Surabaya - Di tengah pandemi Covid-19, sejumlah komplotan pembobol ATM dengan metode Skimming sukses meraup keuntungan Rp 500 juta. Komplotan ini beraksi dengan memanfaatkan situasi pandemi sepi ketika malam hari.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan pihak kepolisian telah mengamankan ketiga pelaku yakni, RY, 34 tahun asal Malang, DM, 32 tahun asal Malang dan PS 31 tahun dari Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Alatnya dipesan secara khusus dari luar negeri, dengan jaringan mereka.
Truno menjelaskan ketiga pelaku ini menjalankan aksinya dengan memanfaatkan alat khusus untuk membobol ATM. Bahkan alat-alat itu langsung didatangkan dari luar negeri.
"Alatnya dipesan secara khusus dari luar negeri, dengan jaringan mereka," kata Truno di Mapolda Jatim, Senin, 4 Mei 2020.
Truno menambahkan alat yang dipakai pelaku ini diletakkan di ATM-ATM yang tidak ada penjaganya. Selanjutnya, alat itu akan dengan mudah meng-copy data ATM korban.
"Jadi alat tersebut sengaja diletakkan di ATM yang tidak ada penjaganya. Selain itu, pelaku juga memanfaatkan situasi yang sepi akibat wabah corona ini," imbuh dia.
Di kesempatan sama, Kasubdit V Cyber Ditreskrimsus Polda Jatim Ajun Komisaris Besar Catur Cahyo Wibowo menambahkan sistem skimming ini berupa lempengan yang dipasang di mesin ATM.
"Jadi pelalu memasang alat tersebut sekitar pukul 21.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Selanjutnya di hari berikutnya, pelaku mengambil alat tersebut dengan mengantongi data pada ATM korban," ujar dia.
Catur melanjutkan data ATM korban ini kemudian dimanfaatkan pelaku untuk melakukan penarikan uang tunai. Sehingga pelaku bisa menarik hingga Rp 500 juta.
"Jadi ATM yang sudah masuk di ATM tersebut, tentunya akan tercopy dalam skiming itu dipasang jam 9 ketika malam diambil, jadi semua kartu yang masuk ke mesin ATM tersebut akan ter-copy. Disinilah korban mengalami kerugian sekitar Rp 500 juta," ucap dia.
Namun hingga kini, Catur menyebut baru ada satu korban yang melapor. Tetapi, pihaknya akan mendalami sudah berapa korban yang ATM-nya telah dibobol komplotan ini.
"Untuk korban yang melapor masih satu aja atas nama Setiono untuk kerugian Rp 500 juta lebih dan sekarang masih dalam proses mungkin perkembangan kalau ada pelapor yang masih ada yang mengalami kerugian mungkin secara teknis," tuturnya. []