UNTUK INDONESIA
Ahmad Dhani: Seharusnya TNI Tolak PKI, Bukan Rizieq Shihab
Musisi Ahmad Dhani berpendapat, seharusnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) lantang mengingatkan bahaya laten PKI, bukan Habib Rizieq Shihab.
Musisi Ahmad Dhani berpendapat, seharusnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) lebih lantang mengingatkan bahaya laten PKI, bukan Habib Rizieq Shihab. (Foto: Ist)

Jakarta - Musisi Ahmad Dhani berpendapat, seharusnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) lebih lantang mengingatkan bahaya laten komunis yang dijalankan Partai Komunis Indonesia (PKI), bukan justru pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang selalu mewaspadai kebangkitan partai terlarang tersebut.

Dhani mengaku kerap mendapati mention di Instagram miliknya, ia nilai banyak anak muda di Indonesia tidak memahami komunisme, karena menganggapnya sebagai atheis ataupun tidak beragama.

Harusnya yang lebih lantang menolak PKI atau komunisme di Indonesia seharusnya TNI, harusnya bukan Habib Rizieq.

Dia menekankan, komunisme itu sudah menjadi bahaya laten di negeri ini lantaran pernah memberontak dua kali, yakni pada tahun 1948 dan 1965, di mana melakukan pembantaian terhadap jenderal-jenderal maupun ulama.

Baca juga: Rizieq Shihab Pulang, PA 212: Tidak Minta Bantuan Pemerintah

Pentolan grup musik Dewa 19 itu berpandangan, apabila PKI memiliki sisi historis tidak pernah melakukan pemberontakan pada tempo lampau, maka paham ataupun partai komunis itu masih diperbolehkan hidup di Indonesia.

"Tapi karena mereka itu pernah melakukan pembunuhan yang kejam terhadap jenderal-jenderal itu, maka dari itu harusnya yang lebih lantang menolak PKI atau komunisme di Indonesia seharusnya TNI, harusnya bukan Habib Rizieq," kata Ahmad Dhani dalam kanal YouTube Front TV, dilihat Tagar, Rabu, 23 September 2020.

Lantas ia menilai Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak lebih berbahaya ketimbang PKI, yang sudah jelas menjadi momok bangsa ini jika diurai dari benang sejarah.

Secara tegas Dhani berkata, seandainya ada warganet atau umat muslim yang menyebut HTI sebagai bahaya laten sesungguhnya, maka ia anggap orang itu sebagai orang yang tidak paham sejarah. 

Baca juga: Ahmad Dhani: Islam PA 212 Sejuk, Rumput Pun Tidak Dizalimi

"HTI ini bisa saja kalau presiden-nya ganti boleh lagi. Itu bisa saja. Tapi sampai kapanpun presiden-nya, ganti PKI itu tidak akan pernah ada lagi di Indonesia, itu sudah menjadi mahfum buat kita semua. Lebih baik kita perang melawan PKI, lebih baik kita perang melawan komunisme, karena komunisme di Indonesia berbeda dengan komunisme di negara lain gitu," ujarnya.

Menurut dia, orang Indonesia sedikit mempunyai kesamaan dengan orang Jerman, yang memiliki trauma mendalam terhadap Nazi.

"Begitu juga pun PKI. Jadi komunisme itu sudah pernah membuat trauma yang sangat dalam kepada bangsa ini, sehingga itulah alasan kita menolak mereka, bukan karena mereka tidak beragama, karena itu bisa dibantah sama mereka. Kita membenci komunisme bukan karena mereka tidak punya agama, tapi karena mereka pernah melakukan pemberontakan dua kali, 1948 dan 1965," kata Ahmad Dhani. []

Berita terkait
PA 212: Akan Ada Bala Bagi Perecok Kepulangan Rizieq Shihab
Ketua PA 212 Slamet Maarif mengingatkan pihak-pihak tertentu untuk mewaspadai bala dengan merecoki kepulangan Habib Rizieq Shihab ke Indonesia.
Isi Maklumat FPI - GNPF Ulama - PA 212 Soal Pilkada Maut
FPI, PA 212, dan GNPF Ulama meminta pelaksanaan Pilkada 2020 pada Desember mendatang dihentikan. Menurut mereka, pilkada ini menjadi klaster maut.
FPI - GNPF Ulama - PA 212 Minta Pilkada Maut Dihentikan
FPI, PA 212, dan GNPF Ulama meminta pelaksanaan Pilkada 2020 pada Desember mendatang dihentikan. Menurut mereka, pilkada ini menjadi klaster maut.
0
Jaringan Kiai Tahlil Sleman Dukung Kustini - Danang
Sejumlah tokoh kiai NU Sleman mendeklarikan diri dalam Jaringan Kiai Tahlil mendukung paslon Kustini - Danang pada Pilkada 2020.