UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Televisi Merusak Literasi Masyarakat
Kehadiran stasiun-stasiun televisi (TV) mempengaruhi tingkat literasi masyarakat karena mengurangi minat membaca dan memilih menonton acara TV
Anak-anak menonton TV tanpa panduan orang tua (Fot: unicef.org)

Oleh: Syaiful W. Harahap

Alih-alih diharapkan jadi pemicu tingkat literasi masyarakat, ternyata stasiun televisi (TV) justru merusak tingkat literasi (kemampuan menulis dan membaca) masyarakat. Banyak orang yang tidak lagi menjadikan buku sebagai teman di kamar tidur karena sekarang TV sudah masuk ke kamar tidur. 

Bahkan, stasiun televisi CNN, sudah menghadirkan peperangan dan pertumpahan darah sampai ke tempat tidur sejak stasiun televisi AS yang bermarkas di Atlanta, Georgia, AS, itu menayangkan Perang Teluk (1990) secara langsung (live) dari medan pertempuran.

TV juga mulai mengambil peran orang tua, seperti bercerita atau mendongeng (story teller) untuk menidurkan anak, sekarang diganti dengan siaran TV. Kini lebih maju lagi anak-anak menggenggam telepon pintar. Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian TV dan ponsel disebut sebagai electronic baby sitter.

Bahkan, emak-emak di dapur pun sambil masak mereka tidak mau ketinggalan menonton infotaintment, seperti musik dan gosip artis. Gosip disiarkan TV sepanjang hari selama 24 jam dengan berbagai kemasan. Padahal, dulu NU pernah mengajak masyarakat untuk tidak menonton gosip karena siaran itu gibah [membicarakan keburukan (keaiban) orang lain; bergunjing] yang diharamkan di agama Islam.

Kehadiran siaran TV, terutama film dan opera sabun (sinetron) yang didubing (penyulihsuaraan), mempengaruhi media habit masyarakat dengan indikator minat baca yang turun. Hal ini terjadi karena media habit masyarakat di saat televisi menerjang kamar tidur belum sampai ke tahap reading society (masyarakat pembaca). Akibatnya, media habit pun langsung melompat ke filming society (masyarakat penonton) yang seharusnya tercapai setelah melewati tahap reading society.

opini 2 6 des 19Remaja menonton TV tanpa panduan orang tua (Fot: unicef.org)

Banyak faktor yang mendorong masyarakat beralih ke arah kondisi filming society. Misalnya, menonton televisi tidak memerlukan konsentrasi yang tinggi, tidak mengeluarkan biaya (apalagi dibandingkan dengan harga buku di Indonesia yang tergolong mahal jika dibandingkan dengan negara lain), dan lain-lain. Jadi, tidaklah mengherankan kalau orang tetap menonton siaran televisi walaupun acara tersebut merupakan materi (film) yang sudah berulang-ulang disiarkan.

Kondisi filming society ini pun, pada gilirannya, akan mempengaruhi minat belajar. Pada tahap yang ekstrim hal ini akan meningkatkan angka buta huruf, terutama sejak stasiun-stasiun televisi nasional menyiarkan acara-acara yang didubing (dialog) dengan bahasa Indonesia.

Dubing ini pun, sebenarnya, bisa mempengaruhi persepsi sebagian masyarakat tentang berbagai hal, terutama kebudayaan dan pola hidup, yang digambarkan dalam acara-acara (film) yang didubing tersebut. Yang pasti dengan dubing pakai bahasa Indonesia seolah-olah tidak ada lagi jarak (budaya) dengan situasi film tersebut sehingga sebagian penonton melihatnya sebagai kondisi di Indonesia. Dalam keadaan yang ekstrim terjadi di Jepang ketika anak-anak melompat dari gedung pencakar langit dengan memakai kostum Batman. Di benak mereka tentulah orang akan bisa terbang seperti Batman karena film itu didubing dengan bahasa Jepang.

Jadi, tidaklah mengherankan kalau kemudian kehadiran televisi menimbulkan perdebatan yang panjang tentang dampak (negatif) siaran televisi terhadap perilaku (behaviour) terutama pada anak-anak.Tapi, satu hal yang perlu diingat adalah, sebenarnya, tidak ada korelasi langsung antara tingkah laku dengan acara televisi.

Soalnya, kalau memang ada korelasi langsung antara siaran televisi dengan perilaku tentulah semua orang yang menonton satu acara akan berperilaku yang sama. Misalnya, siaran TV didominasi dengan materi agama, apakah masyarakat akan jadi warga yang religius?

Jelas, hal itu tidak terjadi. Lagi pula, jauh sebelum kehadiran televisi kejahatan sudah merupakan salah satu karakter negatif dari perilaku manusia. Artinya, pengaruh televisi terhadap tingakah laku yang agresif sangat dipengaruhi oleh kepribadian seseorang. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, efek dari suatu kondisi tidak akan langsung mempengaruhi semua orang.

Hal tersebut tentu saja berdampak negatif terhadap kehidupan karena merupakan pembenaran dari sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma (sosial). Kalau memang demikian halnya semua dokter, perawat, dan karyawan baru semestinya saling jatuh cinta. Tapi, faktanya tidak demikian sehingga hal itu sangat tergantung kepada kepribadian seseorang.

Yang jelas materi-materi acara tersebut akan masuk ke alam pikiran penontonnya, tapi tidak langsung mempengaruhinya karena hal tersebut terlebih dahulu mengendap di bawah alam sadarnya. Langkah selanjutnya akan terjadi proses dalam diri seseorang tentang materi yang mengendap tadi. Eksesnya sangat tergantung pada kepribadian seseorang. Dalam konteks inilah, agaknya, pertahanan diri perlu dikembangkan, misalnya dalam sektor pendidikan baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi dampak negatif tayangan film dan televisi adalah menjelaskan bahwa acara tersebut bukan gambaran yang sesungguhnya, tapi merupakan adegan yang dirancang melalui skenario. Begitu pula dengan adegan seks dan kekerasan merupakan adegan yang dibuat untuk hiburan belaka (entertaintment). []

Berita terkait
Menkominfo Bilang Beli TV Digital Siaran Analog
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate berkeinginan siaran televisi di Indonesia beralih dari analog ke siaran TV digital.
Helmi Yahya, dari Raja Kuis sampai Dirut TVRI
Dewan Pengawas LPP TVRI menonaktifkan Dirut TVRI Helmy Yahya sejak 5 Desember 2019, raja kuis itu menegatakan penonaktifannya cacat hukum
Ahok Punya Program Acara TV, Ini Jadwal Tayangnya
Ahok bakal mempunyai program acara sendiri 'Panggil BTV' di salah satu stasiun televisi swasta. Intip jadwal tayangnya.
0
Fahmi Idris Bantah Khianati DPR Soal Kenaikan BPJS
Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris membantah bersikeras tetap menaikkan iuran BPJS Kesehatan kelas III usai berunding dengan DPR.