tagar menginjakkan kaki di Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Minggu 25 Agustus 2019.

Aplikasi prakiraan cuaca di layar android menunjukkan suhu berada pada titik 22 derajat celcius. Berada di areal perbukitan Sitinjo, dikelilingi pepohonan pinus menjulang, membuat suhu terasa semakin dingin.

Dingin yang menusuk tulang, hilang ketika menyaksikan pemandangan yang disuguhkan di kawasan ini. Di areal seluas sekitar 13 hektare, tampak keberagaman bangunan tempat peribadatan, dari agama yang diakui di Indonesia, berdiri kokoh berdekatan. Simbol masing-masing agama, berdampingan dalam satu kawasan. Sungguh, bentuk konkret toleransi.

Terasa nyaman. Jauh dengan hiruk pikuk di media sosial yang belakangan ini diramaikan dengan pembahasan atas istilah yang disebut beberapa kalangan sebagai penistaan. Seandainya semua pihak tetap dapat berdampingan sebagaimana bangunan simbol keagamaan di tempat ini, alangkah indahnya.

Kalau di sini, tidak ada ribut-ribut. Semua saling menghormati. Damai

Berkunjung ke TWI Sitinjo, pengunjung diharapkan semakin memahami dan mengagumi alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, mempertebal iman sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Membangun rasa saling menghormati dan toleransi yang tinggi, serta memandang perbedaan agama adalah keindahan.

TWI Sitinjo, tempat wisata religi itu, terbuka pada semua pengunjung dari berbagai agama karena di dalamnya terdapat masjid, gereja, vihara dan kuil. Dengan mengunjunginya, rasa toleransi antar umat beragama dapat tergugah kembali. Toleransi harus tetap dijaga.

TWI SitinjoBukit Golgota TWI Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Robert Panggabean)

Seperti dikatakan Pangihutan Situmorang, penjaja telur bebek, ditemui di lokasi tersebut, pengunjung TWI berasal dari berbagai agama, baik dari dalam daerah maupun luar Sumatera Utara, bahkan dari luar negeri.

"Semua (agama) datang ke sini. Pengunjung tidak hanya mengunjungi bangunan yang menggambarkan agamanya. Tapi bangunan agama lain juga dikunjungi," kata pria berusia 58 tahun itu. Ia mengaku telah menjajakan telur bebek selama 10 tahun di tempat itu.

"Kalau di sini, tidak ada ribut-ribut. Semua saling menghormati. Damai," kata Parulian, diamini Herliana Kudadiri, pedagang souvenir kaca mata di sana.

Menurut Herliana, pengunjung hanya mengkritik perawatan TWI Sitinjo yang dianggap kurang serius. "Bisa kita lihat memang, patung-patung pun sebagian besar berlumut. Areal di sekitar sini pun kadang saya bersihkan sendiri, bagaimanalah biar pengunjung betah," kata wanita berusia 35 tahun, yang telah berjualan di TWI Sitinjo sekitar empat tahun.

Herliana, pedagang beragama Islam itu, berjualan di sekitar lokasi "Taman Firdaus", taman yang identik dengan agama Kristen. Baginya, kerukunan dan toleransi harus diutamakan dan tetap dijaga. "Jangan seperti yang di medsos-medsos itu," katanya.

TWI Sitinjo berada di perbukitan Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Wisata rohani ini berjarak sekitar 10 kilometer (Km) dari Sidikalang, ibu kota Kabupaten Dairi. Dari Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara, berjarak sekitar 150 Km. Dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar empat jam.

Tempat wisata religius itu mulai dirancang pada tahun 2001, saat Bupati Dairi masih dijabat DR Master Parulian Tumanggor. Pada tahun 2005, dilakukan peletakan batu pertama oleh Menteri Agama Republik Indonesia yang saat itu dijabat Prof Dr H Said Agil Al-Munawar.

TWI 3Mesjid di TWI Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Robert Panggabean)

Bangunan rumah ibadah, dari agama yang diakui di Indonesia, hingga miniatur bangunan yang dianggap bersejarah dan penting bagi pemeluknya, berdiri megah. Masuk sekitar 300 meter dari gerbang utama, di jalur kiri, pengunjung disuguhkan dengan bangunan Vihara Saddhavana. Di sekeliling vihara, diisi dengan banyak ukiran dan pahatan, menambah kesan sakral.

Perjalanan diteruskan, pengunjung disuguhkan dengan hamparan luas "Taman Firdaus". Masuk dari gerbang, udara yang sejuk serta suara burung yang bertengger di pepohonan pinus, bersahutan, membuat suasana hati damai, nyaman dan tenang.

Bangunan ular raksasa sebagai simbol "iblis", tampak hampir setengah melingkar, memenuhi lokasi itu. Lidahnya menjulur ke patung Adam dan Hawa yang berdiri megah memegang buah pengetahuan yang baik dan yang buruk, sebagai lambang kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa.

Terdapat beberapa gazebo tempat istirahat maupun untuk melaksanakan kegiatan keagamaan. Di tengah taman, ada kolam ikan. Di lokasi ini, Tagar melihat belasan pengunjung nasrani yang melaksanakan kebaktian.

TWI 4Gerbang khas Bali di TWI Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. (Foto: Tagar/Robert Panggabean)

Ke luar dari lokasi itu, di sebelah kanan "Taman Firdaus", pengunjung dapat melihat adegan-adegan peristiwa "Perjalanan Salib" dalam kitab suci, yang diimplementasikan dalam aneka patung berukuran besar.

Semakin ke dalam, pengunjung akan melewati aliran sungai yang bernama Lae Pandaroh. Di tepian sungai, terdapat gua "Bunda Maria". Selanjutnya, dengan menapaki jalan mendaki, pengunjung akan sampai di taman luas, yang menggambarkan suasana "Golgota", tempat Yesus disalibkan.

Melanjutkan perjalanan, akan ditemui taman Hindu. Pengunjung disambut gapura dan pura Hindu, bergaya arsitek Bali.

Di bagian akhir taman, terdapat taman yang luas, dengan bangunan masjid yang berdiri kokoh serta miniatur Ka’bah.

Mengunjungi semua bangunan rumah ibadah maupun miniatur bangunan bersejarah dari berbagai agama itu, pengunjung bisa merasakan aura kedamaian dalam kebersamaan dan persaudaraan dengan agama lain. Toleransi tergugah kembali.

Untuk masuk ke TWI Sitinjo, biaya murah. Sebagaimana terpampang di papan pengumuman di pintu masuk, pengunjung cukup merogoh kocek Rp 10 ribu untuk dewasa dan Rp 5 ribu anak-anak. Parkir roda dua Rp 2 ribu per unit, roda empat Rp 5 ribu per unit. Disediakan juga penginapan dengan tarif Rp 300 ribu per malam dan sewa aula Rp 400 ribu per hari. []


Berita terkait
Membangun SDM untuk Menguatkan Toleransi
Tanpa persatuan membangun bangsa yang besar adalah mimpi. Toleransi modal utama membangun negara dan mewujudkan cita-cita bangsa.
PBNU: Radikalisme dan Intoleransi Bencana Besar NKRI
PBNU menyampaikan bahwa radikalisme dan intoleransi menjadi bencana besar bagi bangsa Indonesia dan mengancam keutuhan bangsa dan negara.
Tanggapi Ijtima Ulama IV, Menhan: Titik Intoleransi
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu tidak sependapat dengan NKRI bersyariah berdasar pada Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah tauhid Islam.
0
Membuat Kabin Mobil Tetap Harum
Banyak aktivitas dilakukan di dalam mobil sambil mengemudi terlebih bagi seseorang yang mobilitasnya tinggi.