UNTUK INDONESIA
Teror Pembakaran Ranmor, Warga Jateng: Kami Tidak Takut!
Teror pembakar kendaraan menyasar korban kelas menengah ke bawah.
Ilustrasi kendaraan terbakar. (Foto: Pixabay)

Semarang, (Tagar 15/2/2019) - Teror pembakaran kendaraan bermotor (ranmor) di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, ternyata menyatukan rasa masyarakat. Mereka kompak menyatakan tidak takut dan sepakat membantu tugas Polri dengan meningkatkan kewaspadaan lingkungan.

"Teror tersebut membuat warga malah makin tergugah untuk bareng-bareng melaksanakan ronda malam. Tidak ada rasa takut sedikitpun dari warga, malah penasaran ingin bantu tangkap, agar tahu siapa pelaku dan tujuannya," ungkap komandan keamanan swakarsa RW 07 Kelurahan Bulu Lor, Kecamatan Semarang Utara, Joko Budiono kepada Tagar News, Jumat (15/2).

Kata Joko, sistem keamanan lingkungan (siskamling) di wilayah RW 07 Bulu Lor selama ini telah berjalan dengan baik. Tiap malam ada sekitar 15 warga yang giliran ronda, keliling memantau keamanan lingkungan.

Pengaturan akses keluar masuk di pemukiman mulai tengah malam juga diatur, menerapkan one gate system. Artinya akses keluar kampung hanya satu pintu untuk memudahkan pantauan orang tak dikenal.

Baca juga: Teror Pembakaran Motor dan Mobil Bergentayangan di Semarang

Pernyataan senada disampaikan warga Gisikdrono, Semarang Barat. "Kami tidak takut (teror)! Di wilayah kami, siskamling sudah ada dan berjalan sejak lama, 1992," kata Ketua RW 12, Yamin.

Di RW 12 juga menerapkan one gate system dengan sejumlah warga dan petugas hansip berjaga di pintu masuk/keluar pemukiman. Di titik tersebut juga ada portal untuk kontrol warga luar yang hendak masuk maupun keluar kampung.

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono menyatakan teror pembakaran mobil dan motor bertujuan untuk membuat resah. Polisi tidak menemukan indikasi teror itu dilatarbelakangi faktor ekonomi maupun dendam pribadi pelaku dengan korban.

"Bertujuan membuat resah masyarakat Kota Semarang. Tidak ada materi yang diambil oleh pelaku. Tidak ada latar belakang dendam pribadi, korbannya mengaku tidak ada yang punya musuh," beber dia.

Condro menambahkan, pelaku teror pembakar kendaraan selama ini menyasar korban kelas menengah ke bawah. Beraksi di lingkungan dengan tingkat pengamanan rendah dan tanpa dilengkapi kamera CCTV.

Karenanya, Condro meminta masyarakat untuk mangaktifkan kembali siskamling, memasang portal dengan menerapkan sistem satu pintu keluar dan masuk saat malam. Termasuk memasang kamera CCTV.

"CCTV itu manfaatnya banyak, setiap RT bisa pasang satu kamera," katanya.

Kapolda JatengKapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mengecek kesiapsiagaan warga Semarang saat malam hari, belum lama ini. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Baja juga: Operasi Terlatih Pembakaran Mobil Semarang 

Sejak akhir Desember 2018 hingga saat ini, kejadian pembakaran kendaran oleh pelaku misterius telah terjadi sedikitnya 17 kasus di Kota Semarang. Di Kendal ada 7 kasus dan 1 kasus di Kabupaten Semarang. Belum lama ini, pelaku teror juga menyasar mobil angkot di Kabupaten Grobogan.

Condro mengaku pihaknya tidak tinggal diam. Ribuan personel Polri dikerahkan tiap malam untuk razia dan patroli hingga subuh. Sebanyak 450 polisi dari Polda Jateng, termasuk dari Brimob juga telah diterjunkan untuk membantu mengantisipasi aksi pembakaran ranmor.

"Kami bentuk satuan tugas (satgas) untuk memberantas aksi teror ini. Satgas di bawah pimpinan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng," imbuh Condro.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memperkirakan aksi teror pembakaran kendaraan tidak hanya untuk menciptakan ketakutan. Namun juga untuk mendiskreditkan aparat penegak hukum dan pemerintah di mata masyarakat.

Ia menduga, ada pihak-pihak tertentu yang ingin menjelekkan atau melemahkan wibawa pemerintahan.

"Saya menduga ada aktor profesional di balik aksi teror yang marak terjadi akhir-akhir ini. Tidak hanya memberi rasa takut di tengah masyarakat namun juga memberikan image bahwa pemerintah tidak bisa menangani," kata Ganjar.

Analisanya, aksi pelaku mayoritas menyasar masyarakat kalangan menengah ke bawah. Dimana kalangan itu dianggap mudah untuk dipengaruhi.

Baja juga: Sebulan Berlalu, Teror Pembakaran Motor dan Mobil di Jateng Masih Misteri

"Lihat saja, selama ini yang dibakar kebanyakan kendaraan milik masyarakat menengah ke bawah, di daerah pinggiran dan juga bukan kendaraan mewah. Mereka ingin menciptakan rasa takut kepada masyarakat kecil yang dianggap akan langsung menyalahkan pemerintah," terangnya.

Meski begitu, tujuan dari para pelaku tersebut diyakini tidak berhasil. Sampai saat ini, masyarakat Jateng masih adem-adem saja dan tidak takut dengan aksi teror itu.

"Saya lihat masyarakat tidak takut, ekonomi masih berjalan seperti biasa, aktivitas juga masih normal," tandas Ganjar.

Berita terkait
0
Revisi UU KPK, Jokowi Minta Masyarakat Bersuara ke DPR
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan tanggapannya terkait keputusan Revisi Undang-Undang KPK. Ia mengaku, ide awal revisi tersebut dibawa oleh DPR.