UNTUK INDONESIA
Selamatkan Jurusan Pekerjaan Sosial SMKN 15 Bandung
Jurusan Pekerjaan Sosial hanya ada SMKN 15 Bandung, Jawa Barat, tapi peminatnya naik-turun. Diharapkan Kemensos dan Pemprov Jabar ikut membantu
Pintu masuk gedung SMKN 15 Bandung nampak depan. (Foto: Tagar/Fitri Rachmawati)

Bandung – Mendengar kata ‘pekerjaan sosial’ tentulah banyak orang yang akan berpikir hal itu terkait dengan Kementerian Sosial RI atau orang-orang bekerja secara sosial, misalnya, di panti asuhan, dll.

Padahal, pekerjaan sosial yang akan dibahas justru salah satu jurusan di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri di Bandung yaitu Kompetensi Keahlian Ppekerjaan Sosial di SMKN 15 Bandung. Lagi-lagi membingungkan. Kejuruan selalu dikaitkan dengan keahlian di bidang teknik, pertanian, perhotelan dan tata boga.

Tahun Paling Berat

Kompetensi keahlian pekerjaan sosial yang ada di SMKN 15 Bandung ini memang mendidik siswa-siswi sebagai pekerja sosial. Sekolah ini ada di Jalan Gatot Subroto No 4, Bandung, Jawa Barat.

Sama seperti sekolah pada umumnya, SMKN 15 Bandung ini juga nampak ramai saat jam masuk, istirahat dan pulang sekolah. Tepat pukul 12.15, di saat jam istirahat penulis berkunjung ke sekolah itu.

Dari ruang tunggu tamu tampak di koridor pintu masuk utama ada dua siswi yang sedang makan dan minum sambil memainkan telepon genggam. Ada juga siswa-siswi yang berduan di pojok pekarangan sekolah. Di sisi kanan gedung sekolah ada ruangan perpustakaan dan mushala. Beberapa siswa salat. Ada juga yang tiduran sambil bermain telepon genggam.

SMKN-2Dewi Agustiningsih, Ketua Kompetensi Keahlian Pekerjaan Sosial SMKN 15 Bandung. (Foto: Tagar/Fitri Rachmawati)

Dewi Agustiningsih, Ketua Kompetensi Keahlian Pekerjaan Sosial, SMKN 15 Bandung, bercerita tentang jurusan pekerjaan sosial yang kian hari kian redup. “Seiring waktu jurusan pekerjaan sosial mulai ditinggalkan,” kata Dewi mengenang masa-masa pahit yang mereka hadapi.

Yang dia ingat pada tahun 2006 merupakan tahun yang paling berat bagi SMKN 15 Bandung. Peminatnya turun drastis. Untuk menyelamatkan sekolah, ditambah bidang dan program yaitu jurusan bidang keahlian pariwisata dan program keahlian akomodasi perhotelan.

Saat ini di SMKN 15 Bandung ada pembangunan ruang kelas baru (RKB) di gedung lama, gedung yang ada sejak zaman Belanda. Semua proses belajar mengajar dilakukan di gedung baru, tepat di depan dan samping gedung lama.

Menurut Dewi, SMKN 15 Bandung ini dulu bernama Kweek School Voor Onderwinzer dengan Bouwside yang dibangun oleh organisasi massa dan politik yang menghimpun masyarakat Indonesia, terutama kelompok pemuda di era Hindia Belanda atau yang dikenal dengan Indo Erupee Verbond (IEV) pada tahun 1919.

“Saya ke sini (jadi guru di SMKN 15 Bandung-red.) tahun 1994. Jurusan pekerja sosial saat saya ke sini sudah ada. Jurusan ini sudah lama dan berkali-kali ganti nama,” ujar Dewi saat ditemui di SMKN 15 Bandung, Rabu 9 Oktober 2019.

Dewi melanjutkan ceritanya, waktu masih bernama Kweek School Voor Onderwinzer, sekolah ini berada di Jalan Papandayan, Bandung, yang sekarang jadi Jalan Gatot Subroto. Di Jalan Papandayan sampai tahun 1952, tepatnya 15 Februari 1952, tujuh tahun pasca Indonesia merdeka. Kweek School Voor Onderwinzer berubah jadi Indoeenheidts Verbond atau Gabungan Indo Unit Kesatuan Indonesia (GIKI).

Masalah Sosial

Tak lama kemudian, pada 1 Mei 195, GIKI pun berubah kembali menjadi SGA atau Sekolah Guru Atas Negeri II Bandung. Hingga pada 22 April 1978, SGA Negeri II Bandung pun berubah menjadi SPG atau Sekolah Pendidikan Guru.

Lima tahun kemudian, tepatnya 1 September 1983, nama SGA Negeri II Bandung berubah kembali menjadi Sekolah Guru Olahraga (SGO) Negeri Bandung melalui SK Kakanwil Depdikbud Provinsi Jawa Barat No.114b/I02/Kep/R83.

Hingga akhirnya sekolah ini pun berubah menjadi Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial atau SMPS Negeri Bandung pada 1989. Pada 1989 inilah menjadi tahun pendirian jurusan pekerja sosial hingga saat ini. Perubahan dari SGO menjadi SMPS Negeri Bandung ini berdasarkan SK Mendikbud No. 0342/u/1989 pada 5 Juni 1989, dan SK Mendikbud No.0426/o/1991 pada 15 Juli 1991.

Kemudian, pada tahun 1997 muncul kebijakan semua sekolah kejuruan harus diubah namanya. Salah satunya, SMPS Negeri Bandung harus menjadi SMK Negeri 15 Bandung. Kebijakan baru tersebut sesuai dengan SK Mendikbud No.036/0/1997.

“Setelah 1997 sampai sekarang SMK Negeri atau SMKN 15 Bandung tidak ada perubahan nama lagi. Dari sejarah tadi, jadi jurusan pekerja sosial ini bisa dibilang muncul pada tahun 1989,” jelas Dewi.

Mengenai latar belakang pembentukan jurusan pekerja sosial ini, menurut Dewi, berawal dari paradigma mengenai masalah sosial yang akan terus berkembang. Sehingga dinilai perlu sumber daya manusia (SDM) khusus. Maka, pada 1989 dibuatlah sekolah atau jurusan pekerja sosial. Selain itu pada tahun 1989 atau 30 tahun yang lalu, jurusan ini pun paling diminati dan dianggap langka sekaligus diperlukan.

“Dan melihat prospek pun, waktu itu jurusan pekerja sosial sangat bagus. Tahun 1989 menjadi masa emas jurusan pekerja sosial,” kata Dewi. Pada tahun 2006, SMKN 15 Bandung akhirnya memiliki dua bidang dan program keahlian, yaitu bidang keahlian pekerjaan sosial dan pariwisata, serta program keahlian pekerjaan sosial dan akomodasi perhotelan.

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 2016 SMKN 15 Bandung kembali menambah dua paket keahlian yaitu, jasa boga dan multimedia. Keahlian ini dihadirkan selain kebutuhan industri, juga dinilai sebagai salah satu cara menyelamatkan SMKN 15 Bandung. Maka, pada tahun 2016, SMKN 15 Bandung memiliki empat bidang dan program keahlian, yaitu: bidang keahlian pekerjaan sosial dan pariwisata, program keahlian pekerjaan sosial, akomodasi perhotelan, tata boga dan multimeda.

Ganti Nama

Seiring banyaknya program, maka guru-guru yang sesuai dengan program pun mulai direkrut pada tahun tersebut. Sebelumnya, 30 tahun lalu (1989) sama sekali tak ada guru khusus untuk program, seperti pekerjaan sosial. “Sekarang sudah banyak guru, termasuk saya yang masuk 1994 mengajar untuk program pekerjaan sosial,” ujar Dewi.

Program (jurusan) pekerjaan sosial seiring waktu kurang diminati, dan Dewi mengatakan pihaknya sudah cukup keras berjuang. Dengan susah payah menjaring siswa-siswi agar masuk SMKN 15 Bandung. Dewi mengatakan pihak sekolah mendatangi SMP menjaring siswa-siswi agar memilih jurusan pekerjaan sosial.

SMKN-3Bilboard atau papan keterangan yang terpampang di depan gedung SMKN 15 Bandung. (Foto: Tagar/Fitri Rachmawati)

Dewi mengatakan mereka akan terus memperjuangkan SMKN 15 Bandung agar tetap bertahan. Dewi bersama guru-guru dan pihak terkait di SMKN 15 Bandung kerja keras dan berjuang untuk mempertahankan eksistensi SMKN 15 Bandung.

Berjuang agar program pekerjaan sosial sebagai program utama dan ciri yang melekat dari SMKN 15 Bandung tetap eksis. Dengan langkah itu, menurut Dewi, penurunan minat terhadap program atau jurusan ini diharapakan akan meningkat setiap ajaran baru.

Penambahan program memang menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan SMKN 15 Bandung hingga saat ini. Terutama untuk terus menghidupkan jurusan pekerjaan sosial. Hingga, sekitar 2018 program (jurusan) pekerjaan sosial diubah menjadi keperawatan sosial.

“Alhamdulilah, setelah nama diganti. Ada peningkatan jumlah siswa-siswi yang masuk ke jurusan ini,” kata Dewi dengan rasa syukur. Sekarang sudah ada 400 siswa. Kelas untuk keperawatan sosial ada 12 kelas. Setiap kelas 34 siswa.

Dewi menambahkan, meskipun SMKN 15 Bandung tidak memiliki pesaing untuk program pekerjaan sosial karena hanya ada SMKN 15 Bandung. Tapi, karena perubahan zaman sektor industri dan pangsa pasar turut berubah, terutama paradigma masyarakat soal pekerjaan sosial atau keperawatan sosial yang keliru. Jurusan atau program ini memang terancam hilang jika tidak ada dukungan dari pemerintah.

“Kita sadar diri kalau jurusan ini memang kurang diminati, meskipun sebenarnya jurusan (program) ini masih relevan dan potensial hingga saat ini. Karena kembali lagi ke permasalahan sosial yang akan terus berkembang hingga sampai kapan pun,“ ujar Dewi.

Saat ini, menurut Dewi, pihaknya perlu dukungan lebih dari pemerintah, terutama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Dewi berharap Pemprov Jabar membuka akses selebar-lebar dan mempermudah birokrasi kerjasama dengan SMKN 15 Bandung terutama untuk pengembangan dan program pekerjaan atau keperawatan sosial. Terutama, penyerapan alumni lulusan pekerjaan sosial atau keperawatan sosial.

“Jadi tak melulu Kementerian Sosial, tetapi Pemerintah Daerah yang diharapkan membantu kita juga, membantu agar jurusan ini tetap ada,” harap Dewi. []

Berita terkait
Siswa SMK di Jawa Timur Gagal Lagi Dapat Seragam Gratis
program pengadaan seragam gratis untuk SMA/SMK Jawa Timur telah mengalami dua kali kegagalan dalam proses lelang tender.
Pemprov Jabar Segera Dirikan SMK 4.0 di Purwakarta
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bertekad akan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) Jawa Barat yang siap menghadapi revolusi industri 4.0.
Misi Sosial Pekerja 61 Tahun Tiap Hari Naik Sepeda
Nano, terengah saat menunjukkan KTP-nya. 61 Tahun usianya, terselip misi dari rutinitasnya tiap hari naik sepeda ke kantor.
0
Terserang Flu Burung, Puluhan Ekor Ayam Dimusnah
Puluhan ekor ayam di Tegal dimusnakah karena positif terserang virus flue burung