Yogyakarta, (Tagar 23/3/2019) - Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kematian bagi warga Indonesia. Jumlah penderita TBC di Indonesia tergolong besar ketiga setelah China dan India.

Data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, pada 2015 tercatat 330.729 kasus TBC di Indonesia. Lalu pada 2016 meningkat menjadi 351.893 kasus. Tren angka kasus TBC selalu bertambah setiap tahunnya.

Berdasarkan sebaran kasus tiap provinsi, Jawa Barat merupakan yang tertinggi di Indonesia. Pada 2016 jumlahnya mencapai 52.328 kasus. Kemudian berturut-turut disusul Jawa Timur 45.239 kasus, Jawa Tengah (28.842 kasus), DKI Jakarta (24.775 kasus) dan Sumatera Utara (17.789 kasus).

Meski Provinsi DIY kasus TBC tidak sebanyak lima provinsi di atas, namun tidak menganggapnya remeh. Pemkot Yogyakarta proaktif mendeteksi penderita TBC dengan screening pintu ke rumah-rumah warga.

Kepala Dinas Kesehatan Kota YogyakartaKepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Fita Yulia Kisworini saat workshop dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis se-Dunia yang jatuh pada 24 Maret. (Foto: Dok Humas Pemkot Yogyakarta)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Fita Yulia Kisworini mengatakan, deteksi dini dilakukan melalui ketuk pintu 381 kepala keluarga dengan screening 1.071 orang. "Dari deteksi dini itu, ditemukan 81 orang gejala TB, sebanyak 71 orang dirujuk ke Puskesmas," katanya saat workshop di Yogyakarta, Jumat (22/3).

Workshop digelar dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis se-Dunia yang jatuh pada 24 Maret. Sedangkan kegiatan screening ketuk pintu atau deteksi dini TBC dilakukan selama 11 hari, 4-15 Maret lalu.

Menurut Fita, selain ketuk pintu warga, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga menyasar warga binaan di Lapas Wirogunan Yogyakarta. Dari hasil screening di Lapas tersebut, ditemukan 66 warga binaan yang terdeteksi gejala TB. "Ditemukan 15 orang. Setelah diperiksa lab dengan tes cepat molekuler semuanya sehat," imbuhnya.

Ketua Perkumpulan Tuberkulosis Indoensia (PPTI) Wilayah DIY Andajani Woerjandari mengatakan, TBC bukan penyakit keturunan atau kutukan. "TBC bisa disembuhkan, sehingga penderita TBC jangan dikucilkan," katanya.

Di bagian lain, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, arus informasi yang saat ini berkembang pesat serta kecanggihan teknologi dan pengobatan kedokteran diharap dapat mengurangi jumlah penderita TBC. "Namun peran serta masyarakat sebagai kekuatan sosial sangat penting dalam antisipasi penyebaran penyakit TBC," katanya.

Wali Kota mengajak masyarakat melakukan gerakan sosial membebaskan Yogyakarta dari TBC. "Kerja sama lintas sektor sangat penting, jangkauan deteksi dini TBC perlu diperluas," tegasnya.

Baca juga: Cegah Kelebihan Berat Badan dengan Diet Ikan Tongkol