Indonesia
Tata Cara, Niat dan Hikmah Puasa Ayyamul Bidh
Puasa sunah ayyamul bidh atau puasa putih merupakan kebiasaan Rasulullah SAW yang pahalanya sama seperti puasa setahun penuh.
Seorang muslim sedang membuka kitab suci Al Quran (Sumber: Pixabay)

Jakata - Bermacam-macam puasa anjuran Rasulullah Muhammad SAW. Selain puasa Ramadan yang hukumnya wajib, ada puasa-puasa sunah yang bisa dilaksanakan oleh umat Islam, contohnya seperti puasa Syawal, Senin-Kamis, Arafah, Tarwiyah, hingga puasa Ayyamul Bidh yang pelaksanannya setiap tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan dalam kalender Hijriah karena pada tanggal tersebut bulan terlihat berwarna putih terang.

Ayyaamul Bidh adalah bentuk jamak dari kata al yauma yang artinya hari, sedangkan bidh artinya putih. Jadi puasa ini sering disebut dengan puasa putih. Puasa putih ini berbeda dengan puasa putih yang umum dilakukan orang Jawa yang hanya memakan nasi dan air putih. Puasa ini sama dengan puasa-puasa lain.

Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda, artinya:

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR. Tirmidzi no. 761 dan An Nasai no. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadisnya hasan).

Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh

1. Niat

Niat puasa putih bisa bisa diucapkan dalam hati maupun dengan lisan.

Nawaitu Sauma Ayyami Bidh Sunnatan Lillahi Ta'ala.

"Saya niat puasa pada hari-hari putih, sunah karena Allah ta’ala.”

Puasa putih boleh dilaksanakan setelah terbit fajar asalkan belum makan, minum dan melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini berbeda dengan niat puasa wajib yang harus dilakukan sebelum terbit fajar.

2. Seorang istri hendaknya tidak berpuasa sunah ketika bersama suaminya, terkecuali telah mendapat izin dari suami.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

"Janganlah seorang wanita berpuasa sunnah ketika ada sang suami, kecuali dengan seizinnya."

3. Dianjurkan dilakukan saat tidak sedang bepergian

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian dan tidak sedang bersafar.” (HR. An Nasai no. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

4. Tidak dilaksanakan di tanggal 13 Dzulhijah.

Puasa ini tidak dilaksanakan di bulan Dzulhijjah atau setelah Idul Adha meskipun pada  tangga 13. Sebab tanggal 13 Dzulhijah merupakan bagian dari hari tasyriq, dimana aktivitas menyembelih qurban masih bisa dilakukan.

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

1. Menenteramkan hati dan membantu menundukkan hawa nafsu

Dapat menenteramkan hati dan dapat  membantu menundukkan hawa nafsu manusia saat terjadi fenomena alam yang membuat kondisi membuat kondisi psikologi menjadi sensitif, oleh karena itu Rasulullah menganjurkan puasa ini untuk meredakan emosi yang kita rasakan sehingga dapat terkontrol dengan baik.

2. Melakukan puasa Ayyamul Bidh seperti puasa setahun

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah menganjurkan kepada umatnya untuk puasa Ayyamul Bidh dengan melakukan puasa tiga hari berturut-turut maka pahalanya seperti melakukan ibadah puasa selama satu tahun.

3. Merupakan teladan Nabi Muhammad SAW

Beliau tidak pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh hingga beliau wafat. Puasa sunnah ini merupakan salah satu tauladan yang baik untuk diikuti dan dilaksanakan sesuai yang di lakukan oleh baginda Rasulullah SAW.

Demikian penjelasan mengenai pengertian, tata cara, dan hikmah puasa Ayyamul Bidh. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah pengetahuan atau wawasan bagi kita semua mengenai puasa Ayyamul Bidh ini. Dan semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah keimanan kita kepada Allah SWT. Aamiin.

Baca juga:

Berita terkait
0
Polres Jakbar Ungkap Obat Sesak Napas Jadi Sabu
Polres Metro Jakarta Barat berhasil mengungkap pabrik narkoba rumahan yang meracik obat sesak napas menjadi bahan pembuat sabu.