Jakarta - Siang ini, terik matahari seakan sedang di ubun-ubun, mengiringi perjalanan Tagar menyusuri Jalan Dewi Sartika. Belok ke kiri memasuki Jalan Arus di kawasan Cawang, Jakarta Selawan. 

Sekitar 100 meter, berdiri gedung bertingkat berlogo bumi berisi satu keluarga ibu bapak dan kedua anak sedang mengangkat sepasang tangan dibawahnya bertuliskan CUBS. Kantor Koperasi simpan pinjam bernama Credit Union Bina Seroja.

Kendaraan diparkir di tempat parkir kebetulan berada tepat di bawah gedung. Seolah tak mau kalah, seorang petugas keamanan langsung berdiri dan menanyakan maksud dan tujuan kedatangan. Langsung saja Tagar mengutarakan maksud dan tujuan mewawancarai pejabat berwenang untuk bertanya tentang Koperasi di momen Hari Koperasi Nasional.

"Silahkan duduk dulu mas," kata Sutopo sambil menunjukkan tempat duduk tunggu tak jauh dari tempatnya.

Sutopo dengan buru-buru menyambar gagang telepon di meja kerjanya, melaporkan kepada manajer. Tak lama setelah duduk, ia segera menghampiri mengabarkan jika bersedia diwawancarai di ruangannya. Seketika berdiri, dituntun Sutopo menuju lantai dua dengan menaiki tangga satu per satu, meskipun ada fasilitas lift.

Kantor koperasi ini berbeda, jauh dari kesan biasa saja. Kantor CUBS terlihat modern, megah dan bersih. Memasuki lantai dua, langsung di arahkan menuju ruangan besar. 

Seorang wanita cantik berdiri sambil senyum, setelah Sutopo keluar, segera wanita itu meminta duduk dan memperkenalkan diri.

"Saya Wahyu Yuyun Sihotang, biasa dipanggil Yuyun. Saya manajer di Credit Unio Bina Seroja," ucapnya seolah sudah siap menerima pertanyaan-pertanyaan kami.

Awalnya Hanya Untuk Jemaat Gereja

Dengan perlahan, Yuyun bertutur CUBS berdiri pada 10 Agustus 1985. Diinisiasi oleh Seksi Sosial Paroki yang merasa prihatin dengan kondisi umatnya membutuhkan pinjaman uang.

Pasalnya, sebelum ada koperasi, jemaat sering meminjam ke Gereja, tidak sedikit yang tidak mengembalikan pinjaman. Alasannya, uang Gereja adalah uang umat sehingga tidak perlu dikembalikan.

Kondisi itu membuat Seksi Sosial Paroki kemudian bertekad mendirikan koperasi untuk para jemaat. Soal pemilihan nama, Bina Seroja sebenarnya singkatan dari Bidara Cina, suatu wilayah menunjukkan lokasi Gereja. Sedang, Seroja ialah Sehat Rohani Jasmani.

"Diharapkan Bina Seroja ini bisa terus sehat, terus sampai selamanya," ucapnya.

Pada deklarasi pembentukan, dihadiri 40 orang untuk mengikuti pelatihan. Namun hanya 21 orang yang berkomitmen ikut membentuk koperasi. Jumlah tersebut mencukupi syarat membentuk koperasi sesuai undang-undang harus memiliki 20 orang anggota.

Pada 1998 CUBS memindahkan kantornya di Jalan Arus, kemudian membuka pendaftaran keanggotaan secara umum. Hingga kini, memiliki asset mencapai Rp 101,6 miliar dengan anggota sekitar 7.600 orang.

"Kita memiliki 15 unit pelayanan yang tersebar di seluruh wilayah Jabodetabek," ucapnya lagi.

Cara Pengembangan CUBS

Yuyun menjelaskan bagaimana cara CUBS bisa berkembang seperti sekarang. Ia menilai koperasi harus kreatif dalam merekrut anggota, karena mindset masyarakat soal koperasi tidak seperti bank. 

Bank mungkin sudah banyak diketahui masyarakat sementara koperasi perlu penjelasan lagi menjelaskan sistem kerjanya.

Setidaknya ada sejumlah program yang dilakukan oleh CUBS untuk menggaet anggota. Pertama, ada Program Member Gate Member, jadi anggota menarik anggota lain. Entah rekan kerja saudara atau siapapun. 

Kedua, Member Gate Family, anggota mengajak keluarga inti seperti suami, istri, anak, dll. Dan terakhir ada Program Promosi ke beberapa instansi, perusahaan, juga sekolah-sekolah.

Pastinya ada reward untuk anggota yang mereferensikan calon anggota baru, kami memberikan biasanya per satu orang 10 ribu. Tetapi itu berlaku 3 orang, jadi kalau sudah 3 orang kita kasih 30 ribu dan berlaku kelipatan.

Sementara untuk Member Gate Family akan diberikan reward berbeda, digratiskan uang pangkal sebesar Rp 50.000, dan mendapat subsidi iuran bulanan selama sebulan sebesar Rp. 50.000.

Selain itu, CUBS juga menawarkan sejumlah jenis simpanan sesuai dengan keinginan calon anggota. Ada Simpanan Saham dengan simpanan wajib Rp 50.000 per bulan mendapat deviden dan tidak bisa ditarik. 

Ada Sidarta (Simpanan Solidaritas Anggota) yang bias ditarik sewaktu-waktu minimal pembukaan Rp. 10.000 dan tabungan bulanan Rp. 5000 dengan bunga 2,5 persen per tahun. Kemudian ada SiYouC (Simpanan Yiuth CUBS) untuk remaja. Ada juga untuk anak-anak SIYUBI (Simpanan Yunior Bijaksana).

Banyak Rentenir Berkedok Koperasi

Biasanya rentenir yang berkedok koperasi itu agresif dalam menawarkan jasanya. Seolah target sebisa mungkin dijadikan pasiennya. Selain itu, menawarkan kemudahan dalam meminjam, ujung-ujungnya menipu dengan bunga yang mencekik.

Di ponselnya pernah ada SMS menawarkan pinjaman dengan mudah, setelah ditanggapi dan di cari tahu sistemnya, ternyata mendapatkan pinjaman sangat mudah dan cepat, ujung-ujungnya bunga sangat besar.

Pernah suatu waktu ada korban rentenir berkedok koperasi datang mendaftar menjadi anggota CUBS. Dengan senang hati pihaknya sigap membantu. Ia mengaku tidak ingin ikut campur pada persoalan rentenir yang berkedok koperasi, karena tugasnya adalah memberikan penjelasan kepada anggota agar tidak mudah tertipu rentenir berkedok koperasi di luar.

Bahkan, nama CUBS pernah dicatut namanya digunakan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menipu orang, dan sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Namun kasusnya menguap sampai sekarang.

Perbedaan Bank dan Koperasi

Dari segi kepemilikan, Bank hanya dimiliki oleh satu atau dua owner. Tetapi koperasi dimiliki oleh seluruh anggota. Begitupun prosesnya pendiriannya, koperasi harus ada minimal 20 orang anggota sementara Bank cukup satu, dua orang saja.

Dasi sisi modal, kalau perusahaan itu lebih kepada banyak jumlah uang. Sedangkan koperasi modal utamanya anggota. Terakhir dari sisi regulasi, Bank berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kalau koperasi berada di Kementerian Koperasi dan UMKM.

Harapan Kedepan di Hari Koperasi Nasional

Yuyun berharap Pemerintah lebih memerhatikan kembali regulasi pajak koperasi. Karena jelas koperasi berbeda dengan perusahaan. Perusahaan murni mengejar profit, tetapi koperasi yang pertama dikejar ialah pelayanan kepada anggota. Jadi, hendaknya pajak koperasi dan perusahaan tidak pukul rata.

Berharap Pemerintah berpihak kepada koperasi. Karena, Koperasi itu cukup membantu perekonomian Indonesia, mungkin masih dipandang sebelah mata.

Kemudian, Koperasi harus mengikuti perkembangan zaman dengan memutakhirkan pelayanan sesuai era digital saat ini.

Pinjam di Koperasi Lebih Mudah

Sugiharti, 46 tahun, sudah menjadi anggota sejak 2017, mengakui jika meminjam di koperasi lebih mudah dan cepat pencairannya. Intinya persyaratan lengkap, pinjaman bisa segera didapat.

"Ini pinjam untuk beli motor N-Max," katanya.

Ia memutuskan untuk menabung di koperasi setelah sebelumnya juga pernah menabung di salah satu bank nasional.

Hal senada juga disampaikan Kuasa Sinaga, 53 tahun yang ditemui saat mengurus pinjamannya untuk merenovasi rumahnya di kawasan Pasar Rebo. Untuk merenovasi rumah, Kuasa meminjam uang sebesar Rp 40.000.000.

Ditanya mengapa memilih menabung dan meminjam di koperasi, Kuasa berujar jika di koperasi bunganya lebih rendah daripada bank pada umumnya. 

"Ini kedua, sebelumnya pernah pinjam juga untuk renovasi rumah," kata anggota CUBS yang bergabung sejak 2015 itu. []