UNTUK INDONESIA
Auto Paham, 5 Istilah Ekonomi Populer Saat Pandemi
Dampak Covid-19 pada sektor perekonomain cukup signifikan. Sejumlah pemberitaan mendorong masyarakat semakin familiar dengan istilah ekonomi.
Warga melintas layar yang menampilkan infornasi pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 12 Maret 2020. BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan (\'trading halt\') pada sistem perdagangan di bursa efek pada Kamis (12/3) pukul 15.33 WIB karena dipicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 5,01 persen. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)

Jakarta - Menteri Keuangan periode 2013-2014 Chatib Basri pernah berujar dalam sebuah teleconference bahwa masyarakat Indonesia semakin terbiasa dengan terminologi ekonomi dalam kurun waktu belakangan ini.

"Orang-orang sekarang makin sering mendengar istilah ekonomi karena besarnya dampak Covid-19 pada sektor ini," kata dia beberapa waktu lalu.

Bagi sebagian kalangan, istilah-istilah ekonomi mungkin sulit dipahami mengingat cukup jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, deretan terminologi itu sebenarnya mudah untuk dimengerti asalkan bisa dipahami dengan logika yang sederhana.

Berikut adalah daftar istilah ekonomi yang kerap kali mencuat selama masa pandemi Covid-19.

1. Relaksasi

KreditIlustrasi kredit. (Foto: Pixabay/TheDigitalWay)

Secara harfiah, relaksasi bermakna pelonggaran atau pengenduran. Dalam cakupan ekonomi, relaksasi memiliki definisi pelonggaran atas sebuah kewajiban yang dikenakan pada individu maupun badan tertentu.

Relaksasi bisa berupa penundaan pembayaran kredit maupun penghapusan denda yang timbul karena sebuah kebijakan resmi. Biasanya, relaksasi bersifat sementara karena adanya pengecualian dalam suatu hal.

Orang-orang sekarang makin sering mendengar istilah ekonomi karena besarnya dampak Covid-19 pada sektor ini.

2. Inflasi

InflasiIlustrasi Inflasi. (Foto: Pixabay/Gerd Altmann)

Di republik ini, dua lembaga pemerintah yang paling sering menggunakan istilah inflasi adalah Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI). Setiap bulan, sepasang perangkat ekonomi negara itu secara konsisten mengkaji besaran inflasi di dalam negeri.

Inflasi sendiri menurut Wikipedia mengandung arti meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar, sampai adanya ketidaklancaran distribusi barang/jasa.

Secara sederhana, inflasi dapat dipahami menurunnya nilai mata uang dibandingkan dengan nilai sebelumnya. Contoh mudah adalah nilai uang Rp 100.000 pada 1990 kira-kira setara dengan 1 gram emas atau satu keranjang penuh bahan pangan.

Pada periode 2000-an, uang Rp 100.000 sudah tidak lagi bernilai sama dengan 1 gram emas maupun satu keranjang bahan pangan. Hal tersebut terjadi akibat tergerusnya nilai mata uang berbanding dengan nilai barang yang diperdagangkan.

Salah satu penyebab kenaikan inflasi adalah pergerakan harga barang kebutuhan pokok yang diperjualbelikan secara masif. Selain itu, inflasi juga dapat dipicu oleh terlalu banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat secara ‘ugal-ugalan’.

Gambaran nyata bahaya inflasi cukup parah terjadi pada negara Afrika bagian selatan, yakni Zimbabwe. Di Negara ini, dibutuhkan uang sebanyak 100 miliar dolar Zimbabwe untuk membeli tiga butir telur. Padahal di Indonesia, hanya diperlukan Rp 6.000 untuk menebus tiga telur yang sama.

Kondisi tersebut terjadi akibat kebijakan pemerintah setempat yang membuat keputusan mencetak mata uang lokal secara berlebihan. Alhasil, inflasi Zimbabwe bergerak liar hingga mencapai level 175 persen per Juni 2019.

Besaran tersebut sangat jauh dari inflasi di Indonesia yang ditetapkan undang-undang berada pada kisaran 4 persen. Jadi, jangan heran jika BI secara mentah-mentah menolak usulan anggota parlemen yang meminta pemerintah mencetak uang Rp 600 triliun lebih banyak guna mengatasi dampak pandemi Covid-19.

Inflasi ini bersifat niscaya. Keberadaannya tidak bisa dihilangkan sama sekali. Upaya yang dapat dilakukan oleh negara adalah dengan menjaga besaran inflasi tetap dalam kondisi terkendali.

3. Fluktuasi

Dolar ASKaryawan menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020. (Foto: Antara/Aprillio Akbar/wsj)

Merupakan ketidaktetapan nilai barang/jasa yang terjadi akibat naik-turunnya harga di pasaran. Contoh paling yang paling sering terjadi adalah fluktuasi nilai mata uang sebuah negara. Fluktuasi juga sangat mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah inflasi.

Menjadi seorang ekonom itu seperti peramal sejati. Mereka selalu ditanya mengenai prediksi ekonomi di masa depan seperti apa. Jika ramalannya meleset, ekonom akan menjelaskan dengan fakta-fakta yang ada saat itu. Uniknya, orang-orang masih tetap percaya dan akan terus bertanya dengan pola yang sama.

4. Insentif

Aktivitas di Industri TekstilAktivitas produksi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). (Foto: Dok. Biro Humas Kementerian Perindustrian)

Merupakan stimulus atau rangsangan yang diberikan kepada orang maupun badan tertentu dengan tujuan mendorong terjadinya produktivitas. Contoh insentif yang paling sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah pemberian bonus kepada pekerja atas prestasi yang telah dicapai.

Dalam dunia usaha, insentif lebih banyak berupa fasilitas maupun kemudahan tertentu guna mengerek kegiatan bisnis. Salah satu sering diberikan oleh pemerintah kepada pengusaha adalah terkait pembebasan tarif barang tertentu untuk menopang produksi.

5. Resesi

Pertumbuhan EkonomiIlustrasi pertumbuhan ekonomi. (Foto: pixabay.cpm/nattanan23)

Dalam cakupan ekonomi yang luas, resesi merupakan kemerosotan nilai produk domestik bruto (PDB) dibandingkan dengan periode sebelumnya. Cara paling gampang untuk menggambarkan apakah sebuah negara mengalami resesi atau tidak adalah dengan melihat angka pertumbuhan ekonomi yang berhasil dibukukan.

Apabila dalam dua kuartal terakhir angka pertumbuhan ekonomi selalu menurun, maka negara tersebut sudah bisa dikatakan mengalami resesi secara riil.

Dalam lingkup ekonomi, kepastian yang paling esensial adalah ketidakpastian itu sendiri. Semua berproses tanpa bisa ditentukan akan bagaimana keadaan selanjutnya.

“Menjadi seorang ekonom itu seperti peramal sejati. Mereka selalu ditanya mengenai prediksi ekonomi di masa depan seperti apa. Jika ramalannya meleset, ekonom akan menjelaskan dengan fakta-fakta yang ada saat itu. Uniknya, orang-orang masih tetap percaya dan akan terus bertanya dengan pola yang sama,” tutur Chatib Basri. []

Baca juga:

Berita terkait
Angkutan Udara Penyumbang Inflasi Terbesar di Sumbar
Selama bulan Mei 2020, Sumatera Barat (Sumbar) dilaporkan mengalami inflasi.Tarif angkutan udara menjadi penyumbang terbesar.
Insentif ke Sektor Usaha Diperluas, Kadin: Cegah PHK
Kadin Indonesia menyambut baik langkah pemerintah yang akan memperluas paket stimulus bagi sektor usaha yang terkena dampak virus corona.
Bank BTPN Relaksasi Kredit Debitur Terimbas Covid-19
Bank BTN mendukung program pemerintah dalam memberikan relaksasi kredit kepada debitur, khususnya UMKM yang terpapar Covid-19.
0
Hindia Sumbang Konsep di Konser Daring Here Comes The Sun
Solois Hindia menjadi salah satu pengonsep acara di festival musik Here Comes The Sun virtual Edition.