UNTUK INDONESIA
Tagar #JusticeForAudrey Viral, Ini Kata Pengamat Sosial
Psikolog sekaligus pengamat sosial menyoroti begitu cepatnya tagar #JusticeForAudrey viral di media sosial.
Audrey, diduga dikeroyok secara sadis oleh 12 siswi SMA. (Foto: Instagram/@its.chelsy)

Jakarta - Psikolog sekaligus pengamat sosial Bona Sardo Hasoloan Hutahaean menyoroti begitu cepatnya tagar #JusticeForAudrey viral di media sosial. Tagar itu diketahui berisi informasi dan komen tentang kasus perundungan siswi SMP Audrey dengan pelaku rata-rata masih SMA.

Bona Sardo menyebut, efek "lebih" dalam sebuah isu atau berita, secara umum dapat memantik sisi emosional seseorang.

Hal itu dinilai sebagai salah satu unsur yang menyebabkan cepatnya saling sebar berita antar warganet, tanpa berusaha melakukan pencarian informasi yang lebih mendalam terlebih dulu.

"Ini sama saja dengan seperti yang orang dulu bilang, bahwa gosip itu digosok makin sip," kata Bona Sardo kepada Tagar News, Kamis (11/4).

"Jadi kalau memang satu narasi, atau satu hal itu dikemukakan oleh satu orang, kemudian disampaikan ke orang lain dan orang lain ini menanggapi dengan heboh, maka bisa berbahaya," lanjutnya.

Atta HalilintarYoutuber tekenal Indonesia, Atta Halilintar (kiri) menjenguk Audrey di rumah sakit. (Foto: Instagram/attahalilintar)

"Karena yang lebih memengaruhi keputusan itu kan emosi, bukan nalar lagi. Jadi karena sudah emosional duluan, maka yang dilakukan adalah keputusan sesuai dengan emosinya. Mendingan saya sebar. Ini gila loh beritanya, ini gila, jahat dan lain sebagainya tanpa proses pencarian informasi lebih lanjut," lanjutnya.

Staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu juga menilai, munculnya fenomena selebriti media sosial seperti selebgram, selebtwit, atau yang lebih dikenal dengan sebutan influencer, juga memiliki pengaruh besar atas penyebaran tagar #JusticeForAudrey.

Bona Sardo juga menyarankan agar masyarakat pandai menyaring informasi dari keluar dari sosok influencer panutan. Di sisi lain, dia juga mengajak para Influencer untuk mulai ikut mengedukasi pengikut mereka di media sosial.

"Kita memang harus agak selektif juga loh membaca atau menyaring info dari selebgram-selebgram itu. Mereka mungkin adalah influencer yang baik ya dalam hal mempromosikan barang-barang yang diendorse, tapi kalau untuk hal-hal yang lain?" paparnya.

"Ini kan info krusial (kasus Audrey), ini benar atau tidaknya ini bagaimana? Kalau misalnya memang mereka menyadari diri sebagai selebgram atau influencer, yaa mari dong sama-sama juga mengajarkan untuk berpikir kritis. Hati-hati loh," tegas dia.

Sebelumnya, tagar dan petisi  #JusticeForAudrey yang digelorakan warganet hingga menjadi trending topic dunia. Tagar berisi informasi mengenai kasus penganiayaan seorang siswi SMP oleh 12 siswi SMA itu, bahkan terdengar hingga ke telinga Presiden Joko Widodo.

Belakangan diketahui, informasi yang meliar di linimasa berbagai media sosial itu ternyata berbeda dengan kondisi yang sebenarnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy bahkan menyayangkan kejadian tersebut.

Mendikbud menjelaskan isu yang viral di medsos menyebut korban dikeroyok 12 pelaku dan merusak area sensitif korban. Isu itu ditegaskan Mendikbud tidak benar. Dirinya juga meminta para kepala sekolah bertanggung jawab dan memberikan informasi yang benar.

"Kasus ini sangat disayangkan dan tidak seperti yang viral di medsos. Setelah saya mendapat informasi langsung dari Kapolresta Pontianak Kompol Muhammad Anwar Nasir," kata Muhadjir Effendy di Pontianak sebagaimana dilansir Antara, Kamis (11/4).

"Maaf, nalar sehat mestinya korban bisa meninggal kalau isu tersebut benar. Mohon kerja sama kepala sekolah untuk meredam masalah ini dan memberikan informasi yang benar, baik pada media maupun melalui medsos," tandasnya.

Baca juga: 

Berita terkait
0
Teror Tuyul di Kampung Panranga Bantaeng
Cerita tentang tuyul Panranga Bantaeng berawal dari keluhan ibu-ibu di sana. Satu persatu dari mereka merasa resah setiap kali kehilangan uang.