Bawa Dokumen Disertasi, Rektor Unnes Bantah Plagiat

Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman membawa bukti disertasinya tidak plagiat. Apa saja buktinya?
Rektor Unnes Prof. Fathur Rokhman memperlihatkan dokumen disertasi yang membantah tuduhan plagiat skripsi mahasiswanya, Minggu, 23 Februari 2020. (Foto: Tagar/Sigit Aulia Firdaus)

Semarang - Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Fathur Rokhman akhirnya buka suara dugaan plagiat disertasinya. Ia membantah tuduhan itu sembari memperlihatkan sejumlah dokumen perjalanan disertasi saat masih menjadi mahasiswa S3 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. 

Di sebuah rumah makan di Jalan Kelud Raya, Kota Semarang, Fathur Rokhman dan satu orang yang mendampinginya membawa satu koper berukuran sedang. Dari dalam koper itu kemudian dikeluarkan sejumlah dokumen disertasi dari tahun 1997 sampai dengan 2003.

"Ini bukti yang bisa mematahkan dugaan plagiarisme yang dituduhkan kepada saya," kata dia, Minggu sore, 23 Februari 2020.

Fathur dengan tenang menunjukkan sejumlah catatan proses pengerjaan disertasi yang dilakukannya selama menjadi mahasiswa program doktoral di UGM. Ada satu jilid proposal disertasi pada tahun 1997, tiga jilid draft disertasi tahun 2000, 2001, dan 2002, lalu disertasi versi final tahun 2003. Dokumen yang ia tunjukkan itu masih lengkap dengan bukti coretan revisi dari dosen pembimbingnya.

Tak ketinggalan pula, dua skripsi yang dituding ia jiplak turut dibawa. "Ini masih ada coretan-coretan dosen pembimbing saya," ujar dia.

Kepada Tagar, Fathur mengaku merasa perlu menjelaskan proses pengerjaan desertasinya kepada publik lantaran tuduhan dugaan plagiarisme kepada dirinya terus bergulir. Apalagi sejak Unnes mengeluarkan SK pembebastugasan sementara Sucipto Hadi Purnomo sebagai dosen pada 14 Februari 2020. Penonaktifan tersebut dikaitkan dengan kasus dugaan plagiasinya.

Selama ini, ia menahan diri untuk komentar lebih jauh mengenai isu dugaan plagiarisme. Fathur telah percaya pada lembaga kredibel dalam menyelesaikan perkara tersebut. "Saya mengajukan proposal disertasi pada Desember 1997. Enam tahun sebelum skripsi mahasiswa bimbingan saya selesai. Dari mana menyonteknya?" kata dia.

Fathur menyebut dalam proposal maupun draft serta disertasinya tidak ada perubahan signifikan dalam hal judul. Hanya perubahan minor untuk menyesuaikan diksi yang tepat sehingga menguatkan alibinya untuk tidak mengubah isi dari disertasi yang dibuat.

"Saya bersyukur punya dokumen-dokumen pembuatan disertasi ini, masih saya simpan. Sejak 1997 masih ada dan bisa dipakai sebagai bukti. Kalau tidak ada dokumen ini, tidak tahu seperti apa nanti," katanya. 

Terkait adanya data yang sama dalam disertasi dengan skripsi mahasiswa Unnes, Fathur tidak menampik hal tersebut. Hal itu terjadi lantaran Fathur dan dua mahasiwa pembuat skripsi pernah terlibat proyek bersama dalam hibah penelitian pada tahun 2000.

Dan data penelitian itu dipakai Fathur dan mahasiswanya untuk menunjang karya akademis masing-masing. Tapi bagi Fathur hal itu dibolehkan lantaran menggunakan sudut pandang berbeda. Ia mengolah dari sisi kajian sosiolinguistik, sedangkan dua mahasiswa membedah dari sisi pilihan bahasa dan kedwibahasaan.

Dugaan plagiarisme Rektor Unnes sampai saat ini masih ditangani oleh UGM. Fathur telah meminta tolong promotor dan dua kopromotor disertasinya untuk meyakinkan publik jika karangan ilmiah doktornya merupakan murni karyanya. 

Fathur menyampaikan mahasiswa pembuat skripsi sudah menyatakan tidak merasa dijiplak karya ilmiahnya. Ia malah memberi draft disertasinya ke mahasiswa tersebut. "Semua bisa saya jelaskan secara akademik maupun dokumen bahwa tidak ada plagiasi seperti yang dituduhkan," ujar dia. 

Fathur yakin, UGM akan bijaksana dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi, sang pelapor dugaan plagiasi sudah minta maaf dan mencabut laporannya. "Ini adalah ekses politik pemilihan rektor Unnes pada 2014. Dan itu sudah selesai pada tahun 2014, saya dilantik. Kok kemudian muncul kembali. Ini pembunuhan karakter," ucapnya. [] 

Baca juga: 

Berita terkait
Mangkir, Alasan Rektor Unnes Bebas Tugas Dosen FBS
Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman mengungkapkan pembebastugasan dosen FBS Sucipto Hadi Purnomo karena telah mendapat teguran lisan berkali-kali.
Senat UGM Panggil Rektor Unnes Klarifikasi Plagiat
Klarifikasi dugaan plagiarisme penulisan disertasi program doktoral di UGM, senat akademis UGM panggil Rektor Unnes, Fathur Rokhman
Pengamat Hukum Nilai Kasus Dosen Unnes Mirip Ahok
Pengamat hukum Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menilai kasus dosen Universitas Negeri Semarang mirip dengan Ahok karena tidak bersalah.
0
Dewas KPK Pecat Penyidik Robin Terkait Suap Tanjung Balai
Dewan Pengawas KPK memecat penyidik Stepanus Robin Pattuju karena terbukti berhubungan dengan perkara Wali Kota Tanjung Balai M. Syahrial.