UNTUK INDONESIA
Untuk Indonesia
Tak Bermoral Kalau Hanya Menyoal Keperawanan Atlet
Tak bermoral dan diskriminatif ketika seorang atlet senam dibatalkan sebagai peserta SEA Games Filipina hanya karena tidak perawan
Ilustrasi (Foto: cnnphilippines.com)

Oleh: Syaiful W. Harahap

Respon Keluarga Atlet Dicoret Karena Tak Perawan. Ini judul berita di Tagar (29 November 2019). Dikabarkan atlet cabang olahraga (Cabor) senam SEA Games 2019 Filipina asal Kediri, Jatim, Shalfa Avrila Siani, dicoret karena tidak perawan. Ini merupakan perbuatan yang tak bermoral dan diskriminatif.

Pencoretan dengan alasan tidak perawan merupakan perbuatan diskriminatif yang melawan hukum dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia (HAM).

Pertama, apakah semua atlet senam putri menjalani tes keperawanan? Kalau tidak, maka ini bukti terjadi perbuatan melawan hukum yang diskriminatif.

Kedua, apa bukti hukum yang dipegang pengurus cabor senam yang memvonis Shalfa tidak perawan?

Ketiga, kalau ada tes keperawanan untuk atlet senam ke SEA Games Filipina, mengapa hanya dilakukan terhadap Shalfa Avrila Siani?

Keempat, apakah pesenam laki-laki juga menjalani tes keperjakaan? Jika tidak ada tes keperjakaan itu sama saja dengan menempatkan atlet senam laki-laki sebagai makhluk yang suci, dalam hal ini tidak pernah berzina.

Yang jelas tidak ada laki-laki yang perjaka karena: (a) ketika memasuki masa remaja semua anak laki-laki mengalami mimpi basah yaitu ejakulasi yang mengeluarkan semen dan air mani, dan (b) apakah bisa dijamin semua atlet senam laki-laki tidak pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah?

Menyoal keperawanan merupakan kebiasaan buruk di Indonesia. Pembeberan status keperawanan merupakan bentuk stigmatisasi (pemberian cap buruk) dan diskriminasi (pembedaan perlakuan) terhadap perempuan karena kita tidak pernah mempersoalkan keperjakaan pada laki-laki.

Di Indonesia yang selalu dapat sorotan dengan pijakan moral hanyalah soal keperawanan. Ini mengesankan perempuanlah yang diwajibkan menjaga moralitas bangsa. Sebaliknya, laki-laki luput dari tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan dirinya dan kesucian pernikahan.

Maka, tidaklah mengherankan kalau kemudian pelacuran merajalela, belakangan ini dikenal sebagai prostitusi online karena lokalisasi pelacuran ditutup. Ini terjadi karena laki-laki tidak perlu menjaga moral sehingga mereka bebas berbuat perilaku yang amoral.

Seperti disebutkan di atas laki-laki tidak ada yang perjaka karena sudah pernah ejakulasi. Bahkan, bisa jadi ada laki-laki yang belum menikah melakukan hubungan seksual penetrasi dengan perempuan. Bahkan, setelah menikah pun tidak sedikit suami yang melakukan zina melalui perselingkuhan dan pelacuran.

Laki-laki yang sudah mimpi basah, onani dan hubungan seksual dengan perempuan di luar nikah lolos dari stigamatisasi dan diskriminasi karena laki-laki tidak dikaitkan dengan kesucian dan kehormatan serta sakralisasi pernikahan.

Celakanya, yang jadi patokan tidak perjaka lagi bagi laki-laki adalah setelah seorang laki-laki berumahtangga dengan pernikahan. Sedangkan mimpi basah, onani dan zina serta melacur tidak jadi menghilangkan status perjaka selama seorang laki-laki belum berumah tangga.

Jika benar pengurus Cabor Senam memulangkan Shalfa hanya karena alasan tidak perawan itu sama saja dengan menegakkan moral dengan cara-cara yang justru tidak bermoral. []

Berita terkait
Respons Keluarga Atlet Dicoret Karena Tak Perawan
Ibu Shalfa, Ayu Kurniawati mengaku tidak terima jika alasan pencoretan anaknya sebagai atlet senam di SEA Games dikarenakan tidak perawan.
Menpora Respons Atlet Dicoret Karena Tak Perawan
Menpora Zainudin Amali merespons tuduhan atlet senam lantai putri dalam SEA Games 2019 dicoret karena tidak perawan.
0
Pocong Perempuan di Rumah Tua Kotagede Yogyakarta
Ada ratusan hantu di rumah tua itu. Ada yang jahat dan baik. Satu yang sering iseng adalah hantu pocong bernama Sumi.