Jakarta, (Tagar 11/4/2018) – Parinah menulis surat dalam situasi tertekan dalam penyekapan selama 18 tahun di rumah majikannya di London.

Dalam surat Parinah mengatakan, “Assalaamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh. Salam buat Bapak, Simbok dan keluargaku. Pertama Lina (Parinah) minta maaf. Dan selanjutnya aku minta tolong pada Bapak atau keluarga. Lina (Parinah) benar-benar minta tolong. Secepat mungkin. Karena aku dalam kesusahan selama ini, maaf Bapak karena aku dalam....

Aku tidak bisa berkata-kata banyak, nanti kalau aku sudah bisa kembali ke Indonesia, (akan) aku ceritakan semua, yang penting sekarang tolonglah anakmu, Pak. Secepatnya. Salam buat Sunarti, Parsin, Nurkhamdan. Kalau aku masih punya suami, salam buat suamiku. Salam untuk keluarga semua. Lina (Parinah) menderita sekali.”

Parinah menujukan surat itu ke keluarganya di Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, Jawa Tengah.

Pada 18 Januari 2018 Parinah berhasil menyerahkan surat itu ke 'Royal Mail' untuk dikirim pulang dengan biaya 7,25 poundsterling. Berbulan-bulan ia menunggu, menimbang-nimbang, apakah suratnya akan membawa pertolongan atau akan kandas seperti surat lain yang dikirimkannya pada 2005 lalu.

Surat itu sampai di tangan keluarganya, kemudian dua anaknya, Parsin dan Nurkhamdan melaporkan nasib ibunya pada pihak berwenang hingga akhirnya Parinah bisa diselamatkan. (sa)