UNTUK INDONESIA
BCA Ogah Rilis Surat Utang Asing, Ini Alasannya
Bank Central Asia (BCA) tidak akan mengeluarkan instrumen surat utang atau obligasi internasional pada tahun ini.
BCA. (Foto: Tagar/Nurul Yaqin)

Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menyatakan tidak akan mengeluarkan instrumen surat utang atau obligasi internasional pada tahun ini. Menurut Direktur Utama BCA Jahja Setiatmadja, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio -CAR) perseroan masih dalam kategori yang cukup memadai. Hal tersebut dia buktikan dengan catatan CAR yang tetap terjaga pada level aman. "Kalo dari funding kita tidak perlu melakukan aksi korporasi apa pun," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Kita tak punya nafsu tinggi untuk melepas pinjaman dolar.

Selain itu, Jahja juga mengungkapkan bahwa perseroan saat ini tidak terlalu melihat ada kebutuhan pendanaan dalam valuta asing (valas). Untuk itu, penerbitan surat utang internasional dinilainya tidak dalam urgenitas yang mendesak. Lebih lanjut, bos BCA itu bahkan mengungkapkan bahwa perseroan tengah dalam kondisi likuiditas yang terbilang longgar.

"Mau dana dolar kita tidak punya nafsu tinggi untuk melepas pinjaman dolar. Lalu untuk likuiditas, LDR (loan to deposit ratio) kita masih berada dalam kisaran 80 persen yang jauh di bawah industri," ucap Jahja. Pernyataan Jahja itu cukup beralasan. Pasalnya, tingkat likuiditas permodalan berbanding kredit pelaku industri perbankan sepanjang tahun lalu tercatat berada pada level 93,6 persen.

"Kalau ada perusahaan lain yang membutuhkan untuk financing infrastructure atau apa, dan mereka butuh modal jangka panjang atau dananya butuh ya boleh saja dikeluarkan surat utang," imbuh Jahja.

Tahun ini BCA tenang-tenang saja.

Pernyataan Jahja tersebut merujuk pada ambisi badan usaha milik negara (BUMN) yang langsung tancap gas dalam menerbitkan surat utang negara atau global bond pada awal tahun ini. "Kami juga tidak ada rencana untuk right issue atau pun stock split, tahun ini tenang-tenang saja," tuturnya.

Sebagai informasi, hingga kuartal III/2019, bank dengan ticker emiten BBCA ini membukukan peningkatan laba bersih 13 persen secara tahunan menjadi Rp 20,9 triliun. Kemudian, dari sisi penyaluran kredit, perseroan mencatatkan pertumbuhan 10,9% menjadi Rp 585 triliun.

Berita btn-raup-5-triliun-dari-obligasiDirektur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Adi Setianto (tengah) didampingi Direktur PT CIMB Sekuritas Indonesia I Wayan Gemuh Kertaraharja (kiri) dan Head of Investment Banking PT BNI Sekuritas Indonesia Tulus Nababan (kanan), berbincang dalam Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan III Bank BTN Tahap I Tahun 2017 di Jakarta pada Selasa (13/6). Bank Tabungan Negara menerbitkan Obligasi senilai Rp 5 triliun. (Foto: Ant/Reno Esnir)

Lalu untuk rasio kredit bermasalah (non-performing loan- /NPL) terjaga pada angka 1,6 peresn. Sejalan dengan pertumbuhan kredit BCA, pendapatan bunga bersih meningkat 12,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (YoY) menjadi Rp 37,4 triliun. Adapun, Rasio CAR dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) tercatat pada level yang sehat masing-masing sebesar 23,8% dan 80,6%.

Global Bond BUMN

Dua BUMN yang bergerak di bidang perbankan, yakni PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) serta Bank Mandiri Tbk. telah menyatakan minat seriusnya untuk melepas global bond. Diketahui, BTN siap merilis utang mancanegara tersebut dengan besaran 300 juta dolar AS atau setara dengan Rp 4,2 trilun. Lalu, Bank Mandiri sendiri berencana menerbitkan global bond 1,25 miliar dolar AS atau senilai Rp 17,5 triliun.

Adapun, BTN berniat menggunakan dana tersebut untuk memperkuat struktur CAR perseroan agar tetap terjaga pada angka 19 persen. Sementara Bank Mandiri mengalokasikan dana global bond bagi keperluan ekspansi perusahaan pada semester II/2019.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Disalip CIMB, BCA Ngebet Garap Transaksi WeChat Pay
Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan BCA bakal segera merealisasikan kerjasama dengan WeChat Pay.
OJK Berikan Akses Informasi Penerbitan Obligasi Daerah
OJK mendorong penerbitan obligasi oleh pemerintah daerah sebagai upaya pendalaman pasar keuangan sekaligus sebagai alternatif pembiayaan pembangunan daerah.
Strategi BJ Habibie Selamatkan Perbankan Indonesia
BJ Habibie sebagai pengganti Presiden Soeharto memiliki peran tersendiri dalam mengembalikan perekonomian Indonesia.
0
Film Mulan Berpotensi Besar Mendapat Rating PG-13
Film aksi Mulan, berpotensi besar menjadi film remake live-action pertama Disney yang mendapatkan kategori rating PG-13.