Tak Ada Liga, Pemain Asing PSS Sleman Malah Main Tarkam

Pemain asing PSS Sleman belum pulang ke negaranya. Bahkan Guilherme Felipe Batata dan Yevhen Bokhashvili ikut tarkam di Karanganyar.
Pemain asing PSS Sleman, Yevhen Bokhashvili (kanan) dan Guilherme Batata (ke-2 dari kiri) ikut tampil di laga amal di lapangan Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jumat, 13 November 2020. (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Karanganyar - Liga 1 setop. Pemain asing yang belum bisa pulang ke negaranya pun putar otak untuk menjaga kondisi. Selain latihan mandiri, mereka tak segan mengikuti tarikan kampung (tarkam) seperti yang dilakukan duo PSS Sleman, Guilherme Felipe Batata dan Yevhen Bokhashvili.

Tarkam yang juga sering diistilahkan pertandingan antarkampung menjadi sasaran para pemain untuk mendulang rupiah. Terutama setelah Liga 1 dan Liga 2 batal digelar. Kompetisi itu sendiri baru dilaksanakan pada Februari 2021.

Para pemain pun akhirnya menerima tawaran mencari penghasilan tambahan dengan mengikuti tarkam. Tidak hanya pemain lokal, pertandingan di kampung-kampung pun diminati pemain asing.

Dari awal saat mengundang Yevhen dan Batata, kami mengatakan ini bukan laga tarkam

Kawasan Solo Raya menjadi salah satu daerah yang rajin menggelar dan mengundang pemain untuk laga tarkam. Sistem pembayaran yang COD alias cash on delivery membuat pemain menerima tawaran tersebut. Bagaimana tidak, pemain langsung mendapatkan bayaran setelah selesai menjalani pertandingan.

Laga tarkam ramai digelar saat kompetisi sepak bola profesional di Indonesia tidak bergulir seperti saat ini. Atau saat kompetisi berakhir dan memasuki liburan. Di kalangan pemain, laga tarkam juga sering disebut 'liga cash' karena sifatnya langsung dibayar usai pertandingan.

Bermain di tarkam ternyata menarik minat pemain asing PSS. Mereka sejatinya hendak pulang ke negara masing-masing. Hanya saat masih menunggu waktu meninggalkan Indonesia, 2 pemain asing, Batata dan Bokhashvili malah ikut tarkam di lapangan Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Tampil di Kampung Tetapi Laga Amal

Laga yang dijalani Batata dan Bokhashvili sesungguhnya tidak dimaksudkan tarkam. Keduanya hadir di kampung yang terletak di lereng Gunung Lawu itu untuk sebuah laga amal. Mereka tampil dalam pertandingan yang berdurasi sekitar 2x40 menit.

Dari informasi yang dihimpun, para pemain lokal yang tampil di laga tarkam di kawasan Solo Raya seperti Karanganyar, Sukoharjo, Sragen ataupun Wonogiri, mendapatkan bayaran sebesar Rp 300 ribu per pertandingan yang dijalani. 

Pemain PSSPemain asing PSS Sleman, Yevhen Bokhashvili dan Guilherme Batata (tengah belakang) mengunjungi warga yang dibantu lewat laga amal karena kecelakaan sehingga diamputasi ke-2 tangannya di lapangan Desa Plumbon, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jumat, 13 November 2020. (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Kategori ini biasanya berlaku untuk pemain dari Liga 2. Untuk pemain Liga 1 bertarif sedikit lebih tinggi. Apalagi pemain Liga 1 yang berstatus pemain timnas yang diganjar honor sekitar Rp 1,5 juta per laga.

Di kawasan Solo Raya, nama beken macam Bayu Pradana, Septian David Maulana hingga Fachrudin Aryanto terbilang cukup sering tampil di berbagai lapangan di kampung-kampung. Kehadiran mereka menjadi magnet bagi penonton.

Lalu berapa honor pemain asing PSS Sleman Yevhen dan Batata? Dari sumber yang tak mau disebutkan namanya, pemain asal Ukraina dan Brasil ini dibayar Rp 5 juta untuk satu laga. Ini berarti per pemain mendapatkan Rp 2,5 juta.

Kedua pemain ini mendapat servis antar-jemput dengan mobil untuk perjalanan Sleman-Tawangmangu. Mereka juga mendapat fasilitas hotel untuk istirahat di Karanganyar sebelum meluncur ke Tawangmangu yang berjarak sekitar 30 menit.

Bayaran sebesar Rp 2,5 juta per laga ini terbilang cukup besar. Namun sebenarnya masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan tarif seorang Cristian Gonzales saat menjalani laga tarkam.

Pada tahun 2015 silam, saat masih bermain untuk Arema Cronus, Gonzales sempat menjalani tarkam di Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Dari penyelenggara kala itu, disebutkan biaya mendatangkan El Loco sekitar Rp 20 juta untuk sekali tampil.

"Dari awal saat mengundang Yevhen dan Batata, kami mengatakan ini bukan laga tarkam. Ini tak ubahnya charity game atau laga amal," kata inisiator laga amal, Tony Hatmoko.

"Hasilnya untuk warga yang mengalami kecelakaan kerja. Ke-2 tangan dia harus diamputasi. Ini yang membuat mereka bersedia hadir dan bertanding di Tawangmangu," ujar dia.

Menurut Tony keduanya antusias mengikuti pertandingan tersebut. Ini menjadi pengalaman baru saat bermain di Indonesia. 

"Mereka mengaku senang ikut tampil di charity game. Apalagi ini menjadi pengalaman baru mereka. Kebetulan lagi keduanya rindu dengan atmosfer pertandingan," tutur Tony lagi. 

 Baca juga: 

Tak Ada Liga 1 Tahun Ini, PSS Sleman Gelar Turnamen eSport

Gratis, Pemain PSS Sleman dan PSIM Ikut Kursus Pelatih

Usai laga, Yevhen dan Batata berkesempatan mengunjungi warga yang mendapatkan donasi dari laga amal ini. Kedua pemain ini juga berfoto bersama dengan pria yang bernama Umar yang kedua tangannya diamputasi tersebut.

Hanya usai laga, Yevhen dan Batata menolak diwawancara media. Mereka menunjukkan WhatsApp dari manajemen agar tidak memberikan komentar kepada wartawan. []

Berita terkait
Laga Amal, 2 Pemain Asing PSS Sleman Bikin Heboh Tawangmangu
Yevhen dan Batata, dua pemain asing PSS Sleman bikin heboh fans-nya saat ikut laga amal di Tawangmangu, Karanganyar.
Liga 1 Setop, Pemain Asing PSS Sleman Tak Pulang Kampung
Pilar asing PSS Sleman, Yehven Bokhashvili dan Zah Rahan Krangar, belum akan pulang kampung ke negaranya. Namun mereka tetap akan pulang kampung.
Liga 1 Awal 2021, PSS Sleman Pertanyakan Status Kompetisi
PSSI memutuskan kelanjutan Liga 1 dan Liga 2 musim 2020 dilaksanakan awal tahun 2021. Klub PSS Sleman mempertanyakan status kompetisi itu.
0
27 Juta Suntikan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia
Vaksinasi yang dilakukan pemerintah hingga Senin, 31 Mei 2021, akan mencapai angka 27 juta suntikan vaksinasi