Selera Rokok yang Terpaksa Berubah Akibat Pandemi

Sejumlah warga di Kabupaten Banyuwangi mengubah selera rokoknya dari rokok pabrikan menjadi rokok tembakau lintingan sendiri akibat pandemi.
Tembakau dan beberapa kertas rokok yang biasa disebut papir. (Foto: Tagar/Hermawan).

Banyuwangi – Secangkir kopi tersedia di meja, tepat di hadapan seorang pemuda berusia 25 tahun, Eko Widianto. Di samping secangkir kopi itu, satu kotak tembakau berukuran sedang menemaninya.

Pemuda yang sehari-harinya berprofesi sebagai pembuat konten video kreatif sekaligus pemilik penyewaan alat-alat video ini, meraih kotak tembakau tersebut. Aromanya cukup khas, dengan rajangan yang tidak terlalu kasar.

Di dalam kotak itu, selain gumpalan tembakau juga ada lembaran kertas berukuran kecil. Orang menyebutnya papir. Papir digunakan sebagai kertas pembungkus tembakau. Eko mengambilnya satu lembar.

Dia juga mengambil sejumput tembakau berwarna cokelat tua tersebut denganujung jari telunjuk dan jempol kanan. Sementara jemari tangan kirinya menahan sebagian tembakau agar tidak turut terambil.

Lalu eko memulai kegiatannya melinting tembakau menjadi sebatang rokok. Jemarinya tertlihat sudah terampil melinting. Dua pasang ibu jari dan telunjuknya lincah memegang kedua ujung kertas, kemudian dengan gerakan seperti memilin, dia mulai merapikan gulungan batang rokok itu.

Selera Berubah Akibat Pandemi

Sebenarnya cukup mengherankan jika seorang pemuda milenial seperti Eko memilih untuk merokok tembakau lintingan, sebab selain usianya yang masih muda, penghasilan Eko juga lebih dari cukup untuk membeli rokok buatan pabrik.

Terlebih selama ini Eko sering terlihat membeli sebungkus rokok buatan pabrik.

Setelah sebatang rokok selesai dilinting, Eko menyulutnya dengan korek api yang juga tergeletak tidak jauh dari kopi dan sekotak tembakau tersebut. Dia terlihat sangat menikmati tembakau llintingan itu saat asap putih tipis mengepul dari bibirnya.

Menurut Eko, sudah hamper enam bulan dirinya beralih dari rokok buatan pabrik ke rokok lintingan sendiri. Alasannya karena penghasilannya menurun cukup drastis selama pandemi Covid-19.

“Saya sudah 6 bulan ini rokok linting bako (tembakau) seperti ini. Karena harus melakukan penghematan di musim pandemi Covid-19 seperti saat ini. Jujur karena penghasilan saya menurun drastis. Sehingga jika tidak saya siasati seperti ini, hasil kerja saya habis saya gunakan untuk beli rokok di warung,”ujar Eko Widianto, Rabu siang, 26 Agustus 2020, saat ditemui di rumahnya, Desa Seraten, Banyuwangi.

Kata Eko, rokok lintingan lebih hemat berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan rokok buatan pabrik. Selama ini dia merokok dua bungkus per hari, jika dinominalkan, harganya mencapai Rp 50 ribu.

Berbeda dengan rokok lintingan. Dengan uang Rp 10 ribu dia sudah bisa merokok selama sepekan. “Kalau dibandingkan roko bako dengan roko pabrikan yang biasa saya beli di warung sangat jauh. Meski saya harus melinting terlebih dahulu, tapi bako bisa saya gunakan hingga satu minggu. Berarati saya bisa menghemat Rp. 340.000 untuk beli rokok, karena kan yang Rp. 10.000 saya ganti untuk beli Bako,” tambah Eko sembari tertawa.

Mengenai rasa, kata Eko, memang ada perbedaan, yakni rokok pabrikan memiliki rasa dan aroma yang berbeda untuk masing-masing merk. Sedangkan tembakau lintingan tidak memiliki rasa khas, tetapi aromanya sama seperti rokok pada umumnya.

Saya rasa sebenarnya sama sih, cuman yang membedakan aroma khasnya ya. Kalau rokok pabrikan itu kan dari merk rokok yang satu dengan yang lainya itu mempunyai aroma khas yang berbeda.

"Mungkin karena rokok pabrikan itu ada campurannya lagi ya dalam proses membuatnya. Kalau bako kan tidak ada murni rasa tembakau,” kata Eko.

Meski saat ini sudah beralih menjadi perokok tembakau lintingan, Eko mengaku sesekali masih mengonsumsi rokok buatan pabrik, sekadar untuk mengobati keinginannya.

“Terkadang saya masih beli rokok di warung, untuk mengobati rasa kangen, tapi kalau dulu sehari 2 bungkus, sekarang terkadang 1 bungkus bisa saya gunakan 2 hari. Bahkan ketika habis saya tidak beli lagi. Nanti selang beberapa hari jika kepingin baru beli lagi. Karena mungkin sudah terbiasa rokok bako ya.”

Tertarik Pada Cara Melinting

Selain Eko, pemuda lain yang juga menyukai tembakau lintingan adalah Taufik Ferdiansyah 28 tahun, warga Kelurahan Kelatak, Banyuwangi. Berbeda dengan Eko, Taufik, mengaku merokok tembakau lintingan karena tertarik pada cara orang-orang melinting.

Melinting tembakau menjadi sebatang rokok, menurutnya memiliki keasyikan dan keunikan tersendiri.

“Awalnya saya tertarik rokok bako, karena saya sering melihat orang-orang di kampung. Cara melintingnya hingga menjadi rokok yang siap untuk dinikmati itu penuh dengan seni kalau menurut saya. Karena tidak semua orang bisa kalau belum penah rokok bako. Saya saja belajar satu  bulan baru bisa melinting yang bagus,” ujur Taufik yang mengaku baru empat bulan menjadi perokok tembakau lintingan.

Cerita Rokok Tembakau Lintingan 2Tembakau dan beberapa kertas rokok yang biasa disebut papir. (Foto: Tagar/Hermawan).

Kata Taufik, saking tertariknya dengan rokok tembakau lintingan, dia sering menonton YouTube untuk melihat jenis-jenis tembakau yang enak.

“Ketika saya merokok bako, saya tidak hanya merokok saja, tapi saya juga mempelajari apa jenis-jenis tembakau yang bagus dan enak. Tujuanya agar saya merokok lebih puas,” kata dia.

Taufik mengaku, awalnya dia merasa aneh dengan rasa tembakau lintingan. Kemudian dia mencoba satu per satu bermacam jenis tembakau, mulai dari tembakau campa, tembakau paliran, tembakau gayoh hingga tembakau tambeng.

“Setelah saya mencoba beberapa jenis itu, akhirnya saya cocok dengan tembakau jenis tambeng. karena rasaya yang pas dengan selera saya, jadi lebih mantap. Awalnya memang baru pertama kali merokok jadi gatal-gatal terutama di tenggorokan. Mungkin baru pertama itu ya. Tapi karena terbiasa akhirnya tidak,” kata Taufik.

”Pasti lebih irit saya rasakan itu, sehingga istri juga tidak marah- marah lagi, karena saya boros beli rokok. Saat ini saya beli rokok Rp 10.000 sudah dapat banyak dan bisa saya gunakan untuk seminggu lebih,” tambah Taufik.

Taufik mengatakan, semenjak dia beralih menjadi perokok tembakau lintingan, dia tidak pernah membeli rokok buatan pabrik lagi. Bahkan saat bekerja, dia tidak malu-malu membawa tembakau ke tempat kerjanya. “Kenapa mesti malu, wong terkadang teman-teman saya kerja juga ikut rokok bako yang saya bawa. Cukup bako ini saja saya rokok sudah tidak pernah beli rokok pabrikan. Tapi masih belum bisa berhenti merokok,” ucap Taufik

Sama-sama Berbahaya

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Wiji Lestariono, semua jenis rokok sebenarnya sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh, terutama untuk kesehatan paru-paru dan jantung. Sebab rokok sering kali dicampur dengan cengkeh yang mengandung minyak atsin.

“Sebenarnya di istilah kesehatan semua jenis rokok itu sangat berbahaya untuk kesehatan. Tapi untuk rokok jenis kretek, terlebih lagi kita beli tembakaunya sendiri itu lebih berbahaya bagi kesehatan kita, terutama untuk kesehatan jantung dan paru-paru. Karena disitu mengandung minyak atsin dari cengkah. Terkadang kita tidak mengetahui hal itu, yang penting beli bako yang lebih murah, padahal lebih berbahaya,”ujar Wiji Lestariono.

Rio sapaan akrab Wiji Lestariono menambahkan, kandungan di dalam minyak atsin inilah yang dapat memicu timbulnya sel kanker jika dihisap terus menerus.

Meski demikian, rokok filter atau rokok pabrikan juga berbahaya. Sebab, menurutnya filter tidak menyaring kandungan berbahaya dalam rokok, melainkan hanya menyaring asap rokok agar rasanya lebih lembut.

“Ingat lho kandungan didalam minyak atsin dapat memicu timbulnya sel kanker jika terus menerus dihisap. Begitu juga dengan rokok filter sama berbahayanya, filter dalam rokok itu hanya untuk melembutkan asap rokok itu saja ketika dihisap pemakainya,”ucapnya. []

Berita terkait
Langkah Besar dari Dusun Terpencil di Banyuwangi
Seorang warga tamatan sekolah dasar di Banyuwangi mendirikan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan warga setempat.
Mama Muda di Bantaeng Raup Jutaan Rupiah dari Medsos
Seorang perempuan muda di Kaupaten Bantaeng meraup jutaan rupiah per pekan hanya dari berjualan daring melalui media sosial.
Perjuangan Siswa di Maros Cari Jaringan Internet
Warga Desa Cenrana Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan harus rela berjalan kaki sejauh empat kilometer untuk mendapat jaringan internet.
0
Dugaan Penipuan Jumlah Tes Covid-19 di Jerman
Dugaan penipuan jumlah tes Covid-19 di Jerman meningkat, otoritas keseharan Jerman membahas mekanisme kontrol jumlah tes