UNTUK INDONESIA
Tradisi Menjemput Jemaah Haji di Sulawesi Selatan
Syamsiah rela menunggu lama di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia percaya semakin lama menunggu semakin besar berkah didapat.
Sukacita menyambut keluarga datang dari ibadah haji di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 18 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Maros - Waktu menunjukkan pukul 15.20 Wita. Sudah tiga jam lebih Syamsiah di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia menyesap minuman teh dari gelas untuk menenangkan diri.

Perempuan berusia 45 tahun itu sedang menjemput keluarganya dari ibadah haji yang tergabung dalam kelompok terbang pertama Debarkasi Hasanuddin, Makassar, Minggu, 18 Agustus 2019.

Ia tidak sendirian, tapi bersama keluarga besar lain berjumlah 10 orang.

Syamsiah lebih awal datang di asrama haji ini karena ada info datangnya jemaah sebelum masuk waktu salat Asar. Tapi pas sampai di asrama ada informasi baru, kedatangan jemaah haji ini sebelum masuk waktu magrib.

Meski begitu Syamsiah tidak kecewa karena sudah tidak sabar ingin bertemu keluarganya, setelah kurang lebih satu bulan berada di Tanah Suci Mekkah.

Kami percaya menjemput keluarga sepulang berhaji, rezeki untuk bisa dipanggil Sang Pencipta untuk berangkat haji juga terbuka besar.

“Biar sampai malam tidak akan kecewa, saya sudah sangat rindu dengan keluarga yang baru mau pulang dari berhaji,” ujarnya. 

Ia bersama rombongan penjemput menuju ke sini dengan menggunakan tiga minibus. Menurut kepercayaannya, kegiatan beramai-ramai menjemput jemaah yang pulang dari haji akan mendapatkan keberkahan.

“Kami percaya menjemput keluarga sepulang berhaji, rezeki untuk bisa dipanggil Sang Pencipta untuk berangkat haji juga terbuka besar. Entah itu benar atau tidak, tapi kami lakukan hampir setiap tahun,” ujarnya.

Tradisi semacam ini ia lakukan bukan untuk keluarga saja, tapi juga mengantar dan menjemput tetangga yang berhaji.

“Meriah sekali bersama-sama menjemput keluarga dari berhaji. Satu orang yang dijemput, yang jemput lebih dari tiga mobil. Terasa sangat seru,” kata Syamsiah. Ia datang dengan membawa serta anaknya.

membawa bekal dari rumah, disantap beramai-ramai dalam kesempatan menunggu.Ia membawa bekal dari rumah, disantap beramai-ramai dalam kesempatan menunggu.

“Makanan di asrama haji ini harganya mahal, dan kami banyak orang juga,” katanya.

Ia memperlihatkan makanan yang dibawa, ada ketupat, buras atau burasa, ayam tumis kecap, mi goreng, dan sayur tumis. 

***

Herdiman, penjemput lain, mengaku tiba di asrama haji sejak pukul 12.00 siang. Sebab kabar yang diperolehnya, jemaah haji akan tiba di asrama sekitar pukul 15.00 sore sehingga memutuskan lebih awal menuju asrama.

"Awalnya kami sekeluarga dapat info jemaah haji kloter pertama akan tiba setelah salat asar. Tapi setelah tiba di asrama baru diberitahukan jadwal kedatangan jemaah haji ini pukul lima sore," kata Herdiman.

Ia mengatakan, meski tiba lebih awal di asrama dan harus menunggu lama, tidak masalah baginya sebab rasa rindu kepada keluarganya yang berhaji lebih besar.

"Tidak apa-apa lama menunggu, karena sudah rindu. Selain itu, dengan menunggu bisa mendapat berkahnya," ujarnya.

***

Kloter pertama Makassar memberangkatkan 455 jemaah haji, kembali pulang dengan jumlah yang sama. 

Kasma dan Irawati mengungkapkan rasa syukur, proses haji berjalan lancar, dan pulang dengan selamat.

"Alhamdulillah luar biasa sekali, kami bersyukur. Banyak suka dukanya. Bahagia sekali bisa wukuf di Arafah," tutur Kasma, jemaah haji dari Makassar.

Ia menunggu sembilan tahun untuk naik haji.

Irawati, jemaah haji dari Makassar juga, memuji pelayanan yang didapatkan sangat baik.

"Alhamdulillah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga setelah 40 hari beribadah. Pelayanan selama di sana juga luar biasa," kata Irawati. Ia seorang pengajar taman kanak-kanak.

Suasana haru dan bahagia dirasakan jemaah, demikian juga dengan para ribuan penjemput.

"Lega dan senang, mereka sampai dengan selamat. Akhirnya dua keluarga kami sampai. Kami sudah menunggu dari jam satu siang, datang dengan mobil," kata Suriani, seorang penjemput.

Jemaah yang kembali juga masih dalam pemantauan kesehatan selama 14 hari.

***

Kelompok terbang pertama Embarkasi Hasanuddin Makassar terlambat datang kurang lebih dua jam dari jadwal yang semestinya. Kloter pertama sebelumnya dijadwalkan 15.25 Wita, tapi terlambat hingga pukul 17.24.

“Karena padatnya penerbangan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, sehingga kedatangan sejumlah jemaah haji ini mengalami keterlambatan,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Anwar Abubakar, Minggu, 18 Agustus 2019.

“Alhamdullilah, menurut laporan yang kami terima, 450 jemaah dalam keadaan sehat walafiat,” lanjut Anwar.

Kloter pertama dengan 450 jemaah dan lima petugas datang disambut Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dan Pelaksana Jabatan Wali Kota Makassar Iqbal Suaeb.

“Alhamdulillah kloter pertama tiba dengan selamat, dengan seluruh rombongan utuh. Selamat menyandang gelar haji dan hajjah, semoga menjadi haji yang mabrur,” ucap Nurdin Abdullah dalam sambutannya.

Nurdin mengatakan di Tanah Suci mereka melaksanakan tahapan-tahapan haji. Saat berangkat tidak saling mengenal dan kembali saling mengenal. Jalinan silaturahmi tetap harus dijaga dengan baik. []

Berita terkait
Kisah Usman, Jemaah Haji Nyaris Wafat di Depan Ka’bah
Usman menceritakan pengalamannya hendak mencium hajar aswad saat berada di Mekkah. Ia mengaku hampir saja merenggang nyawa di depan Ka’bah.
Bocah 10 Tahun di Malang Naik Haji Ajak Orang Tuanya
Pada usianya yang baru menginjak 10 tahun, tapi dia sudah mengajak kedua orang tuanya untuk berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji.
1.003 Jemaah Haji Indonesia Siap Menginjak Tanah Air
1.003 jemaah haji asal Tegal diperkirakan tiba di Indonesia pada 1 September 2019. Rombongan terpisah menjadi empat kloter.
0
BNNP DIY Musnahkan Sabu-sabu Kurir Aceh 2,1 Kg
BNNP DIY memusnahkan sabu-sabu 2,1 Kg dari dua tersangka warga Aceh di Yogyakarta.