Sosiolog UGM: Kebohongan Heriyanti Bukan Tanpa Alasan

Kabar keluarga Akidi Tio akan menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19 pada awalnya membuat banyak simpati yang pada akhirnya itu bohong.
Heriyanti anak Akidi Tio. (Foto: Tagar/Brata)

Jakarta - Kabar keluarga Akidi Tio akan menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19 pada awalnya membuat banyak orang terbelalak kagum, puja-puji mengalir deras. Sampai kemudian rencana menyumbang itu ternyata bohong. Pujian dan sanjungan berganti menjadi caci- maki hujatan.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru meminta agar Heriyanti yang merupakan anak Akidi Tio dihukum secara tegas karena telah menimbulkan kegaduhan. 

Sebelumnya Heriyanti pada Senin, 26 Juli 2021, menyerahkan secara simbolis bantuan Rp 2 triliun untuk menangani Covid-19 kepada Kapolda Sumatera Selatan Irjen Eko Indra Heri. Namun, setelah dilakukan penyelidikan, bantuan tersebut ternyata penipuan.


Jika dilihat dari masyarakat nilainya sangat besar 2 triliun dan dipuji oleh semua orang tetapi begitu ketahuan mungkin bisa saja bohong dan di tangkap polisi yang dari pujian menjadi caci maki secara drastis.

SupraptoSosiolog Univeristas Gajah Mada Suprapto saat diwawancarai Cory Olivia di kanal YouTube Tagar TV. (Foto: Tagar/Azzahrah)SupraptoSosiolog Univeristas Gajah Mada Suprapto saat diwawancarai Cory Olivia di kanal YouTube Tagar TV. (Foto: Tagar/Azzahrah)

Melihat fenomena ini, Sosiolog Univeristas Gajah Mada Suprapto buka suara dengan mengatakan sebenarnya kebohongan itu terjadi dalam mata sosiologi karena seseorang mempunyai keinginan naik ke permukaan. 

Seperti, seseorang akan naik ke permukaan agar bisa dikenal lalu dia akan membuat sebuah sensasi dari pernyataan yang terkadang kala akibatnya tidak difikirkan bahwa hal tersebut akan berdampak pada dirinya. Sontak hal tersebut membuat masyarakat yang memuji menjadi murka dan memberi cacian atas tindakannya.

“Jika dilihat dari masyarakat nilainya sangat besar 2 triliun dan dipuji oleh semua orang tetapi begitu ketahuan mungkin bisa saja bohong dan di tangkap polisi yang dari pujian menjadi caci maki secara drastis," ujar Suprapto saat diwawancarai Tagar TV, Selasa, 3 Agustus 202

Menurut Suprapto dari perspektif sosiologis berada dalam 4 tahap, pertama seseorang dapat memahami dirinya, kedua mampu mengendalikan dirinya, ketiga memahami orang lain, dan ke empat mampu mengendalikan orang lain.

“Masyarakat indonesia dan juga pelaku Heriyanti kelihatan hanya berada pada tahap pertama, meskipun tidak semua masyarakat seperti itu tapi memang banyak kemungkinan kemudian mudah ter-resonansi dan transparansi kemudian menyebar dan masyarakat langsung memuji tanpa melakukan recheck dahulu dan ketika itu terjadi sebaliknya maka akan terjadi caci makian sebelum melihat kenyataan yang ada," ucap Suprapto.

Heriyanti anak dari Akidi Tio yang awalnya semacam menjadi inspirator di tengah pandemi tiba-tiba membuat keonaran bahkan terancam penjara.

“Dia belum memiliki kedewasaan emosional yang tinggi, dia tahu ada resiko namun dia tidak tahu resikonya yang akan sedemikian besar," katanya.

Dalam akhir wawancara di YouTube Tagar TV Suprapto ingin masyarakat indonesia hendaknya mencari tahu terlebih dahulu tentang kebenaran informasi yang didapat dan jangan mudah percaya dengan informasi yang beredar. 

(Azzahrah Dzakiyah Nur Azizah)

Berita terkait
PPATK: Bilyet Giro Rp 2 Triliun Milik Akidi Tio Tidak Ada
PATK telah curiga mengenai sumbangan hingga Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 dari keluarga Akidi Tio.
Pernyataan PPATK Soal Uang Rp 2 Triliun Milik Akidi Tio
PPATK, menurut Ediana, sudah curiga sejak awal adanya informasi sumbangan Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 dari keluarga Almarhum Akidi Tio.
Keraguan PPATK Soal Uang Rp 2 Triliun Milik Akidi Tio
PPATK mengungkapkan pihaknya masih akan melakukan penelusuran di lapangan terkait sumbangan Rp2 triliun itu.
0
Sosiolog UGM: Kebohongan Heriyanti Bukan Tanpa Alasan
Kabar keluarga Akidi Tio akan menyumbang Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19 pada awalnya membuat banyak simpati yang pada akhirnya itu bohong.