UNTUK INDONESIA
Tertipu Lowongan Kerja Abal-abal di Semarang
Kisah nyata seorang pencari kerja asal Wonogiri yang kena tipu lowongan kerja perusahaan abal-abal di Semarang.
Ilustrasi rekrutmen tenaga kerja. Berhati-hatilah Anda saat menerima informasi lowongan pekerjaan. Sebab seorang pemuda asal Wonogiri nyaris kena tipu perusahaan abal-abal di Semarang, pertengahan Februari lalu. (Foto: Pixabay/Tumisu)

Semarang - Jauh-jauh datang dari Wonogiri, seorang pencari kerja nyaris kena tipu lowongan kerja di Kota Semarang. Waktu, energi dan ongkos perjalanan terbuang sia-sia. Beruntung ia tidak terjebak permintaan uang dari perusahaan abal-abal yang dilamarnya. 

Zakky, 20 tahun, sampai di depan deretan rumah toko (ruko) di kawasan Semarang Barat. Ruko-ruko itu sebagian besar kosong, hanya ruko di pojok yang cukup terang dengan empat motor terparkir di depannya. 

Setelah memeriksa alamat yang disimpan di telepon genggamnya, Zakky berjalan ke satu ruko di tengah deretan ruko itu. Pintunya hanya dibuka separo. Seorang pria berpakaian setelan safari yang sudah agak lusuh duduk di atas kursi di satu pintunya yang terbuka.

Saat itu pukul 08.30 WIB, Zakky mendapat undangan wawancara kerja pukul 09.00 WIB. Sang penjaga ruko, pria berusia sekitar akhir 40-an tahun memandang malas ke arah dirinya.  

“Saya sampai ke Semarang jam delapan malam, lalu menginap di rumah saudara. Paginya, setelah sarapan saya langsung ke kantor itu,” ujar Zakky kepada Tagar pada 15 Februari 2020.

Sebagai seorang dari Pracimantoro, Wonogiri sisi selatan, undangan wawancara kerja di Semarang membuat pemuda lulusan SMEA itu antusias. Dia membayangkan upah minimum kerja di Semarang yang terpaut sekitar Rp 1 juta dibandingkan di wilayahnya. Selain itu gemerlap kota besar Semarang, membuatnya penasaran.

“Di kampung sepi dan aktivitasnya monoton, cari rumput untuk makan ternak, kambing dan sapi, nongkrong sama teman, begitu terus,” ujar pemuda yang sudah menganggur dua tahun tersebut.

Setelah lulus SMEA, Zakky mengisi waktu dengan les bahasa Inggris dan hanya bertahan kurang dari setahun tanpa hasil. “Saya tahunya cuma oh yes oh no Mas,” katanya sembari terkekeh menirukan suara paten pada situs bokep.

Kembali ke proses lamaran kerja Zakky, setelah sampai di ruko yang setengah terbuka, dia disambut penjaga ruko berpakaian safari gelap yang sudah lusuh tadi. Penjaga itu mempersilahkannya duduk di deretan kursi kosong.

Di samping deretan kursi terdapat bilik yang dibatasi dengan triplek yang dicat tak rata. Bau cat murahan masih menyengat. Penjaga itu melanjutkan mengisap rokok kretek yang ditaruhnya saat Zakky datang.

Anda perlu ada usaha agar bisa meraih posisi itu, mengalahkan pesaing-pesaing Anda. 

Sepuluh menit kemudian tempat itu mulai ramai dengan pelamar kerja yang rata-rata berpenampilan seperti Zakky, berkemeja putih dengan bawahan hitam. Gerak-gerik mereka juga kikuk. Dua menit setelah semua duduk, Zakky mulai menyapa perempuan seusianya di sebelah, namanya Erni.

Gadis manis berambut hitam lebat itu berasal dari Kebumen. Dari penampilannya, Erni berasal dari keluarga dengan ekonomi lebih baik dari Zakky. Mungkin orang tuanya dari kalangan pegawai pemerintahan atau bisa juga karyawan perusahaan besar pelat merah. 

Zakky sempat mendengar percakapan peserta wawancara lain yang berlogat Semarang, Kudus, dan bahkan Jawa Timur. Rata-rata mereka tertarik melamar karena menurut situs lowongan kerja di internet calon tenaga kerja diiming-imingi gaji sekitar Rp 3-4 juta. Sebuah angka yang sangat lumayan, mengingat UMK Semarang saat ini Rp 2,7 juta.

Tepat pukul 09.30 WIB, seseorang wanita agak gemuk berumur 30-an awal keluar dari sebuah ruangan di tengah ruko. Tampaknya ia pegawai di kantor itu. Tanpa banyak kata wanita itu membagikan kertas untuk diisi oleh peserta wawancara.

“Harap kerjakan secepatnya ya, dan dibawa masuk saat wawancara,” katanya dengan nada memerintah.

Kertas itu berisi pertanyaan seputar biodata, sejarah pekerjaan, dan kenapa tertarik bekerja di tempat yang baru. Sejenak kemudian nada dering telepon genggam dari salah satu peserta berbunyi.

“Di sini telepon wajib di-silence ya!” ujar pegawai itu dengan nada lebih tinggi. Kali ini suaranya menunjukan kalau dia adalah tuan rumah di tempat itu.

Zakky, Erni, dan yang lainnya sigap meraih telepon mereka dan meng-klik tombol silence. Zakky sendiri memilih mematikannya karena tidak mau bermasalah lebih ribet lagi.

Pukul 10.47 WIB, seorang dari dalam bilik memanggil nama Zakky, karena dia datang pertama kali. Wawancara terlambat hampir dua jam dan peserta dilarang komplain karena mereka semua butuh kerja. Zakky menarik napas berusaha menghilangkan gugup.

Di dalam bilik terdapat tiga orang yang siap mewawancarai peserta. Masing-masing petugas dipisah dengan triplek yang membuat percakapan dari masing-masing bilik terdengar samar-samar. Saat Zakky duduk, dia mendengar nama Erni dipanggil untuk wawancara.

Seorang wanita yang mewawancarai Zakky berusia sekitar 35 tahun. Dia memakai setelan yang juga lusuh, seperti penjaga depan, dan tampak tidak mempersiapkan diri karena kurang rapi. Tangannya diulurkan untuk berjabatan tangan dengan senyum yang dipaksakan. 

Terlihat tidak acuh dan entah siapa namanya karena tidak memperkenalkan diri. Zakky berpikir, untuk kantor baru penampilan mereka tidak fresh. Keduanya lantas duduk dan dimulai lah obrolan sesi wawancara. 

Biaya Ini dan Itu

Penipuan Loker2Deretan ruko kosong di kawasan Semarang Barat. (Foto: Istimewa)

Selama tiga menit, wanita itu menerangkan perusahaannya sebagai perusahaan besar yang akan membutuhkan banyak sumber daya manusia. Zakky bersikap tenang dan berpikir, kenapa perusahaan besar ini tidak punya website dan alamat resmi. 

Setiap menyebut nama perusahaannya, tangan wanita itu menunjuk ke kop surat yang berisi data yang tidak bisa dibaca dari posisi duduk Zakky. Cara wanita itu menerangkan sangat runut seperti sudah dihafalkan selama lima tahun.

Zakky menebak-nebak logat wanita itu yang sangat asing baginya. Kadang-kadang berlogat Minang, kadang Batak, kadang-kadang Makkasar. Namun juga memakai akhiran to yang biasa diucapkan orang Papua. Yang pasti dia bukan dari daerah Jawa.

“Untuk posisi yang Anda lamar,” dia memeriksa kertas yang diisi oleh Zakky tadi. “Sebagai staf admin, adalah salah satu posisi bagus di perusahaan kami.” Zakky tersenyum dan mengangguk.

“Dan posisi bagus pasti diincar oleh banyak pencari kerja to? Jadi Anda perlu ada usaha agar bisa meraih posisi itu, mengalahkan pesaing-pesaing Anda,” ujarnya masih dengan kalimat yang runut layaknya telah berhadapan dengan ribuan peserta wawancara.

Untuk tes psikologi biayanya Rp 200 ribu, untuk tes administrasi Rp 250 ribu, sedangkan biaya tes kemampuan adalah Rp 300 ribu.

Zakky menunggu. “Tahapan yang harus dilalui untuk mendapat posisi itu adalah tes psikologi, tes, administrasi, dan tes kemampuan,” katanya melanjutkan.

Pemuda kampung itu tergagap membayangkan banyaknya proses yang harus dilalui. Wanita itu masih nyerocos dan membuka lembaran kertas di depannya. Dia tidak tertarik melihat tampang pemuda dihadapannya, mirip anak kuliah yang tidak hafal Pancasila

“Untuk tes psikologi biayanya Rp 200 ribu, untuk tes administrasi Rp 250 ribu, sedangkan biaya tes kemampuan adalah Rp 300 ribu.”

Zakky merosot lima senti dari tempat duduknya demi mendengar penjelasan tersebut. Wanita itu meliriknya. “Sa...saya tidak bawa uang, Bu,” ujar Zakky pelan antara malu dan bersalah.

Wanita itu menarik napas dan mulai menceritakan beberapa pekerjaan lain yang membutuhkan biaya ratusan juta dalam proses perekrutannya. Nada bicaranya mulai tidak ramah, seakan-akan menyuruh Zakky cepat-cepat angkat kaki.

Zakky keluar dari ruko itu dengan perasaan antara lega dan bingung. Di zaman serba modern ini, masih ada yang mencari uang dengan cara menipu seperti itu, pikirnya. 

Dia tahu perusahaan pencari kerja itu cuma ingin menipu. Temannya pernah bercerita tentang perusahaan yang bermodus membuka lowongan pekerjaan dan ujung-ujungnya menarik biaya untuk ragam tes. Setelah diterima, hanya menjadi salah satu dari perekrut di perusahaan itu.

Zakky jijik membayangkan dirinya berbicara seperti wanita yang mewawancarainya tadi. Dia memang butuh kerja, tapi dia tidak ingin kelak menjadi penipu.

Penjaga di pintu ruko tadi melirik dengan cuek dan menyalakan rokok kreteknya lagi. “Tapi ada bagusnya saya ikut wawancara itu,” kata Zakky pada Tagar lagi. “Saya bisa kenalan dengan Erni, sampai sekarang masih kontak lewat Whatsapp.”

Waktu Erni keluar dengan tergesa-gesa, dia melanjutkan, katanya mau ke ATM untuk ambil uang agar bisa ikut tes-tes jebakan itu. Zakky mencegah dan menerangkan kalau proses perekrutan itu cuma abal-abal saja. Mereka hanya segerombolan tukang tipu. Tidak mungkin perusahaan menarik uang dalam tiap tahapan tes.

“Erni percaya,dan kami sama-sama ke terminal bus untuk langsung pulang ke kampung. Tentu saja sebelumnya saya menanyakan nomer telepon dia,” ujar Zakky sambil tersenyum.

Zakky berasumsi kalau perusahaan itu hanya semacam kolektor data sembari menjebak pencari kerja yang bodoh agar bisa mengikuti tes ini dan itu.

Saat mencari ruko tempat Zakky melaksanakan tes wawancara itu, Tagar hanya mendapati deretan ruko kosong atau lebih tepatnya tidak laku setelah dua tahun berdiri. Mereka ternyata sudah pindah ke daerah lain. Dan siap menipu lagi calon tenaga kerja. []

Baca cerita lainnya: 

Berita terkait
Penipuan CPNS di Jawa Tengah, Rela Setor Miliaran
Rekrutmen CPNS 2019 menjadi ajang pelaku penipuan mengeruk keuntungan. Di Jawa Tengah 21 tersangka berhasil mendapat Rp 3,7 miliar dari 17 korban.
Tipu Pencari Kerja, Pegawai BNN Labura Ditangkap Polisi
ASN itu diduga menipu seorang pencari kerja warga Kabupaten Labuhanbatu Utara.
12 Pencari Kerja Ditipu Pegawai Pertamina Gadungan
12 orang warga Kabupaten Majalengka, Jawa Barat menjadi korban penipuan seorang pegawai pertamina gadungan.
0
Pengakuan Menantu Bunuh Sadis Mertua‎ di Pemalang
Pembunuhan menantu terhadap mertua di Pemalang terungkap jelas. Sang menantu akhirnya membeber penyebab ia menggorok leher mertuanya.