UNTUK INDONESIA
Teten Masduki, Pegiat Antikorupsi yang Masuk Kabinet
Pegiat antikorupsi, Teten Masduki diminta Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koperasi dan UKM pada Kabinet Indonesia Maju
Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma\\'ruf Amin berfoto bersama jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju yang baru dilantik dengan didampingi istri dan suami mereka di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Jakarta -Salah satu nama yang diundang Presiden Joko Widodo untuk datang ke Istana adalah Teten Masduki. Pegiat antikorupsi itu akhirnya didapuk menjadi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) pada Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2014. Ia menggantikan AAGN Puspayoga.

Teten Masduki lahir di Garut, Jawa Barat, pada 6 Mei 1963. Ia berasal dari keluarga petani. Masa kecil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) periode 2017-2022 itu dihabiskan di Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat.

Setelah lulus dai SMAN 1 Garut, Teten kuliah di IKIP Bandung, mengambil jurusan kimia. Kesadaran terhadap masalah-masalah sosial sudah tumbuh sejak remaja. Saat kuliah ia sering ikut kelompok diskusi, mempelajari teori-teori dari yang kiri sampai kanan. Sekitar tahun 1985, Teten ikut aksi demontrasi membela petani di Garut, yang tanahnya dirampas.

Kepedulian sosial khususnya masalah korupsi semakin tumbuh. Hal itu diperlihatkan dengan ikut mendirikan badan pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW) pada tahun 1998. Teten bersama kawan-kawannya berhasil membesarkan ICW menjadi lembaga yang disegani pemerintah.

Nama Teten mencuat ketika ICW membongkar kasus suap yang melibatkan Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada masa pemerintahan B.J. Habibie. Inilah pertama kalinya dalam sejarah sebuah lembaga seperti ICW bisa memaksa seorang pejabat tinggi negara turun dari jabatannya. Berkat kegigihannya mengungkap kasus tersebut, Teten dianugerahi Suardi Tasrif Award 1999.

Setelah langkah awal itu, ICW makin berkibar. Sejumlah kasus berhasil dibongkar, berkat laporan masyarakat atau penelusuran ICW sendiri. Laju ICW ini, tentu, bukan tanpa halangan atau usaha-usaha untuk mengerem pergerakannya. Setelah suatu perkara dibeberkan, misalnya, tak jarang Teten dan aktivis ICW menerima teror. Lain waktu, mereka pun diiming-imingi harta oleh pejabat atau pengusaha yang tak mau boroknya dibuka.

Teten rupanya tak mau selamanya di ICW. Pada 2008, ia memilih hengkang dan mempercayakan organisasi di tangan anak-anak muda. Dia punya alasan khusus soal ini. Menurutnya, aktivis lembaga nonpemerintah kerap mengkritik oligarki, sedangkan mereka sendiri enggan lengser dari kursinya. Pendiri seolah-olah memiliki organisasi.

Teten MasdukiMantan Koordinator Staf Khusus Presiden, Teten Masduki tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Lepas dari ICW, Teten lalu bergabung dengan lembaga yang mendorong keterbukaan pemerintah, Transparency International Indonesia. Ia menjadi sekretaris jenderalnya. Di sini, ia tetap menggelorakan perjuangan melawan korupsi.

Kedekatan Teten dengan Istana bermula ketika ia menjadi tim sukses Jokowi - Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014. Dalam tim sukses itu, ia menempati posisi sebagai anggota Tim Relawan. Setelah itu ia menjadi anggota Tim Transisi. Setelah Jokowi terpilih, Teten kemudian masuk ke lingkaran Istana Kepresidenan dengan menjadi staf khusus kabinet.

Pada 2015, ia digeser menjadi Kepala Staf Kepresidenan menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan yang ketika itu diangkat menjadi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan. Selain Teten, Jokowi juga meminta Johan Budi SP yang pernah menjadi juru bicara dan pelaksana tugas pimpinan KPK untuk masuk Istana. Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi adalah jabatan yang diemban Johan Budi.

Duet Teten dan Johan Budi di lingkaran satu Presiden Jokowi memberikan harapan bahwa gerakan pemberantasan korupsi bisa bergerak lebih cepat terutama membersihkan Istana Presiden dari anasir-anasir jahat beraroma korupsi. Pada 2018, posisi Teten di Kepala Staf Kepresidenan digantikan oleh Moeldoko. Namun, Teten masih berada di lingkaran Istana dengan menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden.

Kini di Kabinet Indonesia Maju, Teten mengurusi masalah koperasi dan UKM yang merupakan bidang baru baginya. Namun ia tampak bersemangat untuk belajar bahkan melogikakan koperasi dan UKM sebagai sektor yang menjadi andalan bangsa untuk bisa keluar dari persoalan termasuk ketika kondisi perekonomian global sedang tidak menguntungkan.

Selama ini, Teten tak pernah sungkan untuk bergaul dengan siapapun termasuk dengan wartawan di lingkungan Istana Kepresidenan. Hal itu dianggap bisa menjadi modalnya untuk mengembangkan koperasi dan UKM dengan lebih baik.

Kedekatan dengan siapapun akan menjadikannya lebih mudah untuk melakukan sinergi karena koperasi dan UKM merupakan sektor yang digeluti oleh hampir sebagian besar masyarakat di Tanah Air. 

Berita terkait
Nama Menteri Kabinet Indonesia Maju 2019-2024
Daftar nama lengkap Kabinet Indonesia Maju 2019-2024, terdiri 4 menteri koordinator, 30 menteri bidang, dan 4 pejabat setingkat menteri.
Bantu Jokowi di Kabinet, Ini Jejak Tito di Banten
Tito Karnavian dulunya pernah memimpin Polres Serang, Banten. Dia menjabat selama tujuh bulan.
Agus Gumiwang Tuan Perfeksionis di Kabinet Jokowi
Agus Gumiwang Kartasasmita resmi menjadi Menteri Perindustrian setelah dilantik Jokowi di Istana Negara Jakarta.
0
Orang Batak Sudah Mulai Malu Berbahasa Batak
Trisna Pardede menggelar diskusi soal bahasa Batak bersama Saut Poltak Tambunan, penulis novel berbahasa Batak Si Tumoing Manapu Nipi.