Sepak Bola Jerman dan Tren Perpindahan Kewarganegaraan

Deretan talenta muda terbaik bakal tampil di Piala Dunia musim panas ini
Malik Tillmann tidak akan mewakili Jerman di Piala Dunia musim panas ini, melainkan akan mengenakan seragam tim nasional Amerika Serikat (Foto: dw.com/id - Revierfoto/IMAGO)

TAGAR.id – Semakin banyak pemain sepak bola muda Jerman memilih negara lain daripada membela tim nasional Jerman. Direktur DFB, Andreas Rettig, berupaya mengubah tren tersebut dan mengusulkan diberlakukannya biaya kompensasi. Thomas Klein melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 2 Juni 2026).

Deretan talenta muda terbaik bakal tampil di Piala Dunia FIFA 2026 musim panas ini. Di antara mereka adalah Ibrahim Maza dan Malik Tillman dari Bayer Leverkusen, Can Uzun dari Eintracht Frankfurt, serta Josip Stanisic dari Bayern München yang baru saja meraih gelar ganda di kejuaraan domestik. Pun Kenan Yıldız dari Juventus dan Paul Wanner dari PSV akan turun bersama timnas. Tapi meskipun mereka lahir atau menjalani sistem akademi di Jerman, tak seorang pun akan bermain untuk Jerman di panggung sepak bola terbesar dunia pada musim panas ini.

Mereka semua memiliki kewarganegaraan ganda dan memilih berkostum Turki, Aljazair, Amerika Serikat, Kroasia, atau Austria. Pilihan mereka untuk tidak membela Jerman dipengaruhi berbagai faktor, seperti alasan teknis di lapangan, emosional, keluarga, atau harapan untuk mendongkrak karier. Kondisi ini telah mengguncang Direktur Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) Andreas Rettig.

Salih ÖzcanSalih Özcan adalah salah satu pemain muda Jerman dengan jumlah penampilan terbanyak sepanjang sejarah, tetapi sekarang mewakili Turki (Foto: dw.com/id - Mutsu Kawamori/AFLOSPORT/IMAGO)

Apakah talenta muda terbaik Jerman lebih memilih bermain untuk negara lain?

Sebagian besar pemain yang disebutkan di atas merupakan pemain inti di klub masing-masing, bahkan beberapa di antaranya termasuk yang terbaik di posisinya. Menurut Rettig, para pemain tim nasional kelompok usia menghabiskan antara 50 hingga 70 hari setiap tahun dalam program pembinaan DFB. Mereka berpotensi memainkan peran penting bagi tim nasional Jerman.

“Lebih dari 40 persen anak-anak berusia di bawah lima tahun di Jerman memiliki latar belakang migran. Kondisi ini memberi mereka pilihan untuk menentukan negaranya,” kata Rettig kepada DW.

Dia khawatir angka tersebut akan menyebabkan meningkatnya jumlah pemain internasional potensial yang ingin berpindah kewarganegaraan.

“Kita harus menyikapi persoalan ini dengan serius agar tidak sampai berada dalam situasi ketika banyak pemain yang dibina di sini justru mencari peluang di tempat lain,” ujar Rettig.

Andreas RettigAndreas Rettig (kanan) prihatin dengan perkembangan "perpindahan kewarganegaraan" dalam sepak bola (Foto: dw.com/id - Bernd Feil/MIS/IMAGO)

Tren yang salah arah

Tahun lalu, Rettig memperkenalkan gagasannya mengenai skema “kompensasi pembinaan” untuk mengubah situasi saat ini.

“Pembinaan harus memberikan hasil, baik bagi pemain yang dibina maupun pihak yang membinanya,” tegas pria berusia 63 tahun itu. “Saya ingin kita mengembangkan sistem yang memberikan kompensasi atas proses pembinaan, di mana kita bisa menginvestasikan kembali kompensasi pelatihan tersebut untuk pengembangan sepak bola akar rumput.”

Gagasannya cukup sederhana. Biaya pembinaan setiap pemain per hari akan dihitung secara rinci dan menjadi dasar pengajuan kompensasi. Informasi tersebut akan disampaikan secara transparan kepada seluruh pihak terkait sehingga dapat menjadi faktor penghambat bagi negara-negara yang merekrut pemain hasil pembinaan negara lain.

Rettig menegaskan bahwa tujuannya bukan sekadar memperoleh kompensasi finansial bagi DFB, melainkan memberikan manfaat bagi dunia sepak bola secara keseluruhan.

“Kita perlu meningkatkan kesadaran bahwa setiap federasi harus berinvestasi dalam pembinaan pemain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa beberapa federasi sepak bola nasional saat ini “menghabiskan lebih banyak uang, waktu, dan tenaga untuk mencari pemain daripada membina pemain mereka sendiri.”

Menurut Rettig, tren tersebut bergerak ke arah yang salah. Ia berharap sistem kompensasi pembinaan yang transparan dapat mengurangi praktik tersebut sekaligus mendorong investasi yang lebih besar dalam pengembangan pemain muda di dalam negeri.

Perpindahan kewarganegaraan harus dipertimbangkan secara matang

Persoalan perpindahan kewarganegaraan pemain telah memicu perdebatan besar di internal DFB. Beberapa pemain yang menjadi sorotan antara lain Ibrahim Maza yang telah 13 kali membela tim nasional junior Jerman tetapi kemudian memilih untuk membela Aljazair, Malik Tillman yang mengoleksi 21 penampilan bersama tim muda Jerman sebelum memperkuat Amerika Serikat, atau Salih Özcan yang tampil sebanyak 61 kali untuk tim nasional junior Jerman tetapi akan membela Turki di Piala Dunia.

Meski demikian, Rettig menegaskan bahwa ia menghormati setiap keputusan, selama keputusan tersebut tidak diambil secara tergesa-gesa.

"Kami tidak mengatakan bahwa elang di dada lebih penting daripada bulan sabit atau simbol nasional lainnya,” jelas Rettig. "Saya hanya ingin menyampaikan satu hal penting: keputusan (berganti kewarganegaraan) tidak boleh semata-mata didasarkan pada pertanyaan, ‘Di mana saya bisa lebih cepat mendapatkan waktu bermain?'”

Menurutnya, yang lebih penting adalah memberikan prospek jangka panjang yang meyakinkan.

"Saya tidak percaya bahwa kita sebaiknya menawarkan mimpi yang tidak realistis kepada para pemain muda terlalu dini,” kata Rettig.

Lagi pula, perkembangan seorang pemain jarang berjalan linear. Tidak semua pemain bisa tampil di final Liga Champions atau final Piala Dunia pada usia 17 tahun. Karena itu, Rettig berharap para pemain memiliki kesabaran lebih ketika mempertimbangkan pergantian kewarganegaraan.

Nathaniel BrownNathaniel Brown sebenarnya bisa bermain untuk timnas AS, tetapi ia memilih Jerman (Foto: dw.com/id - Frank Hoermann/Sven Simon/IMAGO)

Keputusan harus datang dari hati

"Bermain untuk negara sendiri adalah pencapaian tertinggi yang diimpikan seorang pemain,” ujar Rettig.

"Keputusan tersebut harus lahir dari hati, yakni untuk memilih negara yang memiliki ikatan emosional paling kuat dengan dirinya.”

Tujuan utama DFB adalah menciptakan kondisi di mana para pemain muda yang dibina dalam sistem mereka bahkan tidak lagi mempertimbangkan kemungkinan untuk berpindah ke asosiasi sepak bola negara lain.

"Kita perlu memperkuat ikatan emosional ini dan meningkatkan upaya pembinaan di semua kelompok usia,” kata Rettig kepada harian Kölner Stadt-Anzeiger.

Proposal ke FIFA jadi langkah selanjutnya

Agar rencana Rettig atau gagasan serupa dapat diterapkan, FIFA harus menetapkan aturan baru di tingkat global. Langkah berikutnya yang akan diambil DFB adalah mengajukan proposal tersebut secara resmi kepada badan sepak bola dunia itu.

Meski belum jelas kapan proposal tersebut akan diajukan, Rettig optimistis gagasannya akan mendapat pertimbangan yang layak. Pasalnya, Jerman bukan satu-satunya negara yang menghadapi fenomena "perpindahan kewarganegaraan" ini.

"Saya yakin FIFA juga tidak ingin melihat rasa keterikatan terhadap kompetisi yang mereka selenggarakan, serta nilai keseluruhan kompetisi tersebut, terkikis akibat semakin banyaknya perpindahan kewarganegaraan,” ujarnya. (Artikel ini diadaptasi dari artikel bahasa Inggris/Diadaptasi oleh Algadri Muhammad/Editor: Rizki Nugraha)/dw.com/id. []

Berita terkait
Lionel Messi Cetak Dua Sejarah Sepak Bola Sekaligus yaitu Rekor Assist Dunia dan Juara MLS Cup
Jadi juara MLS Cup untuk pertama kalinya dan pecahkan rekor assist sendiri yang kini pegang rekor terbaru 407 assist