UNTUK INDONESIA
Ada Corona, Dugderan Semarang Digelar Tanpa Karnaval
Semarang tetap menggelar Dugderan. Namun meniadakan sejumlah acara yang potensial menjadi sarana penularan virus corona.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memukul beduk di Dugderan tahun lalu. Adanya wabah virus corona, Dugderan akan digelar tanpa ada karnaval. (Foto: Tagar/Yulianto)

Semarang - Dugderan, tradisi masyarakat kota Semarang menyambut datangnya bulan suci Ramadan, bakal dikemas secara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Kota Semarang memutuskan event itu tidak menyertakan gelaran pawai atau arak-arakan karnaval. 

Dugderan tanpa karnaval mempertimbangkan potensi penyebaran virus corona. Sebab di kegiatan itu biasa diikuti ratusan peserta dan disaksikan ribuan masyarakat Semarang dan sekitarnya. 

Dugderan tetap ada tapi berbeda konsep. Tidak ada karnaval, tidak ada keramaian.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari mengatakan event Dugderan tahun ini akan dikonsep berbeda ketimbang biasanya. 

“Dugderan tetap ada tapi berbeda konsep. Tidak ada karnaval, tidak ada keramaian. Intinya, hanya mengumumkan kepada masyarakat bahwa sebentar lagi bulan puasa,” tutur dia, Rabu, 25 Maret 2020.

Iin, sapaan Indriyasari menyatakan sejumlah prosesi Dugderan, di luar karnaval masih bisa dilaksanakan. Namun itu pun tetap dalam kajian untuk dipilah dan dipilih dengan mempertimbangkan kerumunan massa yang bisa muncul. 

“Tapi ini masih akan kami bahas dulu di rapat,” ujar dia. 

Dugderan Semarang selama ini menjadi magnet wisata bagi warga menjelang Ramadan. Satu kegiatan yang cukup menarik perhatian adalah arak-arakan seni budaya, produk unggulan, dari kelompok masyarakat maupun perwakilan 16 kecamatan.  

Masyarakat dipastikan memadati sepanjang rute yang dilintasi pawai karnaval. Mulai dari Jalan Pemuda, Imam Bonjol, Balai Kota Semarang, Masjid Besar Kauman Semarang, hingga Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Dugderan, tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun untuk mengumumkan dimulainya puasa kepada khalayak umum. Dimulai sekitar abad 18 saat pemerintahan Bupati RM Tumenggung Ario Purbaningrat. 

Dugderan diambil dari kata dug, bunyi beduk, dan der, bunyi meriam. Seiring waktu fungsi meriam diganti dengan petasan untuk menimbulkan suara der. 

Ritual inti Dugderan tetap dipertahankan hingga saat ini. Seperti pembacaan suhuf hasil halaqah ulama soal penentuan dimulainya puasa. Juga pemukulan beduk oleh Wali Kota Semarang yang memerankan Bupati Purbaningrat. 

Ada pula ritual pembagian kue ganjel rel hingga pawai warag ngendog, hewan imajiner hasil kulturasi budaya Jawa, China dan Arab. Kemeriahan Dugderan juga lengkap dengan ragam hiburan rakyat dan gelaran pasar yang menyajikan aneka kebutuhan selama sepekan sebelum Ramadan. 

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fravarta Sadman mengatakan masih berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan dinas terkait untuk gelaran Dugderan. Utamanya membahas pedagang yang akan ikut jualan di pasar tiban di sekitar Johar lama. 

Belum ada kebijakan apakah mereka nantinya boleh berjualan atau tidak. “Tergantung kondisi ke depan seperti apa, kami masih koordinasikan," ujar dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Nasib Dhandhangan Kudus di Tengah Pandemi Corona
Pemerintah Kudus memutuskan untuk meniadakan festival menyambut Ramadan, Dhandhangan, untuk mencegah penyebaran virus corona.
Tradisi Unik Dugderan Sambut Ramadan
Warga Semarang punya tradisi unik menyambut Ramadan. Tradisi turun temurun selama 138 tahun itu dinamai Dugderan
Cegah Corona, Semarang Tiadakan CFD dan Tunda SNC
Kota Semarang akhirnya meniadakan kegiatan yang bersifat massal, seperti CFD dan SNC. Virus corona menjadi penyebabnya.
0
Ada Corona, Dugderan Semarang Digelar Tanpa Karnaval
Semarang tetap menggelar Dugderan. Namun meniadakan sejumlah acara yang potensial menjadi sarana penularan virus corona.