UNTUK INDONESIA
Tiur Siagian dan Lidi yang Menggiurkan
Anak ke-4 dari delapan bersaudara ini mengisahkan awal mula kerajinan yang mereka produksi.
Tiur Siagian saat di Sopo Lidi. (Foto: Tagar/Alex Siagian)

Tobasa - "Ini sudah setahun," begitu kata Tiur Siagian, perempuan asal Desa Meranti Timur, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir memulai bicara kami pada Kamis 4 Juli 2019 pagi lalu di kediamannya.

"Kita duduk di situ saja," katanya, mengajak kami ke sebuah pondok kayu yang didirikan di depan rumahnya. "Ini kami sebut Sopo Lidi," sebut perempuan berusia 39 tahun ini memberi sedikit penjelasan.

Kata 'sopo' diangkat dari bahasa Batak yang berarti gubuk, sementara kata 'lidi' diambil dari nama bahan baku yang mereka produksi menjadi sebuah kerajinan.

Sopo Lidi ini hanya berukuran 3 x 2 meter, didirikan dari kayu balok tanpa dinding dengan lantai papan, seperti rumah panggung. Atapnya dibuat dari bambu yang kian mempertegas klasiknya bangunan sederhana ini.

Meski beratap bambu, sopo ini tidak bocor meski diguyur hujan. "Atap bambu itu ide kakek saya," kata Krista Silalahi, keponakan Tiur, berusia 10 tahun yang saat itu menemani bicara kami.

Tiur SiagianTiur Siagian saat di Sopo Lidi. (Foto: Tagar/Alex Siagian)

Disuguhi segelas kopi, kami lanjut berbagi cerita. Di sopo ini, Tiur dan beberapa pengrajin lain kerap menghabiskan waktu siang untuk menganyam lidi jika ada pesanan dalam jumlah besar.

Anak ke-4 dari delapan bersaudara ini mengisahkan awal mula kerajinan yang mereka produksi. Semula, masyarakat di desanya, khususnya kaum ibu kerap menjual lidi mentah dengan harga murah.

"Jadi lidinya diarit dulu, dibersihkan, baru dijemur dua atau tiga hari, setelah itu dijual. Harganya paling Rp 1.200 sampai Rp 1.500 sekilo," ujar Tiur mengawali cikal-bakal kerajinan mereka.

Melihat harga yang sangat minim itu, Tiur mencoba berkreasi. Modal media sosial YouTube dengan jaringan internet super lelet di kampungnya yang jauh dari keramaian, Tiur mulai belajar.

Satu per satu tutorial di jejaring berbagi video itu dia amati. Pelan-pelan petunjuk demi petunjuk dia ikuti, produk pertama membuat piring tak berbentuk dan benar-benar berantakan.

Tiur terus melanjutkan, dengan bantuan peralatan satu buah gunting bunga, perempuan yang hanya menamatkan pendidikan hingga kelas 4 SD ini terus belajar. Produk berikutnya mulai berbentuk, meski sebenarnya belum layak jual.

Modal nekat dan berharap akan mendapat saran dan masukan, dia meminta adik laki-lakinya menjual produk 'gagal' itu ke Balige, ibu kota Kabupaten Toba Samosir.

Produk pertama langsung diborong dengan harga lumayan, Tiur kian bersemangat. Dari pembeli pertama ini, dia mendapat masukan.

Produksi terus dia lanjutkan, kali ini tidak lagi seorang diri. Beberapa tetangganya mulai dia ajari. "Awalnya mendapat penolakan, itu sudah pasti. Mereka bilang harganya terlalu murah, cara membuatnya terlalu sulit. Sementara kalau dijual dalam bentuk piring, hasilnya jauh lebih baik daripada menjual lidi mentah," lanjut Tiur.

Harga lidi mentah yang hanya Rp 1.200 sampai Rp 1.500 per kilogram itu memang dinilai sangat minim, sebab untuk menghasilkan satu kilogram lidi mentah siap jual, masyarakat butuh waktu satu jam.

"Satu jam digaji dua ribu pun masih sangat minim. Apalagi hanya Rp 1.200 atau Rp 1.500," ujar Tiur sembari terus menganyam piringnya.

Tiur SiagianPiring lidi karya Tiur Siagian. (Foto: dokumentasi Tiur)

Sementara jika dikreasikan menjadi piring, para pengrajin bisa menghasilkan empat sampai lima buah piring dari satu kilogram lidi, meski harus menambah waktu kerja hingga dua atau tiga jam.

"Kalau dapat lima piring dalam dua jam, katakan harganya lima atau empat ribu satu buah, itu jauh lebih menguntungkan," lanjutnya.

Membuat piring dari lidi memang dibutuhkan ketelitian. Satu per satu lidi harus diarit dengan bersih hingga berwarna kecokelatan.

Lidi yang sudah bersih dan dijemur hingga setengah kering kemudian dianyam dengan terlebih dahulu dibagi menjadi enam bagian besar, masing-masing bagian besar ini dibagi lagi menjadi empat bagian kecil.

Bagian-bagian kecil ini terdiri dari empat batang lidi, sementara bagian-bagian besar itu terdiri dari 16 batang lidi. Untuk menghasilkan satu buah piring, pengrajin membutuhkan hingga 96 batang lidi.

Setiap bagian kecil itu kemudian dianyam di dalam sebuah lingkaran kecil berdiameter 8 sampai 10 sentimeter yang juga terbuat dari lidi.

Adik laki-laki saya selalu bilang supaya saya dan orang-orang di kampung ini harus jadi orang yang produktif

Tak butuh banyak peralatan untuk membuat piring ini, cukup menggunakan gunting bunga untuk memotong bagian pangkal dan ujung lidi, sementara bahan lain adalah benang untuk mengikat lingkaran itu.

"Ini (benang) untuk mengikat lingkarannya, lingkaran ini pola dasar. Kalau ini (gunting bunga) untuk memotong pangkal dan ujungnya untuk finishing," ungkap Tiur menjelaskan lebih detail cara membuat piring lidi itu.

Kini, harga lidi di kampung mereka tidak lagi sama dengan harga yang dibuat para tengkulak. Untuk mempercepat produksi, para pengrajin ini biasanya membeli lidi dari masyarakat lain dengan harga yang lebih mahal dari harga tengkulak.

Tiur SiagianTempat tisu dari lidi karya Tiur Siagian. (Foto: dokumentasi Tiur)

"Kalau tengkulak beli Rp 1.500, kita beli Rp 2.500. Intinya Rp 1.000 lebih mahal dari harga tengkulak," begitu cara Tiur untuk meningkatkan perekonomian para pencari lidi di kampungnya.

Memang, dia belum mampu menampung semua lidi yang diambil masyarakat. Meski begitu, dia juga selalu menekankan agar para pengrajin lain membeli lidi dengan harga yang lebih tinggi dari harga pengepul.

"Kita (pengrajin) belum seberapa di sini, paling lima sampai 10 orang, itu pun beberapa masih anak-anak sekolah. Jadi kita belum sanggup menampung semua lidi di sini, tapi setidaknya sebatas kebutuhan kita ya kita beli," sebut perempuan yang pernah mengalami kecelakaan saat masih anak-anak ini.

"Dulu jatuh dari tangga waktu masih anak-anak. Sudah dibawa berobat ke mana-mana waktu itu, tapi ya tetap seperti ini. Makanya sekolahnya hanya sampai kelas 4," sebut Tiur menjelaskan kondisi cacat fisiknya yang bungkuk hingga tinggi badannya hanya sekira 100 sentimeter dengan senyum.

Saat ini, para pengrajin di kampung ini tak lagi hanya membuat piring. Berbagai kreasi sudah mulai bisa mereka buat. Sebut saja mangkuk, baki, keranjang buah, parcel buah hingga lampu hias sudah dapat mereka produksi.

Tiur SiagianLampu hias dari lidi karya Tiur Siagian. (Foto: dokumentasi Tiur)

Bermula saat pasar mereka yang kian sempit karena hanya memproduksi piring, Tiur dibantu adik laki-lakinya lalu mendatangkan pelatih dari Kabupaten Deliserdang pada Februari 2019 lalu.

Menggelar pelatihan sampai tiga hari, mereka belajar berbagai hal tentang lidi. Membuat topi, baki, mangkuk dan lain-lain. "Jadi sekarang produksi kita lebih bervariasi," sebutnya.

Meski mampu menghasilkan berbagai produk dari lidi, pasar para pengrajin di kampung ini tetap terbatas. Hal itu disebabkan jarak tempuh ke kampung ini cukup jauh dari kota.

Selain akses transportasi, akses internet juga masih terbatas sehingga para pengrajin kesulitan untuk mencari pasar yang bersedia menampung hasil karya mereka.

"Kalau ke Balige kita sudah sering kirim barang. Tapi di sana pemakainya juga masih terbatas, sementara kalau ke Siantar atau ke Medan kejauhan. Tapi masih terus kita upayakan gimana caranya, supaya produksi ini bisa terus berlanjut," sebutnya.

Karena pasar yang masih terbilang sulit, para pengrajin di desa ini biasanya hanya mengerjakan pesanan. Karena itu mereka jarang menumpuk barang. Menjadi pengrajin lidi memang bukan pekerjaan utama mereka. Biasanya, ini hanya dibuat saat waktu senggang, semisal waktu istirahat di malam hari sebelum tidur sembari menikmati acara-acara hiburan yang disuguhi stasiun televisi.

"Adik laki-laki saya selalu bilang supaya saya dan orang-orang di kampung ini harus jadi orang yang produktif. Jadi kalau malam kita buat ini sambil nonton sebelum tidur. Dapat empat atau lima kan sudah lumayan. Kecuali kalau ada pesanan yang lumayan besar, baru kita kerjakan rame-rame. Biasanya kita bagi-bagi sama pengrajin lain," katanya.

Banyak impian dan harapan besar yang ada di kepala seorang Tiur sehingga ia terus berupaya memperkenalkan produk mereka ke luar daerah, berharap menemukan pasar yang sifatnya berkelanjutan dan mereka bisa terus berpenghasilan.

Setiap kali ada pameran atau bazar yang digelar di Kabupaten Toba Samosir, dirinya selalu berusaha ikut meski kadang merugi. Semata-mata hanya untuk memperkenalkan produk mereka.

"Beberapa waktu lalu Menko Perekonomian dan Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan datang ke Tapanuli Utara, kebetulan saya diundang untuk ngisi stand di sana. Lumayan jugalah yang laku, tapi waktu itu Pak Menteri semangati saya," katanya dengan bangga sembari melempar senyumnya dengan semringah.

Desa ini memang penghasil kelapa sawit dalam jumlah besar, kelapa sawit selalu terlihat sejauh mata memandang. Menurut Tiur, hampir 85 persen penduduk desa ini adalah petani kelapa sawit.

Tiur SiagianKeranjang buah dari lidi karya Tiur Siagian. (Foto: dokumentasi Tiur)

Jumlah penduduk di desa ini terus bertambah dari tahun ke tahun, hal itu berbanding terbalik dengan luas lahan pertanian yang kian menyempit. Tiur yakin bahwa perkebunan kelapa sawit tidak akan mampu menyokong perekonomian masyarakat ke depan, ditambah lagi dengan harga kelapa sawit yang saat ini terus merosot.

Memanfaatkan lidi sawit yang terbuang dianggap sebagai solusi. Karena itu Tiur terus berkreasi dengan lidinya.

"Sampai sekarang masyarakat masih mempertahankan kelapa sawit. Menurut saya kejayaan kelapa sawit ini tidak akan mampu lagi menyokong ekonomi masyarakat di sini, karena lahan untuk ditanami sudah tidak ada sementara masyarakat terus bertumbuh. Mungkin ini salah satu solusinya," katanya sambil mengangkat piring yang baru selesai ia kerjakan dan menjadi akhir bicara kami.[]

Baca juga:

Berita terkait
0
Indika Foundation Penghargaan dari BMW Group dan PBB
Indika Foundation dari Indonesia berhasil meraih penghargaan BMW Group-UNAOC Intercultural Innovation Award.