UNTUK INDONESIA
Tradisi Unik Dugderan Sambut Ramadan
Warga Semarang punya tradisi unik menyambut Ramadan. Tradisi turun temurun selama 138 tahun itu dinamai Dugderan
Warak Ngendhog, hewan mitologi akulturasi budaya etnis Tionghoa, Arab dan Jawa diarak di Pawai Dugderan di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu 4 Mei 2019 sore. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang - Warga Semarang, Jawa Tengah punya tradisi unik menyambut Ramadan. Tradisi turun temurun yang telah berlangsung selama 138 tahun itu dinamai Dugderan.

Dugderan, diambil dari dua kata, dug dan dher. Dug merupakan representasi dari bunyi beduk yang dipukul, jedug. Dan dher dari suara meriam, jedher. Ritual beduk dipukul masih dipertahankan, namun bunyi dher yang awalnya didapat dari menyulut meriam kini diganti dengan menyalakan petasan atau bom udara.

Dugder kali pertama digelar tahun 1881, ketika Semarang dipimpin Bupati RMTA Purbaningrat. Berangkat dari keinginan Purbaningrat, menyamakan pandangan dari kalangan ulama tentang dimulainya puasa.

Dan bicara tradisi dugder, tak melulu tentang bunyi beduk dipukul dan nyala meriam atau petasan. Pawai rakyat sebagai upaya kegembiraan masyarakat menyambut Ramadan menjadi bagian tak terpisahkan.

Ada ciri khas dari pawai dugderan, yakni diaraknya hewan mitologi yang disebut Warak Ngendhog. Dalam istilah Jawa, Warak sama dengan badak. Namun ada pendapat lain, Warak berasal dari bahasa Arab yang berarti suci. Sementara Ngendhog berarti bertelur.

Hewan mitologi ini berbentuk unik. Kepalanya naga, badan buroq dan keempat kakinya adalah kaki kambing. Wujud akulturasi budaya tiga etnis yang ada di Semarang, yakni Tionghoa, Arab dan Jawa.

"Simbol ini menyatu dan beriringan sejak Semarang berdiri sampai saat ini, simbol keharmonisan," kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, saat membuka Pawai Dugderan 2019, di halaman Balaikota Semarang, Sabtu 4 Mei 2019.

Pembukaan Pawai Dugderan dilakukan oleh Hendrar Prihadi yang memerankan Tumenggung Semarang bergelar Kanjeng Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Ditandai dengan menabuh beduk dan upacara budaya di halaman balaikota.

Prosesi dugderan berlanjut ke kirab budaya. Setidaknya 10 ribu peserta dari 16 kecamatan yang ada di Kota Semarang menyemarakkan pawai lintas budaya ini.

Selain membawa miniatur Warak Ngendhog, peserta juga membawa bunga Manggar, menampilkan kesenian tradisional masing-masing daerah hingga kesenian Barongsai.

Cukup menyita perhatian Warak Ngendhog yang diarak salah satu kelompok peserta. Warak tipe raksasa, setinggi enam meter dan harus dinaikkan kendaraan lantaran ukurannya yang sangat besar.

Simbol ini menyatu dan beriringan sejak Semarang berdiri sampai saat ini, simbol keharmonisan

Bersama dengan aneka ragam atribut dugderan yang diusung peserta, Warak diarak dari balaikota menuju Masjid Agung Kauman dan Masjid Agung Jawa Tengah.

Wali Kota Semarang ikut dalam pawai tersebut, diarak menggunakan kereta kencana berhias bunga dan kembang Mangar. Diiringi pasukan berkuda dan rombongan kereta kencana lain yang ditumpangi para pejabat Kota Semarang seperti Kapolrestabes, Dandim, Kajari, Ketua Pengadilan dan lainnya.

Kemeriahan benar-benar terasa sepanjang jalan rute pawai. Semua warga multi etnis Semarang bergembira menyambut pawai.

Tiba di Masjid Agung Kauman, rombongan pawai mengikuti prosesi sakral mulai dari pembacaan Shukuf Halaqoh, doa hingga tabuh beduk dan peledakan bom udara, sebagai penanda segera masuknya Ramadan.

Baca juga: Jelang Ramadan, Tim Anti Bandit Akan Diaktifkan

Di Kauman, hal yang dinanti masyarakat tiba yakni berebut kembang Manggar yang dibawa pawai dan yang menempel di kereta kencana. Masyarakat juga berebut air suci dari pembacaan khatam Alquran dan jajan tradisional asli Semarang kue Ganjel Rel.

"Kembang Manggar itu warna-warni simbol keberagaman dan keharmonisan, air suci dipercaya membawa berkah dan Ganjel Rel yang rasanya manis dipercaya memberi nuansa bahagia sambut Ramadan," beber Hendi, sapaan Wali Kota Semarang.

Setelah prosesi di Masjid Agung Kauman, pawai dugderan berlanjut ke Masjid Agung Jawa Tengah. Hampir mirip dengan prosesi di Kauman, hanya ada tambahan berupa penyerahan Shukuf Halaqoh oleh Hendi ke Kanjeng Raden Mas (KRM) Aryo Probo Hadikusumo yang diperankan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Shukuf Halaqoh kembali dibacakan oleh Gubenur Ganjar disertai pemukulan beduk dan bom udara, serta diumumkannya kepada masyarakat secara luas bahwa bulan Ramadan segera datang dan bersiap menjalani ibadah puasa dengan hati yang suci dan bersih. []

Berita terkait
0
Syarat Dapat Subsidi Bunga Kredit 6% dalam 6 Bulan
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan tidak semua kreditur otomatis mendapat subsidi bunga kredit selama enam bulan.